Poros Informasi – JAKARTA – Pekan ini, pasar modal Indonesia diwarnai sentimen negatif yang cukup mendalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan, tergelincir ke zona merah akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan investor, namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyerukan ketenangan, menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik tetap kuat dan berada dalam fase ekspansi yang stabil.
Guncangan Geopolitik dan Reaksi Pasar Domestik

Konflik di Timur Tengah memang kerap menjadi katalisator gejolak di pasar finansial global, tak terkecuali di Indonesia. Ketidakpastian yang ditimbulkannya mendorong investor untuk menarik dananya dari aset berisiko, termasuk saham. Menanggapi situasi ini, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam pernyataannya mengimbau agar pelaku pasar dan masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan. "Indonesia saat ini berada dalam fase ekspansi ekonomi yang solid dan kami proyeksikan akan tetap stabil dalam jangka panjang," ujarnya, mencoba menenangkan pasar. Namun, data menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG memang tak bisa diabaikan.
IHSG Tertekan dalam, Kapitalisasi Pasar Tergerus
Periode perdagangan 2-6 Maret 2026 menjadi saksi bisu pelemahan IHSG yang cukup drastis. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini ditutup dengan penurunan sebesar 7,89 persen dalam sepekan. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menjelaskan bahwa IHSG kini bertengger di level 7.585,687, jauh di bawah level psikologis 8.200 yang sempat dipertahankan pada pekan sebelumnya, tepatnya di 8.235,485.
Tak hanya IHSG, kapitalisasi pasar bursa juga ikut tergerus. Angkanya menyusut 7,85 persen, dari Rp14.787 triliun menjadi Rp13.627 triliun. Penurunan nilai pasar ini mencerminkan hilangnya sebagian kepercayaan investor dan valuasi perusahaan yang terdampak sentimen negatif.
Indikator Transaksi Harian Melambat Signifikan
Kelesuan pasar juga tercermin dari melambatnya seluruh indikator rata-rata transaksi harian di BEI. Rata-rata Nilai Transaksi Harian anjlok 16,64 persen, hanya mencapai Rp24,97 triliun. Demikian pula, Rata-rata Volume Transaksi Harian terpangkas 17 persen menjadi 42,34 miliar lembar saham. Bahkan, Rata-rata Frekuensi Transaksi Harian pun tak luput dari koreksi, turun 7,33 persen menjadi 2,73 juta kali transaksi. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa aktivitas perdagangan di bursa sedang lesu, dengan investor cenderung menahan diri atau melakukan aksi jual.
Aksi Jual Asing Berlanjut, Sinyal Waspada?
Salah satu pendorong utama tekanan di pasar adalah berlanjutnya aksi jual oleh investor asing. Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3), investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp263 miliar. Tren ini bukan fenomena baru, sebab secara akumulatif sepanjang tahun 2026, total nilai jual bersih investor asing telah mencapai angka Rp7,29 triliun. Eksodus modal asing ini menjadi sinyal penting yang perlu diwaspadai, karena dapat mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dan likuiditas pasar.
Meskipun demikian, pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan secercah harapan di tengah gejolak. Komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keyakinan terhadap fundamental yang kuat diharapkan dapat meredam kepanikan pasar. Investor diharapkan tetap cermat dalam mengambil keputusan, memantau perkembangan global, namun tidak mengabaikan potensi jangka panjang pasar domestik yang didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Ikuti perkembangan berita ekonomi terkini di porosinformasi.co.id untuk analisis pasar yang lebih mendalam.






