Koreksi Pasar Kripto Berdampak Signifikan pada Investor Institusional
Poros Informasi – 15 Agustus 2026 | Bitcoin Turun, Dua Dana Abu Dhabi Tanggung Kerugian US$118 Juta dari IBIT. Pergerakan harga Bitcoin yang volatil kembali menekan nilai investasi institusional. Dua dana investasi raksasa asal Abu Dhabi, Mubadala Investment Company dan Abu Dhabi Investment Council, dilaporkan mengalami penurunan nilai aset gabungan sekitar US$118 juta pada kepemilikan saham mereka di iShares Bitcoin Trust (IBIT), produk Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin milik BlackRock. Penurunan ini terjadi sepanjang kuartal terakhir, mencerminkan dampak langsung dari koreksi pasar aset kripto.
Meskipun mengalami kerugian nilai yang signifikan, data pengajuan terbaru ke Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat menunjukkan bahwa kedua entitas ini tidak melakukan penjualan satu pun saham IBIT. Berdasarkan laporan yang diajukan pada pertengahan Agustus 2026, Mubadala dan Abu Dhabi Investment Council, melalui entitas Al Warda Investments, tercatat memiliki gabungan sebanyak 22,94 juta saham IBIT per 30 Juni 2026. Nilai posisi gabungan ini menyusut menjadi sekitar US$764 juta, turun dari angka US$881 juta pada tiga bulan sebelumnya.
Strategi ‘Hold’ di Tengah Volatilitas
Laporan pengajuan Form 13F-HR, yang merupakan laporan kuartalan wajib bagi manajer investasi institusional di AS, mengungkapkan detail kepemilikan. Mubadala tercatat memegang 14,72 juta saham IBIT, sementara Abu Dhabi Investment Council melalui Al Warda Investments mempertahankan 8,22 juta saham. Total kepemilikan 22,94 juta saham tersebut mengindikasikan bahwa penurunan nilai bukan disebabkan oleh aksi jual, melainkan murni oleh pergerakan harga IBIT yang mengikuti tren pelemahan Bitcoin. Sikap menahan posisi ini menjadi sorotan, terutama mengingat status kedua entitas sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang umumnya memiliki horizon investasi jangka panjang.
Tim Riset Tokocrypto menilai keputusan Abu Dhabi untuk tidak memangkas posisi IBIT adalah sinyal penting. “Sovereign wealth fund biasanya memiliki horizon investasi yang lebih panjang dibanding trader jangka pendek. Tidak adanya pengurangan saham menunjukkan Abu Dhabi belum mengubah posisi strategisnya meski volatilitas Bitcoin cukup besar,” ujar perwakilan tim riset.
Sebelumnya, Mubadala bahkan dilaporkan telah menambah kepemilikan saham IBIT pada kuartal pertama 2026, meningkatkan posisinya menjadi 14,72 juta saham dengan nilai sekitar US$565,6 juta per 31 Maret 2026. Hal ini menunjukkan adanya keyakinan awal yang kuat terhadap aset kripto melalui instrumen ETF.
Ayunan Nilai yang Ekstrem Tanpa Tindakan Jual
Penurunan nilai kuartalan sebesar US$118 juta ternyata tidak sepenuhnya menggambarkan volatilitas yang dialami selama periode tersebut. Pada April 2026, harga Bitcoin sempat menyentuh level US$68.000 dan melonjak ke atas US$82.000 pada Mei. Pada puncaknya, ketika IBIT diperkirakan menyentuh area US$46,47 pada Mei, nilai gabungan posisi kedua dana Abu Dhabi ini sempat mencapai sekitar US$1,07 miliar. Namun, koreksi tajam Bitcoin pada Juni, yang tercatat turun sekitar 17,9% dan menutup bulan di kisaran US$58.559, menghapus kenaikan tersebut. Akibatnya, nilai posisi IBIT Abu Dhabi berakhir sekitar US$302 juta lebih rendah dari puncak yang sempat dicapai.
Situasi ini menunjukkan bahwa Abu Dhabi tidak hanya menahan kerugian kuartalan, tetapi juga berhasil melewati ayunan nilai ratusan juta dolar dari titik tertinggi sementara tanpa melakukan aksi jual. Peristiwa Bitcoin Turun, Dua Dana Abu Dhabi Tanggung Kerugian US$118 Juta dari IBIT ini menguji ketahanan investor institusional terhadap fluktuasi pasar.
Dampak Portofolio yang Berbeda
Meskipun keduanya sama-sama mempertahankan saham IBIT, dampak penurunan nilai terhadap portofolio masing-masing institusi menunjukkan perbedaan. Bagi Mubadala, posisi IBIT tercatat hanya mencakup sekitar 1,4% dari total portofolio saham AS-nya yang bernilai US$34,77 miliar. Kepemilikan terbesar Mubadala masih didominasi oleh GlobalFoundries, sebuah perusahaan semikonduktor. Sebaliknya, bagi Abu Dhabi Investment Council, posisi IBIT memiliki bobot yang jauh lebih besar. Kepemilikan senilai US$274 juta setara dengan sekitar 38% dari total portofolio saham AS yang diungkapkan, yang bernilai US$714 juta. Hal ini membuat fluktuasi harga Bitcoin dan IBIT memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap portofolio ADIC dibandingkan Mubadala. Bahkan, IBIT menjadi posisi saham AS terbesar yang diungkapkan oleh Investment Council dalam laporan tersebut.
Tren Berlawanan dengan Institusi Lain
Keputusan Abu Dhabi untuk tetap menahan IBIT justru berlawanan dengan tren yang mulai terlihat pada beberapa institusi lain yang mulai mengurangi eksposur terhadap Bitcoin. Salah satu grup perbankan terbesar di Italia, Intesa Sanpaolo, dilaporkan telah memangkas kepemilikan IBIT secara signifikan dan mengalihkan sebagian fokusnya ke produk berbasis Ethereum. Data arus dana ETF juga mengkonfirmasi tekanan pada ETF Bitcoin spot, di mana pada akhir Juli tercatat mengalami outflow, sementara ETF Ethereum justru terus menarik inflow dalam beberapa pekan terakhir.
Perbedaan strategi ini memperlihatkan adanya pendekatan yang beragam di kalangan investor institusional. Sebagian memilih untuk mengurangi risiko pasca-koreksi Bitcoin, sementara Abu Dhabi memilih untuk mempertahankan posisinya di IBIT. Sikap ini dapat diinterpretasikan sebagai pendekatan jangka panjang terhadap investasi aset kripto. Bitcoin Turun, Dua Dana Abu Dhabi Tanggung Kerugian US$118 Juta dari IBIT, namun keyakinan untuk bertahan menunjukkan pandangan strategis.
Akankah Abu Dhabi Tetap Bertahan?
Saat ini, belum ada indikasi dari pengajuan terbaru yang menunjukkan niat Mubadala atau Abu Dhabi Investment Council untuk menjual saham IBIT mereka. Jumlah saham yang tidak berubah dalam laporan menjadi bukti bahwa keduanya masih mempertahankan eksposur terhadap Bitcoin melalui ETF BlackRock. Namun, perlu diingat bahwa Form 13F hanya memberikan gambaran pada tanggal pelaporan tertentu dan tidak mencerminkan aktivitas harian.
Pasar akan mencermati laporan berikutnya untuk mengetahui apakah Abu Dhabi akan tetap bertahan atau mulai menyesuaikan posisinya. Jika Bitcoin terus melemah dan tekanan terhadap ETF spot berlanjut, risiko penyesuaian portofolio tetap ada. Sebaliknya, jika Bitcoin mampu stabil di atas level penting dan arus dana ETF kembali membaik, Abu Dhabi kemungkinan memiliki alasan kuat untuk terus menahan posisinya. Keputusan untuk tidak menjual di tengah penurunan nilai yang cukup besar ini menggarisbawahi kesabaran institusional. Abu Dhabi tampaknya memandang IBIT sebagai eksposur jangka panjang terhadap Bitcoin, bukan sekadar instrumen perdagangan jangka pendek. Laporan berikutnya pada November akan menjadi penentu penting. Jika jumlah saham tetap sama, hal ini dapat diartikan sebagai keyakinan Abu Dhabi terhadap prospek Bitcoin yang masih bertahan melewati tekanan pasar. Namun, jika terjadi pengurangan posisi, ini bisa menjadi sinyal bahwa bahkan investor jangka panjang pun mulai melakukan penyesuaian risiko di tengah volatilitas BTC yang tinggi. Peristiwa Bitcoin Turun, Dua Dana Abu Dhabi Tanggung Kerugian US$118 Juta dari IBIT ini menjadi studi kasus menarik dalam dinamika investasi institusional di era aset digital.







