Ekonomi RI Bakal Melejit? Bappenas Bocorkan Strategi Rahasia Ini!

Renita

Poros Informasi – Jakarta, 14 September 2026 – Di tengah hiruk pikuk upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, sebuah paradigma baru mulai mengemuka dari jantung kebijakan nasional. Bukan sekadar investasi atau angka Produk Domestik Bruto (PDB), namun inovasi di ranah sosial dan lingkungan kini diyakini sebagai kunci vital menuju pembangunan berkelanjutan yang kokoh. Para pemangku kebijakan, termasuk Menteri PPN/Bappenas dan Menteri Lingkungan Hidup, menegaskan urgensi pendekatan holistik ini dalam menghadapi tantangan global dan domestik.

Mengukir Pertumbuhan Berkelanjutan: Lebih dari Sekadar Angka PDB

Ekonomi RI Bakal Melejit? Bappenas Bocorkan Strategi Rahasia Ini!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pergeseran fokus dari pertumbuhan ekonomi semata menuju pembangunan yang lebih inklusif dan bertanggung jawab menjadi sorotan utama. Pemerintah menyadari bahwa keberlanjutan ekonomi tak bisa dipisahkan dari kualitas lingkungan dan kesejahteraan sosial.

Visi Bappenas: Kualitas Lingkungan dan Ketahanan Masyarakat sebagai Pilar Ekonomi

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy, dengan tegas menyatakan dukungan penuh terhadap inovasi yang melampaui batas-batas konvensional. Menurutnya, inovasi semacam ini harus mampu menciptakan dampak nyata, mulai dari peningkatan kualitas lingkungan, penguatan sektor usaha, hingga peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan.

"Kualitas lingkungan yang prima dan ketahanan masyarakat yang kuat tidak bisa lagi dipandang sebelah mata; keduanya harus menjadi bagian integral dari strategi pertumbuhan ekonomi kita," ujar Rachmat Pambudy dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Senin (14/9/2026). Ia menambahkan, "Kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap investasi dan aktivitas produksi tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga menjaga kelestarian sumber daya alam yang menjadi fondasi pembangunan, serta memberikan manfaat konkret bagi komunitas di sekitarnya." Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran fokus dari pertumbuhan ekonomi semata menuju pembangunan yang lebih inklusif dan bertanggung jawab.

Etika Lingkungan: Dari Himbauan Moral Hingga Instrumen Hukum

Dalam konteks inovasi lingkungan, peran kepatuhan menjadi krusial. Namun, kepatuhan yang diharapkan bukan hanya sekadar memenuhi regulasi, melainkan melampauinya dengan kesadaran etik yang mendalam.

Pendekatan Berlapis KLHK: Mendorong Kepatuhan Melampaui Regulasi

Senada dengan Bappenas, Menteri Lingkungan Hidup / Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menyoroti pentingnya kepatuhan yang melampaui sekadar regulasi. Ia menyebut program ENSIA sebagai salah satu contoh praktik ‘beyond compliance’, di mana inisiatif sukarela dari pelaku usaha dan masyarakat mampu melampaui standar kepatuhan minimal yang ditetapkan.

Jumhur Hidayat menjelaskan bahwa dalam upaya menumbuhkan etika lingkungan, terdapat hierarki pendekatan yang progresif. "Dalam mewujudkan kepatuhan etik lingkungan, kita mulai dengan himbauan moral, kemudian perintah-perintah yang bersumber dari nilai-nilai religi, dan sebagai instrumen terakhir, barulah kita menggunakan penegakan hukum," papar Jumhur. "Artinya, bagi mereka yang tidak tergerak oleh pendekatan moral maupun religi, instrumen hukum akan menjadi jalan terakhir untuk memastikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan."

Pergeseran paradigma ini menandai babak baru dalam strategi pembangunan nasional. Dengan menempatkan inovasi sosial dan lingkungan sebagai inti dari pertumbuhan ekonomi, Indonesia tidak hanya berupaya mencapai kemajuan material, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kokoh untuk masa depan yang adil, lestari, dan berdaya tahan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ini adalah investasi jangka panjang yang diharapkan akan membuahkan dividen berlipat ganda, baik bagi ekonomi maupun kualitas hidup.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar