Poros Informasi – Pasar kripto kembali dihebohkan dengan data on-chain terbaru yang menunjukkan fenomena langka: cadangan Bitcoin (BTC) di bursa terus menipis, mencapai level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Total Bitcoin Exchange Reserves kini hanya berkisar 2,74 juta BTC, sebuah angka yang memicu spekulasi hangat di kalangan analis tentang potensi "supply shock" yang bisa menjadi katalisator bagi reli harga baru.
Penurunan drastis cadangan BTC di platform perdagangan seringkali diinterpretasikan sebagai sinyal bullish yang kuat. Logikanya sederhana: semakin sedikit pasokan Bitcoin yang tersedia untuk dijual di bursa, semakin besar potensi kenaikan harga jika permintaan tetap stabil atau bahkan meningkat. Ini mengindikasikan bahwa investor cenderung memindahkan aset mereka dari bursa ke dompet pribadi atau ‘cold storage’ untuk tujuan penyimpanan jangka panjang, bukan untuk diperdagangkan dalam waktu dekat.

Mengapa Penurunan Cadangan Bitcoin Penting?
Fenomena berkurangnya Bitcoin yang tersedia di bursa memiliki dampak signifikan terhadap dinamika pasar. Ketika suplai likuid menipis, tekanan jual dari investor yang ingin merealisasikan keuntungan atau memangkas kerugian akan berkurang secara drastis. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi kenaikan harga, bahkan dengan volume pembelian yang moderat. Investor yang memindahkan BTC mereka ke penyimpanan pribadi menunjukkan keyakinan jangka panjang pada aset tersebut, mengurangi ketersediaan di pasar terbuka dan memperkuat narasi ‘hodl’.
Kilas Balik Sejarah: Pola yang Terulang
Sejarah pasar kripto mencatat bahwa pergerakan serupa sering mendahului fase-fase bullish signifikan.
2020: Pemicu Reli Besar
Menurut laporan dari Crypto Quant, pada periode Maret hingga November 2020, cadangan Bitcoin di bursa mengalami penurunan dari 3,27 juta BTC menjadi 2,9 juta BTC. Pengurangan likuiditas sisi jual ini secara signifikan mengurangi tekanan jual di pasar, dan tak lama kemudian, menjadi salah satu faktor pendorong utama di balik bull run masif pada tahun 2021 yang membawa Bitcoin ke puncak harga tertinggi sepanjang masanya. Ini menunjukkan bagaimana penarikan BTC dari bursa dapat secara efektif "mengeringkan" pasokan yang siap dijual.
2022: Menandai Titik Terendah Siklus
Contoh lain yang tak kalah menarik terjadi pada November 2022. Saat itu, cadangan BTC di bursa anjlok secara parabolik dari 3,52 juta BTC menjadi sekitar 3 juta BTC hanya dalam hitungan hari. Penurunan ekstrem ini bertepatan dengan fase ‘capitulation’ pasar, di mana banyak investor menyerah, dan kemudian secara luas diyakini sebagai penanda terbentuknya ‘bottom’ atau titik terendah siklus pasar Bitcoin sebelum memasuki fase pemulihan. Ini menunjukkan bahwa penarikan besar-besaran BTC dari bursa seringkali mengindikasikan bahwa investor besar melihat nilai di harga saat itu dan memilih untuk mengakumulasi.
Tren Terkini: Pengurasan Berkelanjutan Selama Dua Tahun
Fenomena penurunan cadangan Bitcoin di bursa bukan hanya kilas balik sejarah, melainkan tren yang sedang berlangsung secara konsisten dalam skala makro. Dalam dua tahun terakhir, data menunjukkan bahwa cadangan BTC di bursa telah terkuras dari sekitar 3,2 juta BTC menjadi 2,74 juta BTC saat ini. Angka ini menegaskan bahwa investor institusional maupun ritel semakin memilih untuk ‘hodl’ (menahan) aset mereka, memindahkannya dari lingkungan perdagangan yang volatil ke penyimpanan yang lebih aman dan jangka panjang. Ini secara efektif mengurangi suplai yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar terbuka.
Potensi "Supply Shock" dan Skenario ke Depan
Dengan cadangan Bitcoin yang berada di titik terendah, analis pasar semakin yakin bahwa pasar berpotensi memasuki fase ‘supply shock’. Kondisi ini terjadi ketika pasokan aset likuid di pasar sangat menipis, sehingga setiap peningkatan kecil dalam permintaan dapat memicu lonjakan harga yang jauh lebih signifikan dari biasanya.
Tim Riset porosinformasi.co.id menggarisbawahi pentingnya pola ini. "Secara historis, penurunan besar pasokan di bursa sering mendahului fase bullish," ujar mereka, merujuk pada contoh tahun 2020 dan November 2022. "Setup ini bisa membentuk ‘supply shock’ yang mendukung reli—namun hanya terjadi bila permintaan tetap stabil atau bahkan meningkat. Jika permintaan melemah, dampaknya bisa tertahan oleh sentimen ‘risk-off’ yang melanda pasar."
Pola ini menunjukkan bahwa investor tampaknya memilih untuk menahan aset dalam jangka panjang, bukan mempersiapkannya untuk dijual. Jika pola historis kembali terulang, penurunan besar cadangan bursa dapat menjadi fondasi bullish yang kuat untuk pergerakan harga Bitcoin berikutnya, terutama jika permintaan tetap bertahan atau mulai meningkat.
Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Menguat ke $70.682, Sentimen Pulih
Investasi dan trading kripto aman hanya di porosinformasi.co.id. Ikuti Google News Poros Informasi untuk update berita kripto dan unduh aplikasi trading Bitcoin & kripto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset, dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli. porosinformasi.co.id berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.






