Terkuak! PLN Punya ‘Harta Karun’ 130 Ton, Siap Ubah Wajah Jakarta?

Renita

Poros Informasi – Sebuah gebrakan signifikan menuju transportasi berkelanjutan di Ibu Kota tengah digaungkan. PT PLN (Persero) bersama PT Pertamina (Persero) secara agresif mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengintegrasikan bus berbahan bakar hidrogen ke dalam armada Transjakarta. Langkah strategis ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah inisiatif konkret yang didukung oleh ketersediaan infrastruktur pengisian dan, yang lebih menarik, pasokan hidrogen melimpah yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Potensi ekonomi dan lingkungan dari transisi ini diperkirakan akan sangat besar, menandai babak baru dalam upaya dekarbonisasi sektor transportasi perkotaan.

Potensi Energi Bersih Jakarta: Surplus Hidrogen PLN Menanti Pemanfaatan

Terkuak! PLN Punya 'Harta Karun' 130 Ton, Siap Ubah Wajah Jakarta?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, dalam acara Global Hydrogen Ecosystem 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026), mengungkapkan potensi tersembunyi yang dimiliki perusahaannya. "Produksi hidrogen kami mencapai sekitar 203 ton per tahun," jelas Darmawan. Ia menambahkan bahwa dari total tersebut, hanya sekitar 75 ton yang dialokasikan untuk kebutuhan operasional internal pembangkit listrik. Ini menyisakan surplus substansial sekitar 130 ton per tahun, sebuah volume yang sangat prospektif untuk dialihkan ke sektor transportasi, khususnya untuk mendukung mobilitas perkotaan yang lebih ramah lingkungan. Hidrogen ini merupakan produk sampingan dari operasional pembangkit, yang sebelumnya belum dimaksimalkan nilai ekonomisnya. Pemanfaatan surplus ini tidak hanya akan mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dari aset yang ada.

Rantai Pasok Siap, Armada Hijau Masih Dinanti

Kolaborasi antara PLN dan Pertamina telah membuahkan hasil nyata dalam menyiapkan ekosistem hidrogen. Darmawan menegaskan bahwa rantai pasok hidrogen, memanfaatkan kelebihan produksi PLN, telah terbangun. Bahkan, Stasiun Pengisian Hidrogen (Hydrogen Refueling Station/HRS) telah rampung dibangun dan siap beroperasi. "Hydrogen Refueling Station sudah ada dan siap dipakai. Hidrogennya juga sudah tersedia," ujarnya. Ironisnya, satu-satunya elemen yang masih absen dalam ekosistem yang hampir sempurna ini adalah kendaraan itu sendiri – bus hidrogen. Kesiapan infrastruktur ini menjadi bukti nyata komitmen kedua BUMN dalam mengakselerasi transisi energi di sektor transportasi, menunggu respons dari pihak pengguna akhir.

Diplomasi Ekonomi untuk Percepatan Transportasi Hijau

Menyadari tantangan dalam pengadaan armada, PLN dan Pertamina tidak tinggal diam. Diskusi intensif telah dilakukan dengan berbagai produsen kendaraan global dari Jepang, Jerman, hingga China, yang dikenal memiliki teknologi bus hidrogen yang matang dan siap pakai. Darmawan bahkan secara terbuka mengutarakan harapannya agar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dapat berperan aktif dalam melobi Gubernur DKI Jakarta. "Barangkali Bapak (Menteri ESDM) bisa melobi Gubernur DKI agar Transjakarta menggunakan bus hidrogen," kata Darmawan, menyoroti pentingnya dukungan kebijakan dan political will untuk mewujudkan visi transportasi hijau ini. Adopsi bus hidrogen oleh Transjakarta akan menjadi preseden penting dan titik tolak bagi pengembangan ekosistem hidrogen yang lebih luas di Indonesia, membuka peluang ekonomi baru dan mengurangi jejak karbon perkotaan secara signifikan. Inisiatif ini bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan pasar baru dan mendorong inovasi di sektor energi dan transportasi nasional.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar