Strategi Baru Pulihkan Gambut: Bukan Sekadar Padamkan Api!

Renita

Strategi Baru Pulihkan Gambut: Bukan Sekadar Padamkan Api!

Poros Informasi – Upaya menyelamatkan ekosistem gambut di Indonesia kini memasuki babak baru yang lebih komprehensif. Menghentikan kobaran api saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana memulihkan lahan yang telah rusak sekaligus memastikan masyarakat di sekitarnya tetap bisa hidup sejahtera tanpa harus merusak alam.

Strategi integrasi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi ini tengah diuji coba melalui metode penanaman bambu dan jelutung dengan teknik tumpang sari. Langkah inovatif ini dilakukan di area demplot plasma Kelurahan Kedaton, Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Strategi Baru Pulihkan Gambut: Bukan Sekadar Padamkan Api!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Transformasi Lahan Rusak Menjadi Kawasan Produktif

Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan bahwa keberhasilan restorasi di Kabupaten OKI menjadi bukti nyata bahwa lahan yang pernah hangus dapat kembali produktif. Kawasan tersebut memiliki catatan kelam, di mana kebakaran hebat sempat melanda pada tahun 1997, 1998, hingga kembali terjadi pada tahun 2006.

Namun, melalui intervensi restorasi vegetasi yang tepat, kondisi lahan kini berubah drastis. Satyawan menjelaskan bahwa saat ini sedikitnya 30 spesies pohon telah berhasil tumbuh kembali di kawasan tersebut.

Replikasi Model Restorasi di Berbagai Wilayah

Keberhasilan di OKI ini tidak akan berhenti di satu titik saja. Pemerintah melalui BPGMN berencana menjadikan model ini sebagai cetak biru (blueprint) untuk diterapkan di wilayah lain di Indonesia.

"Ini menjadi pembelajaran yang sangat menarik bagi kami. Ternyata restorasi ekosistem gambut bisa dilakukan dengan sangat baik, seperti yang dicontohkan di Kabupaten OKI. Model ini nantinya akan kita replikasi di beberapa tempat," ujar Satyawan dalam keterangannya.

Tantangan Besar di Sumatera Selatan dan Peran Ekonomi Desa

Sumatera Selatan memegang peranan krusial dalam peta pengelolaan gambut nasional. Hal ini dikarenakan sekitar 10 persen dari total luas lahan gambut di Indonesia berada di provinsi tersebut. Besarnya cakupan lahan ini membawa konsekuensi pada tingginya risiko kebakaran jika tidak dikelola dengan sinergi lintas sektor.

Satyawan menekankan bahwa pencegahan karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah daerah, aparat TNI-Polri, hingga peran aktif masyarakat desa.

Menjaga Gambut Melalui Kesejahteraan Masyarakat

Salah satu poin fundamental dalam kebijakan baru ini adalah penguatan peran ekonomi desa. BPGMN meyakini bahwa kelestarian ekosistem gambut dan mangrove sangat bergantung pada manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh warga setempat.

Jika masyarakat mampu mendapatkan penghasilan dari pengelolaan gambut yang berkelanjutan—seperti melalui hasil hutan non-kayu atau budidaya tumpang sari—maka motivasi mereka untuk menjaga lahan dari api akan meningkat secara alami.

"Salah satu kunci agar gambut tetap lestari adalah memberikan dampak yang baik kepada masyarakat. Kalau gambut terkelola dan ada kegiatan ekonomi yang berjalan, ekosistemnya akan bermanfaat dan risiko kebakaran bisa ditekan seminimal mungkin," pungkas Satyawan.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar