Poros Informasi – Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M. Juhro, memberikan pandangan mendalam mengenai strategi pengelolaan nilai tukar rupiah dalam uji kelayakan di Komisi XI DPR RI. Ia menekankan pentingnya menyelaraskan pergerakan rupiah dengan target makroekonomi pemerintah secara keseluruhan.
Rupiah Ideal: Lebih dari Sekadar Angka Pasar

Solikin menjelaskan bahwa BI menilai nilai tukar yang "sejalan dengan fundamental" bukan hanya berdasarkan angka di pasar uang. Lebih dari itu, nilai tukar harus mencerminkan kemampuan mata uang dalam mendukung pencapaian target-target utama ekonomi.
Menjaga Keseimbangan: Kunci Stabilitas Rupiah
"Nilai tukar yang ideal harus selaras dengan target pertumbuhan 5,4 persen, target inflasi 2,5 persen, dan upaya menjaga defisit," ujar Solikin.
Tarik Investor: Jurus Jitu BI di Pasar Keuangan
Solikin menyoroti bahwa nilai rupiah sangat dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran. Tantangan utama terletak pada pengelolaan impor dan pembayaran utang agar seimbang dengan ekspor dan aliran modal asing.
Daya Tarik Investasi: Instrumen Keuangan yang Dalam
Untuk menarik investor global, Solikin menekankan pentingnya pasar keuangan domestik yang memiliki instrumen yang beragam dan menarik.
"Investor tidak akan tertarik jika tidak ada pilihan investasi yang menarik. Inilah mengapa kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk sektor maritim dan sumber daya alam (SDA) menjadi penting. Kebijakan pemerintah terkait SDA, seperti penempatan DHE di Bank Himbara dengan bunga menarik selama 12 bulan, adalah terobosan yang harus kita kawal," jelasnya.
Pengembangan Instrumen Keuangan: Kunci Keberhasilan
Solikin menambahkan bahwa BI terus berupaya mengembangkan instrumen keuangan yang menarik bagi investor untuk menanamkan modal di Indonesia.






