Ekonomi RI Terancam? Prabowo Desak Mandiri Pangan, Ini Alasannya!
Oleh: Tangguh Yudha

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:20 WIB
Poros Informasi – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menggarisbawahi urgensi penguatan sektor pangan sebagai pilar utama kemandirian nasional. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa kedaulatan pangan adalah prasyarat fundamental bagi Indonesia untuk mandiri memenuhi kebutuhan internal di tengah gejolak global yang kian tak terduga. Penegasan ini muncul di tengah sorotan tajam terhadap ketergantungan impor yang dinilai rentan terhadap guncangan ekonomi dan geopolitik.
Visi Kemandirian Pangan: Refleksi Sejarah dan Tantangan Global
Prabowo menegaskan, "Jika kita benar-benar ingin merdeka, kita harus mampu menjamin kebutuhan pangan kita sendiri." Pernyataan ini, yang disampaikan pada Jumat (12/03/2026), bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari sebuah visi jangka panjang yang berakar pada sejarah bangsa.
Jejak Soekarno dalam Agenda Pangan Nasional
Pandangan Presiden Prabowo ini selaras dengan pemikiran Proklamator dan Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Sejak awal kemerdekaan, Bung Karno telah menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Beliau memahami betul bahwa kemerdekaan sejati tidak akan tercapai sepenuhnya jika suatu bangsa belum mampu menjamin ketersediaan pangan bagi rakyatnya sendiri. "Bung Karno selalu bicara pertanian," ujar Prabowo, menggarisbawahi relevansi abadi dari pesan tersebut dalam konteks pembangunan ekonomi bangsa.
Guncangan Geopolitik dan Dampaknya pada Ketahanan Pangan
Lebih lanjut, Prabowo menyoroti dinamika lanskap global yang semakin terintegrasi, di mana konflik di satu wilayah dapat memicu efek domino yang meluas ke berbagai negara. Ia mengambil contoh invasi Rusia ke Ukraina, yang secara langsung menyebabkan lonjakan drastis harga komoditas pangan global seperti gandum dan jagung akibat terganggunya rantai pasok. "Perang Ukraina berdampak ke kita karena gandum dan jagung naik," jelasnya, menggambarkan bagaimana peristiwa geopolitik jauh dapat mengguncang stabilitas ekonomi domestik dan daya beli masyarakat.
Mengurai Risiko Ketergantungan Impor dan Jalan Menuju Swasembada
Kondisi tersebut, menurut Prabowo, menjadi pelajaran berharga mengenai bahaya laten dari ketergantungan berlebihan terhadap impor pangan. Di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat, ketergantungan ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat rentan terhadap volatilitas harga dan gangguan pasokan. Oleh karena itu, ia menekankan urgensi bagi Indonesia untuk segera memperkuat fondasi kemandirian pangan dengan mengoptimalkan seluruh potensi produksi dalam negeri.
Strategi ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan kalori, tetapi juga tentang membangun resiliensi ekonomi dan politik bangsa. Dengan mengurangi ketergantungan pada pasar internasional yang fluktuatif, Indonesia dapat lebih leluasa menentukan arah kebijakan ekonominya sendiri, serta melindungi rakyat dari dampak negatif gejolak global. Peningkatan kapasitas produksi domestik, diversifikasi komoditas pangan, dan modernisasi sektor pertanian menjadi kunci utama dalam mewujudkan cita-cita kemandirian pangan yang telah diwariskan sejak era pendiri bangsa, demi mencapai stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.






