Poros Informasi – Bank Indonesia (BI) terus menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas moneter nasional melalui langkah intervensi pasar yang agresif. Tercatat, hingga periode Oktober 2026, bank sentral telah mengucurkan dana sebesar Rp135 triliun untuk menyerap Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya krusial untuk menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem keuangan sekaligus membentengi nilai tukar Rupiah dari ancaman arus modal keluar (capital outflow).
Intervensi Masif Bank Indonesia di Pasar Sekunder

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengungkapkan bahwa akumulasi pembelian SBN sejak awal tahun hingga Oktober 2026 telah mencapai angka Rp135 triliun. Secara spesifik, pada bulan Oktober saja, BI telah melakukan pembelian senilai Rp13 triliun.
Menurut Erwin, penggunaan instrumen surat utang negara ini merupakan pilar fleksibel yang dimiliki bank sentral. Dengan melakukan pembelian di pasar sekunder, BI memiliki ruang gerak yang luas untuk meredam gejolak yang terjadi di pasar finansial domestik, terutama saat terjadi volatilitas tinggi.
Menangkal Efek Domino Capital Outflow
Secara teknis, intervensi BI melalui pembelian SBN memiliki dua tujuan strategis yang saling berkaitan. Fokus utamanya adalah mencegah efek rambatan (spillover effect) yang dapat dipicu oleh aksi jual massal oleh investor asing.
Ketika investor global melakukan pelepasan aset secara besar-besaran pada portofolio obligasi negara, hal tersebut berisiko tinggi menekan harga pasar surat utang domestik. Jika harga obligasi anjlok, dampaknya akan merembet langsung pada pelemahan nilai tukar Rupiah secara mendadak.
"Ketika terjadi outflow yang kencang dan banyak penjualan SBN oleh investor asing, dampak selanjutnya adalah ke nilai tukar. Oleh karena itu, kami melakukan pembelian SBN untuk melakukan defense terhadap nilai tukar," jelas Erwin dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Dengan bertindak sebagai pembeli siaga, Bank Indonesia berupaya menjaga agar harga obligasi tetap stabil, sehingga tekanan depresiasi terhadap mata uang Garuda dapat diminimalisir dan stabilitas ekonomi makro tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar global.






