Ekspor Migas RI Terperosok, Sektor Nonmigas Jadi Penyelamat?

Renita

Ekspor Migas RI Terperosok, Sektor Nonmigas Jadi Penyelamat?

Poros Informasi – Sektor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia tengah menghadapi tantangan berat. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor migas nasional menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026.

Data menunjukkan bahwa nilai ekspor migas Indonesia hanya mampu menyentuh angka 8,96 miliar dolar AS selama periode Januari hingga September 2026. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, angka ini mengalami kontraksi atau penurunan sebesar 9,11 persen.

Ekspor Migas RI Terperosok, Sektor Nonmigas Jadi Penyelamat?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kontraksi di Tengah Pemulihan Manufaktur Global

Fenomena penurunan ekspor migas ini terbilang unik. Pasalnya, pelemahan ini terjadi di saat aktivitas manufaktur global justru sedang menunjukkan tren perbaikan. Hal ini terlihat dari angka Purchasing Managers’ Index (PMI) di sejumlah negara mitra dagang utama yang berada di zona ekspansif, seperti Amerika Serikat (55,9), India (55,1), Jepang (54,1), hingga Tiongkok (52,1).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa merosotnya nilai ekspor migas ini turut memberikan tekanan pada laju ekspansi pengiriman barang nasional secara keseluruhan.

"Sepanjang Januari hingga September 2026, total nilai ekspor nasional sebenarnya tercatat sebesar 221,23 miliar dolar AS, atau tumbuh 5,58 persen. Namun, pertumbuhan ini tertahan oleh nilai ekspor migas yang turun menjadi 8,96 miliar dolar AS atau merosot 9,11 persen," ungkap Ateng dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Hilirisasi dan Sektor Nonmigas Jadi Motor Pertumbuhan Baru

Meski sektor migas mengalami kelesuan, wajah ekspor Indonesia tetap terlihat cerah berkat performa sektor nonmigas. Sektor ini justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 6,30 persen dengan nilai mencapai 212,27 miliar dolar AS.

Keberhasilan ini didorong oleh beberapa komoditas unggulan, di antaranya lemak dan minyak nabati (HS 15), nikel beserta produk turunannya (HS 75), serta bahan bakar mineral (HS 27).

Peran Vital Industri Pengolahan

Secara lebih mendalam, sektor industri pengolahan atau manufaktur menjadi tulang punggung utama dalam menopang nilai ekspor nonmigas. Sektor ini mencatatkan kenaikan kumulatif sebesar 8,93 persen dan memberikan kontribusi sebesar 7,15 persen terhadap total nilai ekspor nasional.

Akselerasi pada sektor hilirisasi industri ini terbukti menjadi penyelamat devisa negara. Di tengah lesunya komoditas migas, produk olahan logam dan hasil perkebunan justru menunjukkan lonjakan ekspor yang signifikan, sekaligus mempertegas peran vital strategi hilirisasi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar