WFA 3 Hari Akhir 2025: Hadiah Ekonomi Kuat atau Strategi Jitu?

Renita

WFA 3 Hari Akhir 2025: Hadiah Ekonomi Kuat atau Strategi Jitu?

Poros Informasi – Kabar gembira bagi para pekerja di sektor publik maupun swasta. Menjelang penghujung tahun 2025, pemerintah berencana mengimplementasikan kebijakan Work From Anywhere (WFA) selama tiga hari penuh, yakni pada tanggal 29, 30, dan 31 Desember. Langkah strategis ini disebut-sebut sebagai respons atas kinerja makroekonomi nasional yang menunjukkan stabilitas dan pertumbuhan yang impresif, memberikan sinyal optimisme yang kuat bagi prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Kebijakan Progresif di Penghujung Tahun

WFA 3 Hari Akhir 2025: Hadiah Ekonomi Kuat atau Strategi Jitu?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjadi inisiator usulan kebijakan WFA ini. Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, Airlangga menyampaikan bahwa momentum akhir tahun, khususnya tanggal 29, 30, dan 31 Desember, yang terjepit di antara hari libur, sangat ideal untuk penerapan WFA.

"Kami usulkan karena ada tanggal 29, 30, dan 31 yang berada di antara libur. Kami usul untuk work from anywhere and everywhere," ujar Airlangga, sebagaimana dikutip dari porosinformasi.co.id. Konsep ‘work from anywhere and everywhere’ ini diharapkan tidak hanya memberikan fleksibilitas bagi para pekerja, tetapi juga berpotensi mendongkrak aktivitas ekonomi di berbagai daerah seiring dengan mobilitas masyarakat yang mungkin memilih untuk menghabiskan waktu di luar kota.

Fondasi Ekonomi yang Kokoh

Usulan WFA ini bukan tanpa dasar. Airlangga membeberkan sejumlah indikator makroekonomi yang menjadi landasan optimisme pemerintah. Salah satunya adalah performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high), dengan kenaikan signifikan 20% sejak awal Januari. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu yang terbaik di kawasan Asia.

"Situasi indikator makro sampai akhir tahun ini masih baik, Pak Presiden. Termasuk terkait dengan indeks harga saham yang mencatatkan all time high dan sejak Januari naik 20%. Dan ini salah satu yang tertinggi di Asia," jelas Airlangga.

Selain itu, pertumbuhan kredit nasional tetap terjaga solid di angka 7,36%. Likuiditas pasar juga terpantau kuat, tercermin dari uang primer yang digelontorkan oleh Kementerian Keuangan mencapai Rp 2.136 triliun, tumbuh 13,3%. Angka ini diproyeksikan akan memberikan dorongan positif bagi perekonomian di tahun berikutnya.

"Yang positif, pertumbuhan kredit tetap terjaga di angka 7,36%. Dan uang primer yang kemarin digelontorkan Pak Menkeu juga tinggi, Pak. Tumbuh 13,3% atau sebesar Rp2.136 triliun. Jadi efeknya tahun depan akan positif, Pak Presiden," papar Airlangga.

Implikasi dan Harapan

Penerapan WFA di penghujung tahun ini dapat diinterpretasikan sebagai sinyal kepercayaan pemerintah terhadap ketahanan ekonomi nasional dan kemampuan sektor-sektor terkait untuk beradaptasi. Selain aspek fleksibilitas kerja, kebijakan ini diharapkan mampu merangsang perputaran ekonomi lokal, mengurangi potensi kemacetan di ibu kota menjelang libur panjang, serta meningkatkan kesejahteraan mental pekerja dengan memberikan kesempatan untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga atau berlibur singkat.

Dengan indikator makro yang positif, pemerintah tampaknya ingin memberikan apresiasi sekaligus mendorong produktivitas yang berkelanjutan, menciptakan ekosistem kerja yang lebih adaptif dan responsif terhadap dinamika global. Kebijakan ini juga menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada pertumbuhan angka, tetapi juga pada kualitas hidup dan keseimbangan kerja-hidup bagi masyarakatnya.

Baca Juga

Ikuti Kami

Tags

Tinggalkan komentar