Poros Informasi – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyusun strategi besar untuk mengintegrasikan hasil budi daya perikanan lokal ke dalam rantai pasok program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Fokus utama saat ini diarahkan pada Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih agar mampu menyediakan produk olahan ikan lele dan nila yang siap saji.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa hasil budi daya ikan air tawar tidak hanya berhenti di tingkat peternak, tetapi memiliki nilai tambah yang tinggi melalui proses hilirisasi.

Hilirisasi Produk Perikanan Jadi Kunci Utama
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menekankan bahwa kunci keberhasilan dalam menyuplai kebutuhan program MBG terletak pada kualitas dan bentuk produk. Menurutnya, pengolahan ikan menjadi produk siap masak (ready-to-cook) sangat krusial untuk memenuhi standar mutu dan keamanan pangan yang diminta oleh konsumen industri.
"Komoditas ikan darat tematik seperti lele dan nila perlu dikelola menjadi produk bernilai tambah. Hal ini penting agar memenuhi standar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Jika standar mutu dan keamanan pangan terpenuhi, para pembeli atau offtaker, termasuk dapur SPPG, akan sangat tertarik untuk menyerap produk tersebut," ujar Trenggono dalam keterangan resminya di Jakarta.
Strategi Bioflok dan Perluasan Pasar
Sebagai bagian dari upaya penguatan produksi, KKP telah mengimplementasikan teknologi budi daya berbasis bioflok di 100 titik lokasi Kopdes Merah Putih yang tersebar di Pulau Jawa. Teknologi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan ikan secara berkelanjutan.
Untuk menjembatani antara produsen dan konsumen, KKP aktif mempertemukan pengelola koperasi dengan berbagai sektor potensial, mulai dari hotel, restoran, jasa boga, ritel, hingga unit pelayanan gizi pemerintah.
Hasil dari upaya jemput bola ini mulai menunjukkan tren positif. Tercatat, telah diperoleh 15 surat minat atau Letter of Interest (LoI) sebagai bentuk ketertarikan pasar. Bahkan, kerja sama konkret telah terjalin melalui dua perjanjian penjualan produk olahan lele siap masak antara Kopdes Merah Putih dengan SPPG di wilayah Kudus dan Rembang, Jawa Tengah.
Mengincar Pasar Jasa Boga dan Ritel
Senada dengan Menteri Trenggono, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Erwin Dwiyana, menyebutkan bahwa sektor jasa boga dan SPPG merupakan pasar yang sangat menjanjikan.
Erwin menegaskan bahwa tantangan bagi koperasi saat ini bukan sekadar memproduksi ikan dalam jumlah banyak, melainkan bagaimana menciptakan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar modern.
"Kami mendorong unit usaha pengelola koperasi agar tidak hanya mahir dalam memproduksi ikan, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan yang sesuai dengan spesifikasi kebutuhan konsumen, baik itu SPPG, hotel, maupun ritel," pungkas Erwin.






