Poros Informasi – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), raksasa teknologi yang menaungi layanan Gojek dan GoPay, kembali mencuri perhatian pasar dengan pencapaian laba bersih yang signifikan pada kuartal II-2026. Kinerja impresif ini diraih di tengah dinamika industri ride-hailing yang memasuki babak baru, menyusul penerapan kebijakan komisi 8 persen yang mulai berlaku efektif sejak 1 Juli 2026.
Kinerja Keuangan Mengesankan di Tengah Gejolak

GoTo berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar di kuartal kedua tahun ini, sebuah lonjakan sebesar 47 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Tak hanya itu, pendapatan bersih grup juga menunjukkan pertumbuhan solid, mencapai Rp5,7 triliun, meningkat 31 persen secara tahunan (year-on-year). Angka-angka ini menjadi bukti ketahanan GoTo dalam menghadapi tantangan, terutama dengan adanya regulasi baru yang berpotensi menekan margin di sektor inti mereka.
Adaptasi Cepat di Lini Bisnis On-Demand
Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, mengakui bahwa penyesuaian strategi menjadi krusial. "Dampak penuh dari perubahan komisi ini memang baru akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga," jelas Hans dalam keterangan resminya kepada porosinformasi.co.id, Rabu (29/7/2026). "Namun, setelah satu bulan berjalan, kami melihat kondisi bisnis tetap stabil. Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya."
Lini bisnis On-demand Services, yang mencakup layanan transportasi roda dua dan empat serta pengiriman, menyumbang sekitar 7 persen terhadap pendapatan bersih grup. Sebagai respons terhadap kebijakan komisi 8 persen, perseroan memutuskan untuk merevisi pedoman kinerja On-demand Services dari proyeksi awal Rp1,7-1,8 triliun menjadi Rp1,4-1,5 triliun.
Penopang Baru dari Ekosistem GoTo
Meskipun ada revisi pada segmen On-demand Services, GoTo menunjukkan fleksibilitas strategis. Pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh tetap dipertahankan, yakni antara Rp2,4 triliun hingga Rp3,2 triliun. Stabilitas ini dicapai berkat peningkatan pedoman kinerja lini bisnis teknologi keuangan GoPay, yang kini diproyeksikan mencapai Rp1,7-1,8 triliun, naik signifikan dari estimasi sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.
Di tengah ketidakpastian, lini bisnis On-Demand-Service sendiri masih menunjukkan pertumbuhan. Pada kuartal II-2026, Gross Transaction Value (GTV) lini ini naik 2,0 persen secara tahunan, mencapai Rp16,7 triliun. Kontribusi besar terhadap pencapaian ini datang dari segmen affluent market atau pengguna dengan tingkat pengeluaran sangat tinggi, menunjukkan loyalitas dan daya beli konsumen premium GoTo yang menjadi penopang utama di tengah perubahan lanskap regulasi.






