Poros Informasi – 19 Juli 2026 | Jakarta – Sejarah panjang mata uang fiat yang penuh gejolak dan penurunan nilai kembali disorot oleh tokoh visioner di dunia aset digital, Michael Saylor. Dalam sebuah analisis mendalam, Michael Saylor soroti 300 tahun sejarah fiat, Bitcoin disebut jadi solusi? Pertanyaan ini mengemuka seiring dengan riset terbaru yang menunjukkan betapa rapuhnya mata uang kertas dalam jangka panjang, sementara Bitcoin diposisikan sebagai alternatif yang berpotensi lebih stabil.
Chairman MicroStrategy ini membagikan temuan dari riset yang dilakukan oleh River, sebuah perusahaan layanan keuangan yang fokus pada Bitcoin. Riset tersebut menelusuri lebih dari 60 mata uang pemerintah sejak abad ke-18. Hasilnya cukup mencengangkan: rata-rata mata uang fiat hanya mampu bertahan sekitar 27 tahun sebelum akhirnya mengalami kehancuran atau kehilangan daya beli secara signifikan. Angka ini menjadi dasar kuat bagi Saylor untuk menegaskan pandangannya bahwa uang kertas memiliki kelemahan struktural yang inheren, yang tidak dimiliki oleh Bitcoin.
Menurut riset River, kejatuhan mata uang fiat seringkali disebabkan oleh dua faktor utama: hiperinflasi atau erosi daya beli dalam jangka panjang. Hiperinflasi, yang didefinisikan sebagai kenaikan harga lebih dari 50% dalam sebulan, telah menghancurkan beberapa mata uang paling terkenal dalam sejarah. Contoh nyata termasuk papiermark Jerman pada tahun 1923, pengő Hongaria pada tahun 1946, dan dolar Zimbabwe pada tahun 2008. Ketiga mata uang ini runtuh akibat lonjakan harga yang ekstrem dan hilangnya kepercayaan publik secara masif.
Namun, bahkan mata uang fiat yang dianggap lebih stabil pun tidak luput dari tren penurunan nilai. Riset River mencatat bahwa Dolar Amerika Serikat (USD) telah kehilangan sekitar 97% daya belinya sepanjang sejarahnya. Pound Inggris (GBP) bahkan lebih parah, dengan penurunan mencapai 99,7%. Yen Jepang (JPY) juga mencatat penurunan yang dramatis, kehilangan 99,9% daya belinya. Euro (EUR), yang relatif lebih muda, juga dilaporkan telah kehilangan sekitar 44% daya belinya sejak diluncurkan pada tahun 1999.
Penting untuk dicatat bahwa data ini merupakan sampel representatif dan bukan sensus penuh. Selain itu, banyak mata uang fiat sebelum tahun 1971 masih memiliki sebagian dukungan dari emas. Tahun 1971 menjadi titik krusial karena saat itulah Dolar AS secara resmi memutus hubungan terakhirnya dengan emas, menandai era mata uang fiat murni yang nilainya sepenuhnya bergantung pada kepercayaan dan kebijakan pemerintah.
Bitcoin sebagai ‘Digital Property’ dan Penyimpan Nilai Global
Dalam pandangan Michael Saylor, kelemahan fundamental mata uang fiat terletak pada sentralisasi kekuasaan dan potensi tak terbatas untuk mencetak uang. Hal ini dapat menyebabkan inflasi dan devaluasi yang terus-menerus. Sebaliknya, Bitcoin dirancang dengan prinsip yang berbeda. Dengan suplai yang terbatas dan jaringan yang terdesentralisasi serta sulit diubah, Bitcoin menawarkan alternatif yang menarik.
Saylor menekankan bahwa Bitcoin bukanlah alat pembayaran sehari-hari yang ideal, melainkan lebih tepat diposisikan sebagai aset digital langka yang berfungsi sebagai penyimpan nilai global atau ‘digital property’. Ia melihat Bitcoin sebagai modal global yang berpotensi membentuk fondasi sistem keuangan baru di masa depan. Pernyataan ini diperkuat oleh pandangannya bahwa ‘hard consensus’ adalah sistem kekebalan Bitcoin, di mana biaya transaksi menentukan ruang blok, node menetapkan kebijakan, penambang membangun blok, dan pemegang modal mengalokasikan sumber daya. Perubahan protokol membutuhkan keselarasan luar biasa, sehingga ide-ide buruk dapat digagalkan sebelum menjadi perubahan protokol yang merusak.
Lebih lanjut, Michael Saylor soroti 300 tahun sejarah fiat, Bitcoin disebut jadi solusi? bukan hanya tentang aset itu sendiri. Ia juga menyoroti peran penting perusahaan, institusi, sekuritas, dan teknologi yang memperkuat ekosistem Bitcoin sebagai bagian integral dari solusi. Saylor percaya bahwa perdebatan seputar Bitcoin itu penting, namun tidak seharusnya memecah belah para pendukung ekosistem ini.
MicroStrategy sendiri merupakan salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar, dengan kepemilikan mencapai 843.775 BTC, meskipun ada sedikit penjualan baru-baru ini. Hal ini menunjukkan keyakinan kuat perusahaan terhadap potensi jangka panjang Bitcoin.
Kritik Terhadap Kripto Lain dan Perdebatan Supply Bitcoin
Menariknya, River tidak hanya mengkritik mata uang fiat. Perusahaan riset yang sama juga menyoroti bahwa mayoritas aset kripto lainnya bahkan tidak bertahan lebih dari satu tahun, dan banyak yang akhirnya jatuh ke nol jika diukur terhadap nilai Bitcoin. Masalah yang seringkali melanda aset-aset ini, menurut River, adalah sentralisasi dan suplai yang tidak terbatas, mirip dengan masalah pada mata uang fiat.
Oleh karena itu, Bitcoin diposisikan secara unik dibandingkan dengan mayoritas aset kripto lainnya. Namun, perdebatan mengenai desain Bitcoin pun masih terus bergulir. Eli Ben-Sasson, CEO StarkWare, sempat mempertanyakan batas suplai Bitcoin yang tetap sebesar 21 juta koin. Ia berargumen bahwa seiring waktu, hilangnya kunci akses ke dompet digital dapat mengurangi suplai Bitcoin yang benar-benar dapat diakses. Meskipun demikian, gagasan untuk menambah penerbitan Bitcoin guna mengganti suplai yang hilang ditolak keras oleh banyak pendukung Bitcoin, mengingat mayoritas suplai BTC saat ini sudah beredar.
Meski demikian, argumen Michael Saylor kembali menempatkan Bitcoin sebagai aset yang dipandang tahan terhadap pelemahan mata uang fiat dalam jangka panjang. Namun, pasar tetap menjadi penguji utama. Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$63.252, menunjukkan volatilitas yang masih ada. Sejarah memang memberikan bukti kuat tentang kelemahan mata uang fiat. Pertanyaannya kini adalah, apakah investor akan terus melihat Bitcoin sebagai jalan keluar dari sistem uang tradisional, atau justru masih menganggapnya sebagai aset berisiko tinggi dalam beberapa bulan ke depan?







