Natal Usai, Harga Pangan Meroket: Bawang & Beras Bikin Kaget!

Renita

Natal Usai, Harga Pangan Meroket: Bawang & Beras Bikin Kaget!

Poros Informasi – Jakarta – Periode pasca-Natal dan menyongsong Tahun Baru 2025/2026 menjadi sorotan tajam bagi stabilitas harga pangan nasional. Data terbaru menunjukkan adanya gejolak signifikan pada sejumlah komoditas esensial, utamanya bawang dan beras, yang kini membebani anggaran rumah tangga. Fenomena ini, seperti dilaporkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia pada Jumat (26/12/2025) pukul 8.30 WIB, mengindikasikan tekanan inflasi yang perlu diwaspadai.

Lonjakan Harga Komoditas Utama Pasca-Natal

Natal Usai, Harga Pangan Meroket: Bawang & Beras Bikin Kaget!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Situasi harga pangan di awal pekan setelah perayaan Natal 2025 ini menunjukkan tren kenaikan yang cukup drastis dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mayoritas komoditas strategis mengalami lonjakan harga yang signifikan, menciptakan tantangan baru bagi daya beli masyarakat.

Bawang Merah dan Bawang Putih Melonjak Signifikan

Komoditas bumbu dapur yang menjadi primadona, bawang merah, mencatat kenaikan harga yang mencengangkan. Tercatat, harganya melesat 53,59 persen, mencapai angka Rp81.250 per kilogram. Tak ketinggalan, bawang putih juga menunjukkan tren serupa dengan lonjakan yang lebih fantastis, yakni 72,09 persen, kini dibanderol Rp68.750 per kilogram. Kenaikan drastis ini mengindikasikan adanya gangguan pada rantai pasok atau peningkatan permintaan yang tidak diimbangi suplai memadai di penghujung tahun.

Beras dari Kualitas Bawah hingga Super Ikut Terkerek

Staple food utama masyarakat, beras, juga tidak luput dari gejolak harga. Hampir seluruh kategori beras mengalami kenaikan signifikan. Beras kualitas bawah I melonjak 52,78 persen menjadi Rp22.000 per kilogram, sementara kualitas bawah II meroket 64,81 persen ke level Rp23.650 per kilogram.

Untuk beras kualitas medium, tipe I naik 50,94 persen menjadi Rp24.000 per kilogram dan tipe II naik 52,85 persen menjadi Rp24.150 per kilogram. Bahkan beras kualitas super pun tak terhindarkan, dengan tipe I naik 27,19 persen menjadi Rp21.750 per kilogram dan tipe II naik 43,84 persen mencapai Rp23.950 per kilogram. Kenaikan ini sangat krusial mengingat beras adalah kebutuhan pokok yang dikonsumsi secara luas, sehingga dampaknya terasa langsung pada daya beli masyarakat.

Implikasi Ekonomi dan Antisipasi Pemerintah

Gejolak harga pangan pasca-Natal ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan potensi tekanan inflasi yang lebih luas. Kenaikan harga pada komoditas strategis seperti bawang dan beras berpotensi menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Bank Indonesia melalui PIHPS terus memantau pergerakan ini sebagai indikator penting dalam menjaga stabilitas moneter.

Pemerintah, melalui kementerian terkait, diharapkan segera merumuskan dan mengimplementasikan langkah-langkah stabilisasi harga. Intervensi pasar, optimalisasi distribusi, serta memastikan ketersediaan pasokan menjadi kunci untuk meredam lonjakan lebih lanjut dan melindungi konsumen dari dampak inflasi yang tidak terkendali. Kordinasi lintas sektor dan antisipasi dini terhadap faktor-faktor pemicu kenaikan harga, seperti cuaca ekstrem atau gangguan logistik, menjadi sangat vital untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga

Ikuti Kami

Tags

Tinggalkan komentar