Poros Informasi – Dunia aset kripto kembali digegerkan oleh sebuah skandal yang melibatkan institusi penegak hukum paling disegani di Amerika Serikat. Seorang agen khusus Federal Bureau of Investigation (FBI) kini menghadapi dakwaan serius setelah diduga kuat menggelapkan aset digital senilai hampir US$1 juta, atau setara dengan sekitar Rp18 miliar, dari sebuah dompet kripto yang tengah berada di bawah investigasi pemerintah AS. Lebih mencengangkan, dokumen pengadilan juga mengungkapkan bahwa sang agen sempat berkonsultasi dengan kecerdasan buatan ChatGPT untuk merencanakan investasi besar hingga kemungkinan pelarian ke Eropa.
Patrick Steven Yaroch, mantan Supervisory Special Agent di divisi kontraintelijen FBI, ditangkap pada akhir Juli 2026. Ia mengakui telah memindahkan aset kripto dari dompet target investigasi ke dompet pribadinya lebih dari sepuluh kali sejak tahun 2024, memanfaatkan akses internal yang seharusnya digunakan untuk penegakan hukum.

Menguak Modus Operandi Canggih: Seed Phrase Jadi Kunci
Menurut dokumen pengadilan yang dipaparkan oleh D’Angelo Legal, Yaroch terlibat dalam penyelidikan terhadap dompet kripto yang diduga memiliki kaitan dengan sebuah negara yang menjadi target kontraintelijen AS. Selama proses investigasi tersebut, FBI memiliki akses penuh terhadap seed phrase dan kredensial dompet digital yang berfungsi sebagai barang bukti vital.
Yaroch dituduh menyalahgunakan akses istimewa ini untuk mentransfer aset kripto secara ilegal. Ia mengaku melakukan sekitar 10 hingga 12 transaksi, dengan perkiraan total dana yang dipindahkan kurang dari US$1 juta. Namun, penyidik menemukan bahwa aset di dompet pribadinya justru bernilai sekitar US$1 juta. Sebagian dari dana curian tersebut kemudian dipindahkan ke protokol pinjam-meminjam terdesentralisasi (DeFi) Suilend di jaringan Sui, menggunakan dompet digital Slush. Saat penggeledahan rumahnya, aparat menemukan hardware wallet Trezor, catatan berisi seed phrase, serta sejumlah aset kripto yang langsung diamankan sebagai barang bukti.
Jejak Digital Sang Agen: ChatGPT Sebagai Konsultan Pelarian?
Dalam proses penyelidikan yang mendalam, aparat turut memeriksa isi ponsel Yaroch. Dari sana, ditemukan riwayat percakapan yang mengejutkan antara Yaroch dengan ChatGPT, yang kemudian dimasukkan sebagai bagian penting dari bukti digital. Percakapan ini mengindikasikan adanya rencana yang lebih besar di balik pencurian aset kripto tersebut.
Investasi Impian dan Rencana Pensiun Dini
Pada tanggal 28 Mei 2026, pukul 18.04, Yaroch mengajukan pertanyaan kepada ChatGPT yang mengisyaratkan ambisi finansialnya:
"Jika saya memiliki uang US$1 juta, bagaimana Anda menyarankan saya menginvestasikan atau menggunakannya agar memperoleh keuntungan dan imbal hasil yang maksimal?"
ChatGPT merespons dengan saran yang disesuaikan dengan profil pengguna: "Pada usia 37 tahun, dengan keluarga yang masih muda, target pensiun sekitar usia 40 tahun, serta ketertarikan membangun kehidupan yang lebih tenang melalui kebun anggur atau pertanian di wilayah seperti Cilento atau Dão di Portugal…"
Merancang Hidup Baru di Eropa
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 4 Juni 2026, pukul 08.35, Yaroch kembali bertanya, kali ini dengan nada yang lebih spesifik mengenai pelarian:
"Jika Anda memiliki dana sekitar US$1 juta dan ingin meninggalkan Amerika Serikat serta menjadi penduduk atau warga negara di salah satu negara Uni Eropa, apa yang akan Anda lakukan?"
ChatGPT memberikan jawaban yang terperinci: "Berdasarkan semua yang telah Anda ceritakan—anak Anda, istri Anda, keinginan memiliki lahan seluas 2–5 hektare, ketertarikan pada anggur merah berkualitas, serta tujuan untuk benar-benar tinggal di sana, bukan sekadar memiliki properti—saya tidak akan memulai dengan mengejar kewarganegaraan. Jika memiliki US$1 juta, pilihan utama saya adalah Portugal."
Temuan digital ini semakin diperkuat dengan bukti fisik lain yang ditemukan penyidik. Di dalam ponselnya, terdapat tiket penerbangan ke Portugal untuk keluarganya pada September 2026. Selain itu, saat penggeledahan, aparat menemukan dokumen surat kuasa yang memberikan wewenang kepada sebuah firma hukum di Portugal untuk mengurus nomor identitas pajak atas namanya. FBI juga mencatat setidaknya tiga perjalanan ke luar negeri yang tidak dilaporkan sepanjang tahun 2026, yaitu ke Jerman, Portugal, dan Grenada, yang dinilai melanggar kewajiban pelaporan bagi pemegang security clearance dari pemerintah.
Pengakuan Mengejutkan dan Konsekuensi Hukum
Kasus ini sebenarnya mulai terungkap ketika Yaroch secara sukarela menghubungi seorang pejabat Departemen Kehakiman (DOJ) dan mengakui telah membuat "keputusan yang sangat buruk" terkait dompet kripto. Dalam keterangannya, ia mengaku frustrasi karena merasa FBI tidak mengambil tindakan yang memadai terhadap dompet yang sedang mereka selidiki.
Meskipun sempat bekerja sama di awal, FBI tetap melakukan penggeledahan, menyita sebagian besar aset kripto yang diduga berasal dari hasil kejahatan, serta memecat Yaroch dari jabatannya. Saat ini, ia didakwa atas interstate transportation and receipt of stolen goods, dan proses hukum terhadap kasus tersebut masih terus berlangsung.
Investasi kripto tenang dengan keamanan berlapis melalui platform resmi yang diawasi OJK seperti porosinformasi.co.id. Mulai investasi aset digital dengan modal mulai dari Rp10.000!
Investasi dan trading kripto aman hanya di porosinformasi.co.id. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
porosinformasi.co.id berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.






