Poros Informasi – Ambisi pemerintah untuk memperkuat armada transportasi massal di wilayah Jabodetabek kini membentur tembok realitas kapasitas produksi nasional. Meskipun suntikan dana melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) telah disiapkan, pemenuhan kebutuhan Kereta Rel Listrik (KRL) tampaknya tidak akan berjalan secepat yang diharapkan.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengungkapkan adanya celah antara target pengadaan dengan kemampuan produksi riil di lapangan. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat tingginya ketergantungan masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel ini.

Target PMN 35 Trainset Masih Terganjal Kapasitas
Berdasarkan kebijakan yang telah disepakati pada tahun 2023, pemerintah telah mengalokasikan dana PMN untuk pengadaan sebanyak 35 trainset KRL. Namun, proyeksi hingga Oktober 2026 menunjukkan bahwa baru 27 trainset yang masuk dalam jalur penyelesaian. Artinya, terdapat kekurangan delapan unit yang belum masuk dalam rencana penyelesaian pengadaan.
Dudy menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) menuntaskan komitmen pengadaan yang sudah disetujui tersebut.
"Kami terus mendorong KAI agar segera memenuhi kekurangan tersebut, dengan fokus utama pada pengadaan 35 trainset yang sudah disetujui sejak 2023. Namun, di atas segalanya, aspek kelaikan teknis dan standar keselamatan tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar," ujar Dudy saat memberikan keterangan di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Kendala Produksi INKA dan Ketergantungan Impor
Jika menilik komposisi armada yang sedang diproses, terlihat adanya pembagian sumber pengadaan. Saat ini, sebanyak 11 trainset baru telah didatangkan dari China dan sudah mulai beroperasi melayani penumpang. Sementara itu, 16 trainset lainnya tengah dalam proses pengerjaan oleh PT Industri Kereta Api (INKA).
Persoalan utama muncul pada lini produksi dalam negeri. INKA saat ini juga masih berjuang menyelesaikan tujuh trainset yang sebelumnya sempat mengalami kendala teknis. Dari jumlah tersebut, dua unit diharapkan rampung pada tahun ini, sementara sisanya baru dijadwalkan selesai pada tahun 2027.
Mengapa Pemenuhan Armada Terasa Lambat?
Faktor utama yang menghambat percepatan ini adalah rendahnya output produksi tahunan PT INKA. Sebagai satu-satunya produsen kereta api milik negara, kapasitas produksi INKA dinilai belum mampu mengejar laju pertumbuhan kebutuhan transportasi publik yang sangat masif.
"Harapannya kebutuhan ini bisa segera terpenuhi. Namun kita harus realistis, proses produksi di INKA membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika melihat data, rata-rata kemampuan produksi INKA saat ini hanya berkisar tiga trainset per tahun," tambah Dudy menjelaskan kendala struktural tersebut.
Kondisi ini menjadi sinyal bagi pemerintah dan pemangku kepentingan terkait untuk mengevaluasi strategi penguatan industri manufaktur kereta api nasional agar tidak terus-menerus bergantung pada ritme produksi yang lambat atau ketergantungan pada impor di masa mendatang.






