Terkuak! Modus Licik Pembakaran Lahan Berkedok Mancing Terbongkar

Renita

Poros Informasi – Sebuah modus operandi pembakaran lahan yang diduga melibatkan perusahaan besar dengan memperalat komunitas lokal, kini menjadi sorotan serius di tingkat nasional. Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah menerima informasi mendalam mengenai praktik licik ini, di mana warga ‘bertopeng kegiatan memancing’ di lokasi sebagai dalih untuk memulai kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Praktik ini tidak hanya merusak ekosistem vital, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang masif, mulai dari gangguan transportasi, kesehatan publik, hingga citra investasi daerah.

Modus Baru Ancam Lingkungan dan Keberlanjutan Ekonomi Riau

Terkuak! Modus Licik Pembakaran Lahan Berkedok Mancing Terbongkar
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Informasi krusial ini disampaikan langsung oleh Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau, Irjen Pol. Herry Heryawan, dalam sebuah rapat koordinasi strategis penanggulangan karhutla di Riau yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo. Laporan tersebut mengindikasikan adanya pola terorganisir di balik insiden karhutla, yang selama ini sering kali dianggap sebagai kejadian sporadis atau kelalaian semata. Modus operandi ini mengindikasikan adanya motif ekonomi di balik pembakaran lahan, di mana perusahaan diduga mencari keuntungan cepat tanpa memedulikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

"Dalam rapat yang dipimpin Bapak Presiden, kami melaporkan penanganan kasus karhutla yang telah dilakukan Polda Riau," ujar Herry, sebagaimana dikutip dari porosinformasi.co.id. "Dugaan modus perusahaan besar yang memanfaatkan masyarakat kecil dengan berpura-pura memancing di lokasi untuk membakar lahan menjadi perhatian utama kami."

Data Penegakan Hukum dan Luas Lahan Terbakar

Data terkini yang dipaparkan Kapolda Riau menunjukkan skala permasalahan yang signifikan. Sepanjang tahun 2026, aparat kepolisian telah berhasil menetapkan 36 tersangka dari 33 laporan polisi yang masuk. Total luas lahan yang terbakar akibat insiden-insiden ini mencapai angka mencengangkan, yakni 806,57 hektare. Angka ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran serius terhadap sektor pertanian, perkebunan, dan kualitas udara di wilayah tersebut.

"Dalam aspek penegakan hukum, sejak tahun 2025 hingga saat ini, kita sudah melakukan pendekatan multi-door approach. Sudah ada 94 kasus atau laporan polisi dengan 106 tersangka," jelas Herry. "Khusus untuk tahun 2026, total dari Januari sampai sekarang ada 33 laporan polisi dan 36 tersangka dengan luas yang terbakar sejumlah 806,57 hektare."

Akar Masalah: Intervensi Manusia dan Upaya Pencegahan Komprehensif

Hasil pemetaan kasus karhutla di Riau secara konsisten mengarah pada satu kesimpulan: kebakaran hutan dan lahan diakibatkan oleh aktivitas manusia. Baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja, faktor antropogenik menjadi pemicu utama. Herry menyoroti data menarik dari periode pandemi COVID-19. "Untuk upaya pencegahan sekaligus memutus mata rantai karhutla yang disebabkan, semuanya disebabkan oleh manusia, Bapak. Setelah kita melihat data di 2021-2022 pada saat Covid itu zero karhutla. Jadi, semua saat ini yang dilakukan karhutla, semuanya dari manusia, baik yang disengaja maupun tidak disengaja," tegasnya. Ketiadaan karhutla saat mobilitas manusia dibatasi secara ketat selama pandemi menjadi bukti kuat bahwa manusia adalah aktor utama di balik bencana ini.

Untuk memutus siklus pembakaran yang kerap berulang dan mencegah modus serupa terulang, Polda Riau telah mengambil langkah proaktif. Sebanyak 513 plang pengumuman telah dipasang di lahan-lahan yang sebelumnya terbakar. Plang-plang ini tidak hanya berfungsi sebagai peringatan, tetapi juga menegaskan larangan keras untuk menanami kembali lahan tersebut. Langkah ini krusial untuk memutus siklus pembakaran yang kerap berulang, sekaligus mengirimkan pesan tegas bahwa praktik merusak lingkungan demi keuntungan sesaat tidak akan ditoleransi. Regulasi ketat dan pengawasan berkelanjutan diharapkan dapat menjaga keberlanjutan ekosistem Riau dan mendukung iklim investasi yang bertanggung jawab.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar