Poros Informasi – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, memberikan peringatan keras kepada para pelaku industri pertambangan. Dalam sebuah forum strategis, ia menekhentan agar para pengusaha tidak hanya berfokus pada pengejaran profit jangka pendek melalui eksploitasi besar-besaran, melainkan harus memikirkan keberlanjutan bagi generasi mendatang.
Bahlil menegaskan bahwa tata kelola sumber daya alam (SDA) Indonesia harus bertransformasi dari sekadar mengejar volume produksi menjadi fokus pada penciptaan nilai tambah (value added). Hal ini penting agar kekayaan alam yang dimiliki bangsa tidak habis begitu saja tanpa memberikan dampak ekonomi yang jangka panjang.

Urgensi Tata Kelola yang Bijak dan Berkelanjutan
Dalam keterangannya di acara Minerba Convex, Bahlil menyoroti fenomena eksploitasi yang seringkali tidak terkendali. Ia menggunakan analogan yang cukup tajam untuk menggambarkan perilaku para pelaku industri yang terlalu agresif dalam mengeruk kekayaan alam.
"Kita harus mengelola sumber daya alam dengan tata kelola yang baik dan benar. Jangan mengelolanya seperti orang yang sedang kelaparan. Jangan seperti orang yang sedang berpuasa, lalu saat buka puasa, ia melahap apa saja tanpa kendali," ujar Bahlil dengan tegas.
Menurutnya, pendekatan yang hanya mengandalkan volume produksi tanpa memperhatikan nilai tambah hanya akan merugikan posisi tawar Indonesia di pasar global.
Tantangan Produksi Batu Bara dan Kendali Harga
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah ketergantungan pada komoditas batu bara. Bahlil memberikan gambaran nyata mengenai besarnya skala produksi batu bara di Indonesia. Ia mencatat bahwa pada tahun 2025, proyeksi produksi batu bara nasional diperkirakan mencapai angka 540 juta ton.
Angka tersebut merupakan porsi yang sangat signifikan, yakni setara dengan sekitar 43% dari total perdagangan batu bara dunia yang diprediksi mencapai 1,3 miliar ton. Namun, Bahlil mengingatkan bahwa tingginya volume produksi tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan maksimal bagi negara.
Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kendali Indonesia terhadap fluktuasi harga komoditas di pasar internasional. Tanpa strategi hilirisasi dan penguatan nilai tambah, Indonesia hanya akan menjadi penyedia bahan mentah yang rentan terhadap perubahan harga global, sehingga manfaat ekonomi yang dirasakan tidak akan optimal bagi kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan lingkungan.






