Poros Informasi – Langkah inovatif dan strategis ditunjukkan oleh Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Tony Setia Boedi Hoesodo, yang kini memilih Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai sumber energi utama bagi kendaraan pribadinya. Keputusan ini bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan sebuah demonstrasi nyata komitmen terhadap ketahanan energi nasional dan keberlanjutan lingkungan, sekaligus memberikan contoh konkret bagi masyarakat luas.
Inovasi Dual Fuel: Solusi Cerdas di Jalan Raya

Tony Setia Boedi Hoesodo telah melengkapi kendaraannya dengan converter kit canggih, sebuah teknologi yang memungkinkan sistem bahan bakar ganda (dual fuel). Artinya, mobilnya dapat beroperasi menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) maupun BBG secara bergantian. Fleksibilitas ini menjadi nilai tambah signifikan, di mana pengemudi dapat beralih mode bahan bakar hanya dengan menekan sebuah tombol di dekat kemudi, menawarkan kemudahan adaptasi sesuai kebutuhan perjalanan dan ketersediaan infrastruktur pengisian.
"Kami ingin memberikan contoh nyata bahwa pemakaian BBG adalah pilihan yang cerdas untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Tony dalam keterangannya kepada porosinformasi.co.id. Inisiatif ini selaras dengan visi pemerintah untuk diversifikasi energi dan mengurangi ketergantungan pada BBM, sekaligus mendorong adopsi energi yang lebih bersih dan efisien di sektor transportasi.
Keunggulan Ekonomis dan Lingkungan BBG
Dari sisi ekonomi, penggunaan BBG terbukti sangat menguntungkan. Tony menjelaskan, biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi BBG pada mobilnya jauh lebih hemat. "Kendaraan bisa mendapatkan penghematan biaya bahan bakar karena harganya yang terjangkau dan stabil yaitu Rp4.500 per liter, daya tempuh lebih jauh serta juga lebih ramah lingkungan," paparnya. Harga yang stabil dan kompetitif ini menawarkan prediktabilitas biaya operasional yang tidak dimiliki oleh BBM, yang harganya kerap berfluktuasi mengikuti dinamika pasar global.
Lebih dari sekadar penghematan, penggunaan BBG juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. Sebagai bahan bakar yang lebih bersih, BBG menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna dan emisi gas buang yang lebih rendah dibandingkan BBM, menjadikannya pilihan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Langkah yang diambil oleh pucuk pimpinan PGN ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi masyarakat luas untuk mempertimbangkan dan mengadopsi BBG, mendukung transisi energi menuju masa depan yang lebih hijau dan mandiri. Ini adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekonomi dan ekologi Indonesia.






