Terungkap! Jembatan 250 Meter Kunci Pemulihan Ekonomi Aceh Tamiang
Poros Informasi – Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra) bergerak cepat merespons dampak bencana di Aceh Tamiang. Sebuah inisiatif strategis berupa pembangunan jembatan perintis sepanjang 250 meter tengah disiapkan untuk memulihkan urat nadi ekonomi dan konektivitas wilayah yang terputus akibat banjir bandang dan longsor. Langkah ini diharapkan menjadi katalisator bagi kebangkitan ekonomi lokal pasca-bencana.

Strategi Cepat Tanggap Kemenko Infra
Staf Khusus Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Bidang Percepatan Pembangunan, Irjen Pol Arif Rachman, menjelaskan bahwa respons cepat adalah prioritas utama. "Atas instruksi Bapak Menko, kami segera mengerahkan dua tim ahli yang terdiri dari 26 personel. Mereka tidak hanya membawa bantuan logistik esensial, tetapi juga bertugas melakukan asesmen komprehensif untuk mempercepat penanganan di area-area paling kritis," ungkap Arif, seperti dilansir porosinformasi.co.id pada Minggu (28/12/2025). Fokus utama adalah memastikan distribusi bantuan dan pemetaan kebutuhan infrastruktur dapat berjalan efektif.
Urgensi Pemulihan Konektivitas
Rusaknya infrastruktur vital, terutama jembatan, telah memutus akses dan menghambat roda perekonomian lokal. Arif menegaskan, pemulihan konektivitas menjadi inti dari fase tanggap darurat. "Tanpa akses yang memadai, distribusi logistik, pergerakan masyarakat, dan aktivitas ekonomi akan lumpuh. Oleh karena itu, pembangunan jembatan perintis di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan bentang sekitar 250 meter, menjadi prioritas utama," jelasnya.
Jembatan Perintis: Solusi Jangka Pendek Berdampak Besar
Mengingat bentang jembatan yang mencapai 250 meter, melebihi standar untuk jembatan darurat sederhana, Kemenko Infra memilih solusi jembatan perintis. "Ini adalah solusi sementara yang cepat dan efektif untuk mengembalikan konektivitas. Jembatan ini dirancang agar dapat dilalui oleh pejalan kaki, kendaraan roda dua, dan gerobak pengangkut logistik," papar Arif. Dengan demikian, alur distribusi bantuan esensial dari Aceh Tamiang menuju Aceh Timur yang saat ini masih mengandalkan perahu karet, dapat segera beroperasi kembali dengan lebih efisien dan aman.
Implikasi Ekonomi dan Sosial
Pembangunan jembatan ini bukan sekadar upaya fisik, melainkan investasi strategis dalam pemulihan ekonomi masyarakat. Terbukanya kembali akses akan menghidupkan kembali pasar lokal, mempermudah petani dan pedagang mendistribusikan hasil bumi, serta mempercepat perputaran uang di wilayah terdampak. Selain itu, aspek sosial juga tak kalah penting, di mana mobilitas warga untuk bekerja, sekolah, atau mengakses layanan kesehatan akan kembali normal, mengurangi beban psikologis dan ekonomi yang ditimbulkan oleh isolasi.
Kemenko Infra berkomitmen penuh untuk memastikan proses pembangunan berjalan lancar dan cepat, sebagai bagian integral dari upaya pemulihan menyeluruh di Aceh Tamiang. Harapannya, jembatan perintis ini akan menjadi simbol ketahanan dan titik awal kebangkitan ekonomi masyarakat setempat.






