Renita

Rupiah Tembus 17 Ribu: Purbaya Dihujat, Ini Pembelaannya!

Poros Informasi – Gejolak pasar mata uang global baru-baru ini menyeret nilai tukar Rupiah hingga sempat menyentuh level psikologis Rp17.000 per Dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini, yang sebagian besar dipicu oleh ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran, sontak memicu reaksi keras dari masyarakat, terutama di media sosial. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sasaran utama kritik pedas, dituding lalai dalam menjaga stabilitas mata uang Garuda.

purbaya qUgM large
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pelemahan Rupiah ini memicu kekhawatiran di berbagai kalangan, mulai dari pelaku usaha hingga masyarakat umum. Namun, di tengah badai kritik tersebut, Purbaya menegaskan bahwa indikator ekonomi nasional menunjukkan performa yang jauh berbeda dari asumsi resesi yang beredar luas.

Di Balik Hujatan Netizen: Purbaya Buka Suara

Purbaya Yudhi Sadewa tidak menampik gelombang kritik yang menerpanya di dunia maya. Dalam sebuah kesempatan, ia secara terbuka menceritakan pengalamannya menghadapi serangan netizen, khususnya di platform TikTok.

"Walaupun di TikTok saya dimaki-maki orang, katanya, ‘Hey Pak Purbaya, Menteri Keuangan, kerjanya apa aja lu, tuh rupiah lihatin,’ tapi kita menilai harus dengan fair (adil)," ujarnya, menekankan pentingnya melihat konteks global. Ia menambahkan bahwa perbandingan dengan kondisi negara lain di dunia sangat krusial untuk mendapatkan gambaran yang adil mengenai tekanan mata uang yang dialami Indonesia. Menurutnya, banyak negara lain juga menghadapi tantangan serupa akibat dinamika global.

Bukan Resesi, Ekonomi Justru Ekspansi

Menanggapi kekhawatiran publik dan beberapa pandangan ekonom yang menyamakan kondisi saat ini dengan krisis 1998 atau sinyal resesi, Purbaya dengan tegas membantahnya. Ia mengakui adanya volatilitas di pasar, termasuk anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), namun menegaskan bahwa hal tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang melemah.

"Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi menuju 1998 lagi. Gitu lah. Daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu," tegas Purbaya. Ia justru mengklaim bahwa ekonomi nasional sedang dalam fase ekspansi, bukan kontraksi. "Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian, dan boro-boro krisis, resesi aja belum. Melambatnya aja belum," imbuhnya, memberikan jaminan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh dan pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat.

Pesan untuk Investor: Tetap Tenang, Fondasi Kuat

Volatilitas pasar saham, yang tercermin dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), juga menjadi perhatian pemerintah. Purbaya meminta para investor untuk tidak panik dan tetap tenang dalam menghadapi gejolak pasar. Ia meyakinkan bahwa pemerintah terus bekerja keras menjaga stabilitas dan kekuatan fondasi ekonomi di tengah tekanan eksternal yang ada.

"Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan. Jadi, yang investor di pasar saham nggak usah takut, pondasi kita jaga betul," pungkasnya, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga iklim investasi yang kondusif dan memastikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup tangguh untuk menghadapi tantangan global. Pemerintah berjanji akan terus memantau dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro.

Baca Juga

Ikuti Kami

Tags

Tinggalkan komentar