Rupiah Anjlok ke Rp17.917! Gejolak Timur Tengah Jadi Biang Kerok?

Renita

Rupiah Anjlok ke Rp17.917! Gejolak Timur Tengah Jadi Biang Kerok?

Poros Informasi – Nilai tukar Rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan di pasar valuta asing. Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang Garuda tercatat merosot 35 poin atau setara dengan 0,20 persen, sehingga menyentuh level Rp17.917 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar terkait stabilitas moneter domestik.

Eskalasi Konflik Yaman Mengancam Pasokan Energi Global

Rupiah Anjlok ke Rp17.917! Gejolak Timur Tengah Jadi Biang Kerok?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pelemahan Rupiah kali ini tidak lepas dari tekanan sentimen eksternal yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik di Yaman kembali memanas setelah pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dengan dukungan penuh dari Arab Saudi, menyatakan kesiapannya untuk meluncurkan operasi militer skala besar. Langkah ini diambil guna merebut kembali wilayah-wilayah yang saat ini berada di bawah kendali kelompok pemberontak.

Serangan Rudal Houthi dan Dampaknya terhadap Harga Minyak

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa situasi semakin genting setelah kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal balistik serta pesawat nirawak (drone) ke fasilitas vital Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais.

Meskipun pihak Arab Saudi belum memberikan konfirmasi resmi terkait detail serangan tersebut, pasar bereaksi cepat dengan melakukan aksi jual terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Kekhawatiran utama pasar terletak pada potensi gangguan produksi minyak dari salah satu eksportir terbesar dunia tersebut, yang dapat memicu lonjakan harga energi global.

Dinamika Politik AS dan Agenda Ekonomi yang Menanti

Selain isu Timur Tengah, tensi politik di Amerika Serikat juga turut memberikan tekanan pada pasar global. Pernyataan keras dari Donald Trump dalam rapat umum di Ohio terkait persaingan dengan Partai Demokrat menciptakan ketidakpastian politik di Negeri Paman Sam.

Pasar kini tengah bersiap menghadapi rangkaian data ekonomi penting dari AS pada pekan ini. Investor sedang menanti rilis data ISM Services PMI, laporan ketenagakerjaan mingguan, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC), serta data sentimen konsumen dari University of Michigan. Semua data ini akan menjadi kompas bagi pergerakan dolar AS ke depan.

Strategi Pemerintah Indonesia Menjaga Ketahanan BBM

Di sisi domestik, gejolak global ini memberikan dampak langsung pada struktur impor energi Indonesia. Akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, Indonesia tercatat telah kehilangan sekitar 25 persen sumber pasokan impor bahan bakar.

Menyikapi kondisi darurat ini, pemerintah bersama Pertamina tengah mengambil langkah taktis dengan melakukan pencarian langsung (hunting) ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok minyak. Langkah ini diambil karena mekanisme lelang konvensional kini menghadapi kendala akibat minimnya peserta lelang.

Meskipun strategi pengadaan langsung ini berisiko membuat harga beli BBM menjadi lebih tinggi dibandingkan mekanisme normal, pemerintah menegaskan bahwa langkah ini adalah harga mati demi menjaga ketahanan pasokan BBM nasional dan memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat di tengah ketidakpastian global yang kian mencekam.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar