Defisit Ekspor Mei 2026: Kadin Ungkap Jurus Jitu Penyelamat Ekonomi!

Renita

Poros Informasi – Data defisit ekspor Indonesia pada Mei 2026 yang mencapai USD 1,61 miliar menjadi sorotan utama kalangan pengusaha. Menanggapi kondisi ini, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menegaskan urgensi untuk mempercepat penciptaan nilai tambah pada produk manufaktur domestik. Langkah strategis ini dinilai krusial untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah dinamika pasar global.

Fenomena defisit ini, menurut Anindya, tidak terlepas dari peningkatan signifikan impor bahan baku industri yang vital untuk memacu aktivitas manufaktur di dalam negeri. "Tentu kita melihat bahwa angka defisit ekspor di bulan Mei kemarin juga melibatkan bahan baku. Namun, inti dari persoalan ini adalah bagaimana kita bisa mengekspor lebih banyak produk dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi," ujar Anindya, atau akrab disapa Anin, usai bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di rumah dinas Widya Chandra, Jakarta, pada Jumat (24/7/2026).

Defisit Ekspor Mei 2026: Kadin Ungkap Jurus Jitu Penyelamat Ekonomi!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Strategi Kadin Hadapi Defisit Perdagangan

Kadin Indonesia memandang defisit perdagangan sebagai momentum untuk melakukan evaluasi mendalam dan mendorong kebijakan yang lebih pro-ekspor dengan fokus pada peningkatan kualitas. Anindya Bakrie menyoroti bahwa ketergantungan pada ekspor komoditas mentah atau produk dengan nilai tambah rendah membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global. Oleh karena itu, strategi jangka panjang harus bergeser ke arah penguatan sektor manufaktur yang mampu menghasilkan produk jadi bernilai tinggi.

Mendorong Hilirisasi dan Daya Saing Global

Untuk mencapai tujuan tersebut, Kadin mendorong akselerasi program hilirisasi komoditas sebagai pilar utama. Program ini bertujuan mengubah bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau jadi yang memiliki harga jual lebih tinggi dan daya saing yang lebih kuat di pasar internasional. Anin membeberkan bahwa upaya hilirisasi telah menunjukkan hasil positif, khususnya pada mineral kritis seperti nikel dan kini mulai merambah bauksit.

Lebih lanjut, Anin mengungkapkan kebanggaannya terhadap produk manufaktur tanah air yang telah berhasil menembus rantai pasok global dan digunakan oleh jenama-jenama terkemuka dunia. "Sudah ada hilirisasi dari mineral kritis, sebelumnya nikel, sekarang bauksit, dan ke depannya kita melihat makin naik kelas," jelasnya. Ia memberikan beberapa contoh konkret yang seringkali luput dari perhatian publik: sepatu merek On Cloud yang ternyata diproduksi di Majalengka, bagian sayap atau moncong pesawat Boeing yang dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia, serta mayoritas mobil yang beredar di Filipina merupakan hasil produksi Indonesia. "Hal-hal seperti itu yang ingin kita buat orang optimistis untuk berusaha di Indonesia," tambahnya.

Optimisme di Tengah Tantangan Global

Di tengah tantangan defisit ekspor, Anindya Bakrie menekankan bahwa optimisme terhadap iklim usaha nasional tetap terjaga. Hal ini terkonfirmasi dari tetap bergairahnya arus investasi masuk ke Indonesia serta transaksi perdagangan internasional yang menunjukkan resiliensi. Data-data ini menjadi indikator bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menghadapi gejolak jangka pendek dan memiliki potensi besar untuk terus tumbuh, terutama jika strategi hilirisasi dan peningkatan nilai tambah terus digenjot secara konsisten. Kadin berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah dalam menciptakan ekosistem bisnis yang kondusif demi tercapainya target ekspor yang lebih ambisius dan berkelanjutan.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar