Waspada! Perilaku Ini Bikin Keuangan Anda Boncos Tak Terduga

Renita

Poros Informasi – Di tengah dinamika ekonomi yang kian kompleks, masyarakat dituntut untuk semakin bijak dalam mengelola keuangan pribadi. Kemampuan membedakan antara kebutuhan esensial dan keinginan semata menjadi kunci utama, sekaligus menghindari jeratan utang konsumtif yang membebani. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara tegas mengingatkan publik untuk selalu berpegang pada prinsip "2L" – Legal dan Logis – sebelum memutuskan untuk menggunakan produk keuangan atau berinvestasi, sebuah langkah krusial untuk menjaga stabilitas finansial.

Mengelola Keuangan di Tengah Arus Konsumerisme

Waspada! Perilaku Ini Bikin Keuangan Anda Boncos Tak Terduga
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Enriche Putera Hutama, menjelaskan bahwa prinsip Legal mengharuskan masyarakat memastikan bahwa setiap perusahaan atau produk keuangan yang ditawarkan telah mengantongi izin resmi dari otoritas yang berwenang. Sementara itu, prinsip Logis menekankan pentingnya sikap skeptis terhadap iming-iming keuntungan fantastis yang tidak masuk akal atau klaim investasi tanpa risiko.

"Kami mengajak masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis, sebelum berinvestasi atau menggunakan produk keuangan. Legal, artinya memastikan perusahaan atau produk keuangan memiliki izin dari otoritas yang berwenang. Logis, artinya tidak mudah percaya pada janji keuntungan yang terlalu besar atau tanpa risiko," tegas Enriche pada Sabtu (8/8/2026), seperti dikutip dari porosinformasi.co.id.

Selain meninjau legalitas dan kewajaran penawaran, masyarakat juga perlu mewaspadai berbagai pola perilaku yang secara tidak sadar dapat memicu pengeluaran berlebihan. Fenomena seperti Fear of Missing Out (FOMO), Fear of Other People’s Opinion (FOPO), You Only Live Once (YOLO), hingga doom spending, menjadi pemicu utama yang seringkali menguras isi dompet tanpa disadari.

Mengenali Jebakan Perilaku Konsumtif Modern

Fenomena FOMO dan FOPO: Gengsi di Atas Kebutuhan

FOMO, atau rasa takut ketinggalan tren, mendorong individu untuk membeli barang atau menggunakan layanan hanya karena melihat orang lain melakukannya. Ini adalah dorongan untuk tetap relevan dan tidak terasing dari lingkaran sosial. Perilaku ini seringkali dipicu oleh paparan media sosial yang intens, menampilkan gaya hidup atau produk terbaru yang seolah wajib dimiliki.

Sementara itu, FOPO muncul ketika seseorang terlalu memedulikan pandangan orang lain, sehingga melakukan pembelian demi mendapatkan pengakuan atau citra tertentu di mata publik. Pembelian yang didasari FOPO seringkali bukan karena kebutuhan pribadi, melainkan untuk memenuhi ekspektasi atau standar sosial yang dirasakan, mengabaikan prioritas keuangan pribadi.

YOLO dan Doom Spending: Hidup Hari Ini, Lupa Nanti?

Konsep YOLO, atau "You Only Live Once," seringkali disalahartikan sebagai justifikasi untuk pengeluaran impulsif dan hedonistik, dengan dalih menikmati hidup tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Meskipun semangatnya adalah hidup sepenuhnya, tanpa perencanaan yang matang, YOLO bisa berujung pada kondisi finansial yang rentan, terutama bagi mereka yang belum memiliki fondasi keuangan yang kuat.

Di sisi lain, doom spending adalah perilaku belanja yang didorong oleh kecemasan atau pesimisme terhadap masa depan ekonomi. Alih-alih menabung atau berinvestasi, individu memilih untuk menghabiskan uangnya karena merasa bahwa kondisi ekonomi akan memburuk, sehingga tidak ada gunanya menahan pengeluaran. Perilaku ini justru memperburuk kondisi finansial di masa depan, menciptakan lingkaran setan kecemasan dan pengeluaran tidak terkontrol.

Maka, kesadaran akan pola-pola perilaku ini, ditambah dengan penerapan prinsip 2L dari OJK, menjadi benteng pertahanan utama bagi keuangan pribadi. Dengan perencanaan yang matang dan pemahaman yang mendalam tentang motivasi di balik setiap pengeluaran, masyarakat dapat membangun fondasi finansial yang kuat dan berkelanjutan, terhindar dari jebakan konsumerisme yang merugikan.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar