Poros Informasi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan memasuki fase konsolidasi dengan kecenderungan bergerak positif pada pekan perdagangan 12-16 Oktober 2026. Berdasarkan proyeksi teknikal, indeks diperkirakan akan bergerak dalam rentang 6.000 hingga 6.215, dengan peluang besar untuk melakukan rebound guna menutup celah (gap) di level 6.227-6.231.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, mengungkapkan bahwa arah pergerakan pasar modal Indonesia pekan ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan indeks dalam menjaga momentum teknikalnya.

Skenario Bullish dan Batas Aman Investor
Dalam analisisnya, Brigita menjelaskan bahwa terdapat dua skenario utama yang perlu diwaspadai oleh para pelaku pasar. Pada skenario bullish, IHSG memiliki potensi kuat untuk melanjutkan penguatan menuju area 6.227-6.231. Namun, investor diminta tetap waspada terhadap risiko koreksi jika indeks gagal bertahan di atas level psikologis tertentu.
"Jika IHSG tidak mampu mempertahankan momentum dan justru menembus ke bawah level 5.973, maka risiko koreksi lanjutan menuju area 5.850-5.911 perlu diantisipasi," ujar Brigita dalam laporan risetnya yang dirilis Senin (12/10/2026).
Untuk jangka pendek, investor disarankan memperhatikan zona koreksi di rentang 6.008-6.025, dengan level support terdekat yang berada di posisi 6.018. Jika indeks berhasil menembus resistance di atas 6.215, maka jalan menuju level 6.297 akan terbuka lebar.
Analisis Teknikal dan Arus Modal Asing
Secara teknikal, performa IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026) menunjukkan tren positif dengan penguatan 1,04 persen ke level 6.093,76. Indeks juga berhasil bertahan di atas garis MA3 dan level psikologis 6.000. Meskipun indikator MACD menunjukkan tekanan jual yang mulai mereda, potensi death cross pada Stochastic RSI tetap menjadi catatan risiko bagi penguatan jangka pendek.
Di sisi lain, dinamika arus modal asing (foreign flow) menunjukkan tren yang kontradiktif. Meski kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) naik menjadi Rp10.701 triliun, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp2,44 triliun.
Berikut adalah rincian pergerakan saham oleh investor asing:
- Saham Paling Banyak Dibeli: ULTJ (Rp111,5 miliar), MEDC (Rp48,5 miliar), dan EMAS (Rp42,1 miliar).
- Saham Paling Banyak Dijual: GOTO (Rp663,2 miliar), BBCA (Rp293,5 miliar), dan BMRI (Rp235,6 miliar).
Pengaruh Sentimen Global terhadap Pasar Domestik
Kondisi pasar domestik tidak lepas dari pengaruh volatilitas pasar global. Brigita mencatat bahwa pergerakan Wall Street yang bervariasi, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS, serta risiko geopolitik menjadi faktor kunci yang memengaruhi psikologi pasar.
Meskipun sempat tertekan oleh isu pendapatan sektor teknologi dan kenaikan yield US Treasury 10 tahun, sentimen global mulai membaik pada akhir pekan lalu. Hal ini terlihat dari penguatan indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq yang didorong oleh pemulihan saham teknologi serta meredanya tekanan di pasar obligasi. Kondisi inilah yang diharapkan dapat memberikan katalis positif bagi penguatan IHSG di pekan ini.






