Poros Informasi – Pasar komoditas emas diperkirakan akan menghadapi pekan yang penuh gejolak menjelang akhir September 2026. Dinamika pasar global yang kompleks, ditambah dengan manuver strategis bank sentral dari berbagai negara untuk mengakumulasi cadangan emas, menjadi faktor penentu utama arah pergerakan harga komoditas berharga ini. Para investor dan pelaku pasar diminta untuk mencermati setiap pergerakan, mengingat potensi fluktuasi yang signifikan.
Dinamika Harga Logam Mulia: Antara Koreksi dan Peluang

Menurut Ibrahim Assuaibi, seorang analis mata uang dan komoditas terkemuka, harga logam mulia pada Sabtu pagi tercatat di angka Rp2.653.000 per gram. Ia memprediksi adanya potensi koreksi terbatas pada perdagangan pekan depan. Jika pelemahan terjadi, harga emas berpeluang turun sekitar Rp10.000, bergerak menuju posisi Rp2.643.000 per gram.
"Untuk perdagangan pekan depan, rentang pergerakan harga logam mulia diperkirakan akan berada di kisaran Rp2.520.000 per gram hingga Rp2.720.000 per gram," jelas Ibrahim dalam keterangan yang diterima porosinformasi.co.id pada Minggu (27/9/2026). Sementara itu, untuk harga emas dunia dalam satuan troy ounce, Ibrahim memproyeksikan level support berada di kisaran Rp3.948.000, dengan batas resistance di posisi Rp4.654.000.
Strategi Bank Sentral: Memanfaatkan Momentum Penurunan
Fenomena penurunan harga ini, menurut Ibrahim, justru membuka jendela kesempatan emas bagi bank sentral global untuk memperkuat cadangan devisa mereka. Strategi diversifikasi ini melibatkan pengalihan aset dari dominasi dolar AS menuju aset yang lebih stabil dan tahan inflasi seperti emas.
China di Garis Depan Akumulasi Emas Global
"Dengan harga yang relatif lebih murah, bank sentral akan diuntungkan dari selisih harga. Dalam konteks ini, kita melihat bahwa salah satu pihak yang paling aktif dalam melakukan pembelian adalah Bank Sentral Tiongkok," ujarnya. Bank Sentral Tiongkok (People’s Bank of China) disebut-sebut sebagai salah satu institusi moneter paling agresif dalam mengakumulasi emas sepanjang tahun 2026. Pembelian konsisten telah tercatat sejak awal tahun hingga Juli, sementara akumulasi pada periode Agustus dan September terus menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar global. Langkah ini mengindikasikan upaya Tiongkok untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang asing dan memperkuat fondasi ekonomi domestiknya dengan cadangan emas yang solid.






