Mengejutkan! NTB Kunci Swasembada Pangan 2030, Ini Alasannya

Renita

Mengejutkan! NTB Kunci Swasembada Pangan 2030, Ini Alasannya

Poros Informasi – Nusa Tenggara Barat (NTB) diproyeksikan menjadi tulang punggung baru dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara tegas menunjuk provinsi ini sebagai pilar utama pengembangan komoditas jagung dan bawang putih, sekaligus sentra industri pakan ternak. Langkah strategis ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk mencapai kemandirian pangan berkelanjutan pada periode 2026-2030.

Amran menekankan bahwa penetapan NTB sebagai wilayah strategis ini bukan sekadar wacana administratif, melainkan didasarkan pada potensi besar yang dimiliki daerah tersebut, mulai dari ketersediaan lahan, keunggulan agroklimat, hingga kesiapan untuk memasuki fase hilirisasi pertanian.

Mengejutkan! NTB Kunci Swasembada Pangan 2030, Ini Alasannya
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Mengapa NTB Menjadi Pilihan Strategis?

Penetapan NTB sebagai episentrum pangan nasional bukan tanpa alasan. Mentan Amran menekankan bahwa keputusan ini didasarkan pada serangkaian keunggulan komparatif yang dimiliki provinsi tersebut, menjadikannya kandidat ideal untuk mendukung target swasembada.

Potensi Lahan dan Iklim Unggul

Secara geografis dan agroklimat, NTB menawarkan potensi lahan yang sangat menjanjikan. Untuk komoditas bawang putih saja, provinsi ini memiliki estimasi lahan seluas 7.750 hektare yang tersebar di berbagai kabupaten. Kabupaten Lombok Timur memimpin dengan potensi sekitar 2.500 hektare, diikuti oleh Lombok Utara (2.000 hektare), Bima (1.500 hektare), Sumbawa (1.000 hektare), dan Lombok Tengah (750 hektare). Peta potensi ini menjadi fondasi kuat bagi pemerintah pusat dalam menetapkan target tanam dan produksi, demi mencapai swasembada bawang putih nasional.

Selain itu, kesiapan NTB untuk memasuki fase hilirisasi pertanian, yang mencakup pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah seperti pakan ternak, turut memperkuat posisinya sebagai hub strategis. Keunggulan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertanian yang terintegrasi, dari hulu hingga hilir, memberikan nilai ekonomi lebih bagi petani dan daerah.

Dari Rencana Menuju Aksi Nyata

Namun, Amran menegaskan bahwa penetapan wilayah strategis ini harus diimbangi dengan implementasi di lapangan yang cepat dan konkret. Bukan sekadar berhenti pada tahap perencanaan administratif semata, melainkan harus diterjemahkan dalam kerja nyata yang melibatkan semua pihak.

Dorongan Mentan untuk Perubahan Mindset

Pernyataan tersebut disampaikan Mentan Amran saat kunjungan kerjanya ke kawasan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Dalam kesempatan itu, ia meninjau langsung gudang bibit bawang putih dan berdialog intensif dengan para petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta jajaran pemerintah daerah.

"Yang paling sulit dalam hidup adalah mengubah mindset. Kalau mindset berubah, hidup berubah. NTB ini bisa sejahtera kalau lahan tidur dibangunkan, pemuda dibangunkan, PPL dibangunkan," tegas Mentan Amran, memotivasi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk bergerak dan memanfaatkan potensi yang ada.

Keberhasilan program swasembada pangan, menurut Amran, sangat bergantung pada etos kerja yang tinggi, disiplin, dan keberanian dalam bertindak, khususnya di tingkat pendampingan petani. PPL diharapkan tidak hanya menjadi fasilitator, melainkan motor penggerak utama produktivitas di lapangan, hadir mendampingi petani secara langsung, dan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan target-target ambisius ini.

Dengan potensi yang melimpah dan dorongan kuat dari pemerintah pusat, NTB kini berada di garis depan perjuangan mewujudkan kemandirian pangan Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah daerah, petani, dan penyuluh diharapkan dapat mengoptimalkan setiap jengkal lahan dan setiap sumber daya demi masa depan pangan yang lebih kokoh bagi bangsa.

Baca Juga

Ikuti Kami

Tags

Tinggalkan komentar