Poros Informasi – Pemerintah baru saja mengumumkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Angka-angka yang disajikan cukup mengejutkan, memicu beragam spekulasi di kalangan ekonom. Apakah ini pertanda baik atau justru sinyal bahaya bagi perekonomian nasional?
Pendapatan Naik, Tapi…

Proyeksi pendapatan negara di tahun 2026 mencapai angka fantastis, yakni Rp3.147,7 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 9,8 persen jika dibandingkan dengan outlook tahun 2025. Namun, angka pertumbuhan ini perlu dilihat lebih cermat. Pertumbuhan sebesar itu, apakah sudah cukup untuk menutupi kebutuhan belanja negara yang terus membengkak?
Belanja Negara Menggila
Di sisi lain, belanja negara direncanakan mencapai Rp3.786,5 triliun. Meskipun hanya naik 7,3 persen dari outlook 2025, angka ini tetap signifikan dan menimbulkan pertanyaan. Apakah efisiensi anggaran sudah dimaksimalkan? Alokasi dana untuk sektor mana yang mengalami peningkatan signifikan? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab secara transparan oleh pemerintah.
Defisit yang Mengkhawatirkan
Perbedaan antara pendapatan dan belanja negara ini menghasilkan defisit anggaran yang cukup besar. Meskipun pemerintah belum secara resmi mengumumkan besaran defisitnya, selisih antara Rp3.147,7 triliun (pendapatan) dan Rp3.786,5 triliun (belanja) menunjukkan potensi defisit yang cukup mengkhawatirkan. Bagaimana pemerintah akan menutupi defisit ini? Apakah akan mengandalkan utang negara atau ada strategi lain yang lebih inovatif?
Menanti Detail dan Analisis Lebih Lanjut
Pengumuman RAPBN 2026 ini baru merupakan langkah awal. Publik masih menunggu penjelasan lebih detail mengenai alokasi anggaran untuk masing-masing sektor, strategi pembiayaan defisit, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang mendasari angka-angka tersebut. Para ekonom dan pengamat pasar modal pun akan segera melakukan analisis mendalam untuk menilai dampak RAPBN 2026 terhadap perekonomian Indonesia. Apakah RAPBN ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, atau justru akan menimbulkan risiko baru? Waktu yang akan menjawabnya.






