Poros Informasi – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sukses mencatatkan performa keuangan yang fenomenal pada kuartal III-2026. Perusahaan tambang raksasa ini melaporkan lonjakan laba yang signifikan, didorong oleh strategi diversifikasi pendapatan melalui penjualan bijih nikel yang kian masif.
Kenaikan performa ini tidak lepas dari keberhasilan perusahaan dalam mengoptimalkan seluruh lini operasionalnya, terutama setelah melewati fase pemeliharaan besar pada awal tahun.

Produksi Nikel Matte Capai Rekor Tertinggi Tahun Ini
Dalam laporan kinerja terbarunya, Vale Indonesia berhasil memproduksi nikel matte sebanyak 18.341 metrik ton pada periode kuartal III-2026. Angka ini menjadi capaian produksi kuartalan tertinggi sepanjang tahun berjalan, sebuah lompatan besar pasca berakhirnya masa perawatan intensif pabrik di awal tahun.
Rizky Putra, selaku Director & Chief Financial Officer Vale Indonesia, menjelaskan bahwa stabilitas operasi pabrik dan peningkatan keandalan peralatan menjadi kunci utama di balik angka tersebut. Menurutnya, perusahaan saat ini tengah memfokuskan seluruh sumber daya untuk menjaga konsistensi produksi guna menutup tahun 2026 dengan hasil yang optimal.
Strategi Diversifikasi Melalui Penjualan Bijih Nikel
Salah satu pilar utama yang menopang pertumbuhan laba INCO adalah kontribusi dari penjualan bijih nikel. Perusahaan berhasil memperluas sumber pendapatan melalui dua blok operasional utamanya, yakni Blok Bahodopi dan Blok Pomalaa.
Berdasarkan data operasional, berikut adalah rincian performa penjualan bijih nikel:
- Blok Bahodopi: Mencatatkan penjualan sebesar 415.000 wet metric tons (wmt) pada kuartal III-2026. Secara akumulatif selama sembilan bulan pertama tahun 2026, total penjualan di blok ini telah menyentuh angka 2.375.759 wmt.
- Blok Pomalaa: Menunjukkan pertumbuhan yang sangat tajam dengan membukukan penjualan sebesar 1.314.358 wmt pada kuartal III-2026, melonjak drastis dibandingkan periode kuartal II yang hanya sebesar 495.601 wmt.
Rizky menekankan bahwa keberhasilan ini adalah bukti nyata dari efektivitas strategi diversifikasi portofolio bisnis perusahaan. Dengan memperkuat skala operasional di berbagai blok, Vale Indonesia kini memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap fluktuasi pasar.
Pendapatan Melonjak di Tengah Tantangan Harga Komoditas
Meskipun pasar nikel global sedang menghadapi tantangan harga, Vale Indonesia mampu mengantisipasinya dengan meningkatkan volume pengiriman. Pengiriman nikel matte pada kuartal III-2026 naik menjadi 20.158 metrik ton, jauh lebih tinggi dibandingkan 13.932 metrik ton pada kuartal sebelumnya.
Peningkatan volume ini berhasil mengompensasi penurunan rata-rata harga realisasi nikel matte yang berada di level USD14.053 per ton. Dampaknya, pendapatan perusahaan pada kuartal III-2026 membengkak menjadi USD353 juta, naik dari USD290 juta pada kuartal sebelumnya. Jika dihitung secara year-to-date, pendapatan Vale telah mencapai USD896 juta, atau tumbuh 27% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Terkait struktur biaya, perusahaan mencatat adanya kenaikan moderat pada biaya tunai penjualan (unit cash cost of sales) menjadi USD10.404 per ton. Kenaikan ini dipicu oleh faktor eksternal seperti biaya energi yang meningkat. Namun, manajemen tetap optimis karena telah menerapkan langkah-langkah efisiensi pada penggunaan bahan bakar seperti batubara, diesel, dan Marine Fuel Oil (MFO), serta pengendalian beban operasional secara disiplin untuk menjaga fleksibilitas keuangan di tengah dinamika geopolitik global.






