Poros Informasi – Transformasi digital kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Meski penetrasi internet sudah sangat luas, realitanya belum semua pelaku usaha mampu mengubah trafik digital menjadi pundi-pundi keuntungan yang signifikan.
Banyak pelaku UMKM yang masih terjebak dalam pola penjualan konvensional, sehingga potensi besar di ekosistem digital belum tergarap secara optimal. Fenomena ini menciptakan celah lebar antara ketersediaan pasar dengan kemampuan eksekusi para pengusaha lokal.

Tantangan Utama: Bukan Gagap Teknologi, Tapi Adaptasi
Founder Digifolium, Weliyan Tanoyo, menyoroti bahwa hambatan utama UMKM dalam meraup profit di dunia maya bukanlah semata-mata karena ketidaktahuan teknologi atau "gaptek". Menurutnya, masalah fundamental terletak pada kurangnya pembiasaan terhadap fitur-fitur kompleks yang tersedia di berbagai platform lokapasar (marketplace).
"Masalahnya bukan pada gagap teknologi, melainkan belum terbiasanya mereka dengan ekosistem tersebut. Selain itu, banyak pelaku UMKM yang masih berjuang sebagai single fighter atau bekerja sendirian," ungkap Weliyan saat ditemui di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) ini membuat proses belajar menjadi terhambat. Weliyan menambahkan bahwa seringkali pelaku usaha mendapatkan pelatihan atau materi edukasi yang berkualitas, namun tidak segera dipraktikkan sehingga ilmu tersebut menguap begitu saja.
Manajemen Waktu dan Diversifikasi Produk sebagai Kunci
Untuk mengatasi kendala tersebut, Weliyan menekankan pentingnya konsistensi dalam manajemen waktu. Pelaku usaha harus mampu menyisihkan waktu khusus untuk mendalami strategi pemasaran daring agar pengetahuan yang didapat bisa langsung diimplementasikan ke dalam operasional bisnis.
Selain aspek teknis, ketangkasan dalam membaca pasar juga menjadi faktor penentu. Ketika produk utama mengalami penurunan permintaan, pelaku UMKM dituntut untuk kreatif melakukan diversifikasi produk yang masih relevan.
"Jika penjualan produk utama, misalnya sepatu, sedang lesu, pengusaha bisa mencoba menawarkan produk pelengkap seperti ikat pinggang untuk menjaga arus kas dan performa penjualan tetap stabil," jelasnya.
Memaksimalkan Live Streaming untuk Penetrasi Pasar
Di sisi lain, tren belanja melalui siaran langsung atau live streaming kini menjadi primadona baru dalam dunia e-commerce. Menanggapi hal ini, Womanpreneur & E-Commerce Coach Rika Yeo memberikan tips strategis agar sesi live streaming tidak sekadar menjadi ajang pamer produk, tetapi benar-benar menjadi mesin penjualan.
Menurut Rika, kunci keberhasilan live streaming terletak pada tujuan yang terukur. Pengusaha tidak boleh asal melakukan siaran, melainkan harus memiliki perencanaan matang mengenai produk apa yang akan ditonjolkan.
Ia menyarankan agar pelaku UMKM mengombinasikan produk unggulan (hero products) dengan produk pendukung lainnya dalam satu sesi siaran. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan basket size atau jumlah barang yang dibeli konsumen dalam satu kali transaksi, yang pada akhirnya akan mendongkrak total omzet secara keseluruhan.






