Vitalik Buterin ‘Sentil’ Keras L2 Ethereum: Masa Depan Terancam?

Usman

Vitalik Buterin 'Sentil' Keras L2 Ethereum: Masa Depan Terancam?

Poros Informasi – Riset terbaru dari tim porosinformasi.co.id periode 2-6 Februari 2026 menyoroti kritik pedas dari salah satu pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, terhadap arah pengembangan ekosistem Layer 2 (L2). Buterin secara tegas menyatakan bahwa banyak proyek L2 yang masih sangat bergantung pada mekanisme terpusat kini dianggap kehilangan relevansi dan tidak sejalan dengan visi masa depan jaringan Ethereum yang sesungguhnya.

Kritik ini muncul di tengah kemajuan pesat penskalaan Ethereum L1 yang melampaui ekspektasi, dengan biaya transaksi yang semakin terjangkau. Kondisi ini membuat keberadaan Layer 2 Ethereum seolah-olah kehilangan arah dan tujuan awalnya. Bagi yang belum familiar, Layer 2 adalah solusi penskalaan yang dibangun di atas Ethereum (Layer 1 atau L1) untuk memproses transaksi lebih cepat dan murah, sambil tetap mengandalkan keamanan dasar Ethereum. Namun, Buterin menyoroti bahwa banyak L2 kini hanya "menjual nama" Ethereum tanpa benar-benar mewujudkan desentralisasi dan keamanan yang dijanjikan, diperparah oleh peningkatan kemampuan L1 yang semakin efisien.

Vitalik Buterin 'Sentil' Keras L2 Ethereum: Masa Depan Terancam?
Gambar Istimewa : news.tokocrypto.com

Kritik Tajam Vitalik: Desentralisasi L2 Mandek?

Vitalik Buterin dengan lugas menegaskan bahwa mayoritas proyek L2 masih berada di "Stage 0", sebuah fase awal di mana sistem belum sepenuhnya terdesentralisasi dan masih berada di bawah kendali tim inti pengembang. Dalam praktiknya, beberapa L2 masih mengadopsi skema multisig (multi-signature), sebuah mekanisme di mana beberapa kunci privat yang dipegang oleh tim pengembang diperlukan untuk menyetujui atau membatalkan transaksi krusial. Meskipun skema ini tampak aman karena memerlukan banyak persetujuan, kontrol substansial tetap berada di tangan manusia, bukan sepenuhnya diatur oleh smart contract yang transparan dan tak terbantahkan.

Ancaman Sentralisasi di Balik Janji Skalabilitas

Ketergantungan pada kontrol terpusat ini, menurut Vitalik, merupakan kontraproduktif terhadap etos desentralisasi yang menjadi inti dari teknologi blockchain. L2 seharusnya tidak hanya menawarkan kecepatan dan biaya rendah, tetapi juga mewarisi dan memperkuat prinsip-prinsip desentralisasi dari Ethereum L1. Jika tidak, maka L2 hanya akan menjadi versi terpusat yang lebih cepat, mengikis fondasi kepercayaan dan ketahanan jaringan yang esensial bagi ekosistem kripto.

Fragmentasi Likuiditas: Labirin Ethereum yang Kian Rumit

Permasalahan lain yang disoroti adalah proliferasi proyek L2 yang menyebabkan likuiditas tersebar dan terfragmentasi. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan kompleksitas penggunaan Ethereum dalam melakukan transaksi. Bayangkan skenario di mana Anda memiliki ETH di Arbitrum, namun ingin menukarnya dengan USDC di Optimism. Karena likuiditas yang terpisah, Anda harus melakukan bridging terlebih dahulu ke mainnet Ethereum, kemudian baru ke Optimism. Hal ini secara efektif mengubah ekosistem Ethereum menjadi serangkaian "multi-chain kecil" yang masing-masing memiliki likuiditas sendiri, membuat pengalaman transaksi menjadi lebih rumit dan memakan waktu.

Efisiensi Terkikis, Pengguna Terjebak Jaringan Terpisah

Insight dari tim riset porosinformasi.co.id menggarisbawahi bahwa fragmentasi ini justru membuat penggunaan Ethereum menjadi rumit dan mahal, terutama jika dibandingkan dengan kompetitor monolithic seperti Solana yang menawarkan pengalaman yang lebih simpel dan terintegrasi. Pengguna harus menavigasi berbagai jembatan dan biaya transfer, mengurangi efisiensi yang seharusnya menjadi nilai jual utama L2 dan berpotensi menghambat adopsi massal.

"Seleksi Alam" L2 Ethereum: Siapa yang Bertahan?

Sebagaimana dicatat oleh Insight Tim Research porosinformasi.co.id, Vitalik Buterin seolah mengisyaratkan adanya "seleksi alam" yang tak terhindarkan dalam perkembangan Layer 2. Ini adalah fase penyaringan alami di mana standar desentralisasi akan diperketat dan tuntutan keamanan berbasis kode menjadi keharusan mutlak. Proyek L2 yang gagal beranjak dari kontrol tersentralisasi akan semakin sulit mempertahankan legitimasi dan kepercayaan di mata komunitas maupun investor. Proses ini bukan berarti seluruh L2 akan musnah, melainkan akan mendorong inovasi menuju solusi yang benar-benar terdesentralisasi dan aman, yang pada akhirnya akan memperkuat fondasi Ethereum secara keseluruhan. Untuk detail lebih lengkap mengenai dinamika ekosistem Layer 2 dan Ethereum, Anda dapat merujuk pada laporan dari Tim Research porosinformasi.co.id.

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

Baca Juga

Ikuti Kami

Tags

Tinggalkan komentar