Poros Informasi – Di tengah ancaman kemarau panjang dan fenomena El Nino yang kerap menghantui sektor pertanian nasional, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melancarkan strategi jitu yang berpotensi merevolusi produktivitas lahan sawah. Langkah progresif ini terlihat jelas di Karawang, Jawa Barat, di mana upaya optimalisasi pompanisasi digencarkan untuk mendongkrak indeks pertanaman (IP) dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. Sebuah inovasi yang diharapkan mampu menjadi garda terdepan ketahanan pangan di tengah tantangan iklim global.
Strategi Revolusioner di Tengah Tantangan Iklim

Amran menjelaskan bahwa areal persawahan seluas 3.000 hektare di Karawang yang selama ini hanya mampu ditanami dua kali, kini menjadi target utama peningkatan produktivitas. Melalui intervensi pompanisasi, lahan tersebut diharapkan dapat ditanami satu kali lagi, mengubah siklus tanam menjadi tiga kali setahun. "Kami sidak tadi di Karawang, itu ada areal luasnya 3.000 hektar. Itu tanamnya dua kali selama ini. Nah, di musim kering ini kita optimalkan tanam satu kali lagi, jadi sehingga tiga kali," ujar Amran pada Senin (31/8/2026), menegaskan komitmennya. Peningkatan ini, lanjutnya, diproyeksikan mampu menambah nilai produksi hingga Rp136 miliar dari area tersebut, sebuah angka yang signifikan bagi perekonomian petani lokal dan pasokan beras nasional.
Optimalisasi Pompanisasi: Kunci Peningkatan Produktivitas
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Mentan Amran tidak bekerja sendiri. Ia menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur irigasi secara komprehensif, mulai dari saluran sekunder, primer, hingga tersier. Proyek perbaikan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), menunjukkan sinergi antarlembaga dalam menghadapi tantangan pangan. Lebih lanjut, pemasangan pompa air sepanjang 70 kilometer menjadi tulang punggung program ini, menjamin pasokan air yang stabil dan memadai bagi lahan pertanian, bahkan di tengah kondisi kekeringan ekstrem.
Amran menilai, pompanisasi bukan sekadar solusi jangka pendek, melainkan strategi fundamental untuk menjaga stabilitas produksi beras nasional di tengah ancaman perubahan iklim global, khususnya fenomena El Nino. Ia merujuk pada pengalaman sukses pemerintah pada tahun 2023 dan 2024, di mana produksi beras justru mencatat peningkatan signifikan sebesar 2,8 juta ton, meskipun Indonesia kala itu menghadapi dampak El Nino yang cukup parah. Ini membuktikan efektivitas pendekatan yang proaktif dan berbasis teknologi dalam menjaga ketersediaan pangan.
Langkah Mentan Amran di Karawang ini menjadi prototipe penting bagi upaya peningkatan ketahanan pangan nasional. Dengan mengoptimalkan setiap jengkal lahan dan memanfaatkan teknologi pompanisasi, Indonesia menunjukkan kapasitasnya untuk tidak hanya bertahan dari gempuran El Nino, tetapi juga meningkatkan produksi secara berkelanjutan. Ini adalah investasi krusial bagi masa depan pertanian dan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana dilaporkan oleh porosinformasi.co.id.






