Tragedi Stablecoin: BLC Anjlok 99,9% dari Rp15.000 ke Rp10 Akibat Serangan Exploit Fantastis

Amalia Citra

Amalia Citra

Tragedi Stablecoin: BLC Anjlok 99,9% dari Rp15.000 ke Rp10 Akibat Serangan Exploit Fantastis
Tragedi Stablecoin: BLC Anjlok 99,9% dari Rp15.000 ke Rp10 Akibat Serangan Exploit Fantastis

Stablecoin BLC Terpuruk: Kena Exploit, Nilai Jual dari $1 Menjadi Rp10 Perak

Poros Informasi – 27 Juli 2026 | Dunia aset kripto kembali diguncang oleh insiden keamanan yang merugikan. Kali ini, giliran algoritmik stablecoin Balance Coin (BLC) yang menjadi korban. Dalam sebuah insiden yang mengejutkan, BLC mengalami kehilangan patokannya yang seharusnya setara dengan 1 Dolar Amerika Serikat (USD). Akibat serangan exploit yang cerdik, harga BLC yang sebelumnya stabil di angka $1, kini terjun bebas lebih dari 99,9% hanya dalam hitungan jam, anjlok dari kisaran Rp15.000 menjadi hanya sekitar Rp10 perak.

Apa Itu Balance Coin (BLC) dan Bagaimana Mekanismenya?

Balance Coin (BLC) adalah sebuah stablecoin algoritmik yang beroperasi di jaringan BNB Chain. Proyek ini dikembangkan oleh entitas bernama 42DAO melalui sebuah protokol yang dikenal sebagai Balance Protocol. BLC dirancang dengan ambisi untuk mempertahankan nilai tukar yang tetap, yakni 1 BLC = $1 USD. Mekanisme stabilitas ini dicapai melalui penyesuaian pasokan token secara algoritmik, yang responsif terhadap dinamika pasar.

Untuk dapat mencetak atau menghasilkan koin BLC, pengguna diwajibkan untuk menyetorkan aset kripto sebagai jaminan atau collateral. Aset yang diterima sebagai jaminan mencakup berbagai aset kripto populer seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Bitcoin Cash (BCH), dan aset lain yang didukung oleh protokol, dengan rasio overcollateralization (jaminan berlebih) tertentu untuk memastikan keamanan.

Kronologi Serangan Exploit yang Menghancurkan

Analisis mendalam dari firma keamanan blockchain terkemuka, SlowMist, mengungkap bahwa pelaku serangan berhasil mengeksploitasi celah keamanan pada price oracle. Price oracle adalah sistem krusial yang bertugas memasok data harga aset kripto secara real-time ke dalam Balance Protocol.

Protokol BLC bekerja dengan prinsip algoritmik. Nilai jaminan dalam sistem collateralized debt position (CDP) dipantau secara ketat oleh price oracle. Apabila rasio utang terhadap jaminan menurun di bawah ambang batas yang telah ditentukan, sistem secara otomatis akan melakukan likuidasi terhadap vault (wadah jaminan) milik pengguna.

Namun, dalam kasus BLC, protokol ini ternyata tidak memiliki mekanisme verifikasi yang memadai untuk memastikan apakah harga yang disuplai oleh oracle masih berada dalam rentang yang wajar. Selain itu, tidak adanya mekanisme liquidation delay (penundaan likuidasi) membuat sistem langsung mengeksekusi likuidasi pada sejumlah vault yang seharusnya masih aman. Keputusan likuidasi yang terburu-buru ini berujung pada hilangnya cadangan aset yang berfungsi sebagai penjamin nilai koin BLC. Akibatnya, harga BLC mengalami kehancuran dalam waktu singkat. Kerugian yang dialami oleh protokol ini diperkirakan mencapai angka fantastis sekitar $912.000.

Data dari CoinMarketCap menunjukkan bahwa Balance Coin (BLC) saat ini hanya diperdagangkan di platform decentralized finance (DeFi) dan belum terdaftar di bursa kripto resmi. Insiden ini kembali menegaskan pentingnya melakukan riset mendalam sebelum berinvestasi di aset kripto.

Dampak Nyata: Harga Anjlok dan Janji Kompensasi

Sebelum insiden serangan exploit terjadi, BLC berdagang sesuai dengan fungsinya sebagai stablecoin, yaitu di kisaran $1. Namun, setelah serangan tersebut, nilainya merosot tajam. Pada titik terendahnya, BLC sempat diperdagangkan di harga $0,0005, yang setara dengan sekitar Rp10 rupiah saja. Penurunan nilai yang drastis ini merupakan pukulan telak bagi para pemegang BLC.

Menyikapi situasi genting ini, tim pengembang 42DAO telah mengumumkan niat mereka untuk memberikan kompensasi kepada pengguna yang terdampak oleh insiden ini. Proses kompensasi akan didasarkan pada snapshot aset on-chain yang diambil tepat sebelum serangan exploit terjadi. Snapshot ini akan digunakan sebagai dasar untuk memverifikasi kepemilikan pengguna.

Besaran kompensasi yang akan diterima oleh setiap pengguna akan dihitung berdasarkan berbagai faktor, termasuk saldo aset yang dimiliki, liquidity shares (bagian likuiditas), posisi kolateral, serta hak-hak pengguna lainnya yang tercatat pada saat snapshot diambil. Meskipun demikian, 42DAO menyatakan bahwa detail lebih lanjut mengenai blok snapshot, metode perhitungan kompensasi, mekanisme distribusi, hingga jadwal pasti pemberian kompensasi, baru akan diumumkan setelah proses verifikasi data selesai dilakukan.

Insiden yang menimpa Balance Coin (BLC) ini menambah daftar panjang stablecoin yang gagal mempertahankan patokannya terhadap Dolar Amerika Serikat. Sebelumnya, dunia kripto dikejutkan oleh keruntuhan TerraUSD (UST) pada tahun 2022, yang menghapus nilai pasar hingga puluhan miliar dolar AS. Selain itu, pada tahun 2023, USD Coin (USDC) juga sempat mengalami kehilangan patokan nilainya setelah kolapsnya Silicon Valley Bank, meskipun akhirnya berhasil pulih.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi para investor di dunia kripto. Penting untuk selalu berhati-hati dan melakukan riset yang cermat sebelum menempatkan dana pada aset kripto, terutama yang bersifat algoritmik dan belum teruji ketahanannya. Kena exploit, stablecoin $BLC ini turun dari $1 jadi Rp10 perak adalah bukti nyata betapa rentannya pasar kripto terhadap serangan siber dan kegagalan mekanisme internal.

Pentingnya Keamanan dalam Investasi Kripto

Kasus BLC menunjukkan bahwa tidak semua stablecoin aman dan mampu mempertahankan nilainya. Mekanisme algoritmik, meskipun inovatif, ternyata memiliki kerentanan yang signifikan jika tidak didukung oleh pengawasan dan mekanisme keamanan yang kuat. Ketergantungan pada price oracle tanpa validasi yang memadai, serta ketiadaan fitur penundaan likuidasi, terbukti menjadi titik lemah fatal yang dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Para investor disarankan untuk selalu memilih platform yang terpercaya dan diawasi oleh otoritas keuangan yang relevan, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia. Investasi aset kripto memang menawarkan potensi keuntungan yang menarik, namun risiko yang menyertainya juga sangat tinggi. Oleh karena itu, edukasi, riset mandiri, dan manajemen risiko yang baik adalah kunci utama untuk bertahan di pasar yang volatil ini. Kena exploit, stablecoin $BLC ini turun dari $1 jadi Rp10 perak adalah pelajaran berharga yang tidak boleh diabaikan.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tinggalkan komentar