Emas Menguat Pasca Data Inflasi AS, Bitcoin ‘Ngeloyor’? Analisis Mendalam: Ada Apa di Balik Perbedaan Pergerakan Aset?

Amalia Citra

Amalia Citra

Emas Menguat Pasca Data Inflasi AS, Bitcoin 'Ngeloyor'? Analisis Mendalam: Ada Apa di Balik Perbedaan Pergerakan Aset?
Emas Menguat Pasca Data Inflasi AS, Bitcoin 'Ngeloyor'? Analisis Mendalam: Ada Apa di Balik Perbedaan Pergerakan Aset?

Perbedaan Respons Pasar: Emas Meroket, Bitcoin Melambat

Poros Informasi – 15 Agustus 2026 | Pasar keuangan global diramaikan oleh rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Juli. Data yang menunjukkan adanya peredaan tekanan inflasi ini sontak memicu penguatan harga emas. Namun, aset digital populer, Bitcoin, justru menunjukkan pergerakan yang masih tertahan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: Emas Menguat Usai CPI Juli, Bitcoin Masih Tertahan: Ada Apa?

Menurut Tim Research Tokocrypto, data CPI Juli mengindikasikan penurunan inflasi tahunan AS menjadi 3,4% dari 3,5% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti (core inflation) juga melambat dari 2,6% menjadi 2,5%. Angka-angka ini sesuai dengan ekspektasi pasar dan secara signifikan menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan September mendatang.

Menyusul rilis data tersebut, harga emas dilaporkan naik sekitar 0,5%. Kontras dengan emas, Bitcoin terpantau bergerak terbatas di kisaran US$64.000. Perbedaan respons ini menggarisbawahi cara investor memperlakukan aset berbeda. Investor cenderung lebih cepat mengalirkan dananya ke aset safe haven tradisional seperti emas, sementara Bitcoin masih dibayangi oleh sinyal on-chain yang belum sepenuhnya mengonfirmasi akhir dari fase tekanan jual.

Peluang The Fed Tahan Suku Bunga Meningkat

Data inflasi Juli memberikan dampak langsung pada ekspektasi pasar mengenai kebijakan moneter Federal Reserve. Laporan dari MarketWatch menyebutkan bahwa peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September turun drastis ke sekitar 36,1%, dari sebelumnya yang mencapai 55% pada pekan sebelumnya. Perlambatan inflasi, meskipun masih di atas target The Fed sebesar 2%, menjadi alasan utama di balik pergeseran ekspektasi ini.

CPI utama tercatat naik 0,1% secara bulanan, dengan inflasi tahunan di angka 3,4%. Kondisi ini memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan opsi menahan suku bunga. Ditambah lagi, laporan tenaga kerja AS sebelumnya yang menunjukkan pelemahan, semakin memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS akan mengambil pendekatan yang lebih hati-hati.

Namun, tantangan inflasi belum sepenuhnya berakhir. Beberapa ekonom mengingatkan bahwa penurunan harga energi yang berkontribusi pada data Juli bisa bersifat sementara. Jika harga minyak dan bensin kembali melonjak, data CPI berikutnya berpotensi kembali memberikan tekanan pada pasar.

Emas Lebih Cepat Merespons sebagai Aset Pelindung Nilai

Menurut laporan BeInCrypto, emas langsung mendapatkan dorongan signifikan dari penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga. Ketika prospek suku bunga yang lebih tinggi menyusut, daya tarik emas meningkat karena biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih kecil. Selain itu, emas juga kerap diuntungkan oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Pasca rilis data tenaga kerja AS yang melemah, investor cenderung mencari aset pelindung nilai (safe haven). Hal ini terutama berlaku ketika inflasi masih tinggi namun pertumbuhan ekonomi mulai melambat. Bitcoin sempat mendapatkan angin segar dari narasi yang sama, namun pergerakannya belum sekuat emas.

Perbedaan ini dapat dijelaskan lebih lanjut. Bitcoin masih harus menghadapi berbagai tekanan, termasuk arus dana institusional, sentimen pasar derivatif, dan kondisi on-chain yang belum menunjukkan fase capitulation penuh. Dengan kata lain, emas bertindak sebagai aset safe haven tradisional, sementara Bitcoin masih diperlakukan sebagai aset berisiko yang sangat sensitif terhadap likuiditas dan ekspektasi kebijakan moneter.

Sinyal Bottom Bitcoin Mulai Muncul, Namun Belum Final

Analisis dari CryptoQuant menunjukkan bahwa Bitcoin mulai menunjukkan kondisi yang sering terlihat pada fase pembentukan macro bottom. Salah satu indikator yang dipantau adalah adjusted Net Unrealized Profit/Loss (aNUPL), yang mengukur posisi keuntungan dan kerugian yang belum terealisasi dari para pemegang aset. CryptoQuant menilai bahwa investor jangka panjang Bitcoin saat ini berada di bawah tekanan yang lebih besar dibandingkan pasar secara keseluruhan. Pola serupa pernah muncul pada beberapa titik terendah pasar besar sebelumnya, seperti pada Desember 2018 dan November 2022.

Meskipun demikian, CryptoQuant menekankan bahwa kondisi saat ini belum mencerminkan capitulation penuh. Pada siklus sebelumnya, titik terendah pasar biasanya ditandai oleh kepanikan jual yang lebih dalam dan kerugian pemegang aset yang mencapai fase ekstrem. Laporan The Block sebelumnya juga mencatat bahwa CryptoQuant masih melihat kerugian terealisasi (realized losses) belum mencapai level capitulation historis.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan sekitar 50% di bawah puncak siklusnya. Angka ini terbilang lebih ringan jika dibandingkan dengan koreksi 77% yang terjadi saat titik terendah pasar pada November 2022. Pertanyaan Emas Menguat Usai CPI Juli, Bitcoin Masih Tertahan: Ada Apa? semakin mengemuka.

Capitulation Masih Menjadi Kepingan yang Hilang

Alasan utama Bitcoin belum bergerak sekuat emas adalah belum adanya sinyal capitulation yang jelas. Dalam siklus sebelumnya, titik terendah pasar biasanya terjadi setelah tekanan jual ekstrem yang memaksa pemegang aset lemah keluar dari pasar. Saat ini, kondisi tersebut belum sepenuhnya terjadi.

Bitcoin memang menunjukkan tanda-tanda mendekati fase bottom, namun belum ada kepanikan jual yang cukup masif untuk menandai akhir dari siklus penurunan secara meyakinkan. CryptoQuant sebelumnya memperkirakan Bitcoin dapat menemukan area bottom di sekitar US$53.600 jika permintaan tetap lemah. Namun, para analis juga menilai bahwa pemulihan yang berkelanjutan memerlukan perbaikan permintaan, arus masuk ETF yang lebih kuat, dan realisasi kerugian yang lebih jelas.

Di sisi lain, kehadiran ETF spot Bitcoin sejak Januari 2024 memberikan nuansa berbeda pada siklus kali ini. Produk ETF ini menyediakan jalur bagi institusi untuk menyerap pasokan dari penjual yang panik, sehingga fase capitulation mungkin tidak harus sedalam siklus-siklus sebelumnya. Walaupun demikian, masih ada faktor lain yang membuat Emas Menguat Usai CPI Juli, Bitcoin Masih Tertahan: Ada Apa? menjadi sorotan.

Bitcoin Menunggu Data Berikutnya dan Konfirmasi Pasar

Satu laporan CPI lagi akan dirilis sebelum keputusan suku bunga The Fed pada 16 September. Data tersebut berpotensi menjadi penentu apakah pasar semakin yakin The Fed akan menahan suku bunga, atau justru kembali memperhitungkan risiko kenaikan.

Jika inflasi terus melambat dan pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan yang berkelanjutan, Bitcoin berpeluang mendapatkan dukungan dari ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar. Dalam skenario ini, BTC dapat mencoba kembali menguji level resistensi di kisaran US$65.000 hingga US$70.000. Namun, jika inflasi kembali menunjukkan kenaikan, peluang kenaikan suku bunga dapat kembali meningkat dan memberikan tekanan pada aset berisiko.

Bitcoin berisiko kembali melemah, terutama jika data on-chain tetap menunjukkan permintaan yang belum cukup kuat. Untuk saat ini, emas lebih dahulu mendapatkan manfaat dari data CPI yang lebih tenang berkat statusnya sebagai aset safe haven. Bitcoin juga menunjukkan tanda-tanda awal pembentukan bottom, namun belum memiliki sinyal capitulation yang cukup jelas. Dengan kondisi tersebut, BTC masih berada dalam fase menunggu konfirmasi. Jika aNUPL mulai membaik dan harga mampu membentuk higher low, pasar dapat membaca bahwa tekanan terburuk telah berlalu. Namun, jika terjadi penurunan lebih dalam disertai kepanikan jual, Bitcoin bisa memasuki fase final flush sebelum terbentuknya bottom yang lebih kuat.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tinggalkan komentar