Poros Informasi – Pekan perdagangan 27-31 Juli 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyajikan gambaran yang kontras. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menunjukkan ketahanan, namun di sisi lain, sejumlah emiten harus menghadapi tekanan jual yang signifikan dari para investor, menempatkan mereka dalam daftar saham dengan koreksi harga terdalam atau ‘top losers’. Fenomena ini menggarisbawahi dinamika pasar yang kompleks, di mana performa indeks secara agregat tidak selalu mencerminkan kondisi setiap saham secara individual.
Deretan Emiten dengan Penurunan Terdalam

Pergerakan harga saham selama sepekan terakhir menjadi cerminan sentimen pasar terhadap prospek masing-masing perusahaan. Beberapa emiten terlihat sangat rentan terhadap aksi jual, menyebabkan nilai kapitalisasi pasar mereka tergerus secara substansial.
MPRO Memimpin Daftar Koreksi Tajam
PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mencatatkan performa terburuk, menduduki puncak daftar ‘top losers’ pekan ini. Saham properti ini anjlok drastis sebesar 23,74%, meluncur dari level Rp14.425 menjadi Rp11.000 per saham. Penurunan signifikan ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pemegang saham dan analis pasar yang memantau sektor properti.
ELPI dan BLUE Ikut Terseret Arus Penjualan
Tidak jauh berbeda, PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) juga mengalami tekanan berat. Saham ELPI terkoreksi 20,88%, jatuh dari Rp910 menjadi Rp720. Diikuti oleh PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE), yang sahamnya merosot 17,06%, dari Rp2.930 ke Rp2.430. Pola penjualan yang masif terlihat jelas pada ketiga emiten ini, mengindikasikan adanya faktor pendorong yang kuat di balik aksi jual tersebut.
KDTN, ARKO, dan Lainnya Tak Luput dari Tekanan
Gelombang koreksi juga menyeret PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN) yang anjlok 14,55%, dari Rp440 ke Rp376. Begitu pula dengan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yang kehilangan 14,04% nilainya, dari Rp5.700 menjadi Rp4.900. Melengkapi daftar sepuluh saham dengan kinerja terlemah pekan ini, terdapat PT OBM Drilchem Tbk (OBMD) yang melemah 11,76%, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turun 11,03%, PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) terkoreksi 10,70%, PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) turun 10,28%, serta PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) yang melemah 10,22%. Penurunan di atas 10% ini mengindikasikan sentimen negatif yang kuat terhadap sektor-sektor terkait atau isu spesifik perusahaan.
Kontras Pasar: IHSG Menguat di Tengah Badai Penjualan
Fenomena menarik terjadi di tengah gejolak saham-saham individu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil menutup pekan perdagangan 27-31 Juli 2026 dengan performa positif, menguat 0,64% ke level 6.236,126. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan signifikan pada beberapa emiten, sentimen pasar secara agregat masih didukung oleh penguatan di saham-saham berkapitalisasi besar atau sektor-sektor tertentu yang mampu menopang indeks.
Data dari porosinformasi.co.id (BEI) lebih lanjut menunjukkan dinamika pasar yang kompleks. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 483 saham mengalami pelemahan (168 di antaranya turun hingga 2%, dan 315 saham anjlok lebih dari 2%). Namun, di sisi lain, 261 saham berhasil mencatatkan penguatan, sementara 219 saham ditutup stagnan. Distribusi ini menggarisbawahi adanya selektivitas investor dalam menghadapi kondisi pasar, di mana mereka cenderung memindahkan modal dari saham-saham berisiko tinggi ke aset yang dianggap lebih aman atau memiliki prospek pertumbuhan yang lebih jelas.
Pekan ini menjadi pengingat akan pentingnya analisis fundamental dan teknikal yang cermat bagi investor. Meskipun pasar secara keseluruhan menunjukkan ketahanan, risiko tetap mengintai pada saham-saham tertentu yang rentan terhadap tekanan jual. Para pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan adaptif dalam menyusun strategi investasi mereka di tengah volatilitas yang mungkin terus berlanjut.






