Poros Informasi – Di tengah gejolak pasar kripto yang tak kunjung mereda selama beberapa bulan terakhir, mata para analis kini tertuju pada sejumlah altcoin berkapitalisasi pasar besar. Mereka berpendapat, beberapa aset digital ini masih diperdagangkan jauh di bawah potensi nilai jangka panjangnya, menawarkan peluang menarik bagi investor yang berani mengambil risiko.
Mengapa XRP, Solana, dan Chainlink Menarik Perhatian?

Studi terbaru menempatkan Ripple (XRP), Solana (SOL), dan Chainlink (LINK) sebagai tiga aset kripto yang diproyeksikan undervalued hingga tahun 2026. Meskipun ketiganya masih berjuang untuk pulih dari level tertinggi historisnya, perkembangan signifikan dalam adopsi, minat institusional, dan aktivitas jaringan terus menunjukkan fundamental yang kuat.
Tim riset dari porosinformasi.co.id, misalnya, menggarisbawahi tantangan unik yang dihadapi masing-masing aset. Solana perlu mengatasi penurunan pendapatan jaringannya, sementara Chainlink harus membuktikan korelasi langsung antara adopsi infrastrukturnya dengan permintaan token LINK. "Sedangkan XRP, ia harus menyeimbangkan perannya sebagai token pembayaran dengan pertumbuhan pesat stablecoin RLUSD," ungkap tim riset tersebut.
Solana: Magnet Institusional di Tengah Badai
Menurut laporan Coinpedia, Solana diidentifikasi sebagai salah satu kandidat terkuat untuk pemulihan di antara altcoin raksasa. Saat ini, harga SOL masih terpaut sekitar 75% dari all-time high (ATH) dan kembali ke level harga akhir 2023. Momentum bulanan SOL juga tercatat melemah ke titik terendah sepanjang sejarahnya. Namun, di balik angka-angka yang tampak suram ini, minat institusional terhadap Solana justru menunjukkan ketahanan yang luar biasa.
Arus Dana Institusional Tetap Mengalir
Produk investasi Solana yang terdaftar di AS, yang diluncurkan pada Oktober 2025, mencatat inflow positif setiap hari perdagangan sepanjang bulan lalu. Produk ini kini mengelola aset sekitar US$1 miliar, dengan hampir separuhnya dipegang oleh investor institusional kelas kakap seperti hedge fund dan penasihat investasi. Ini mengindikasikan kepercayaan besar dari pemain besar terhadap prospek jangka panjang Solana.
Alpenglow: Lompatan Teknologi Solana
Dari sisi inovasi teknologi, Solana bersiap meluncurkan upgrade ambisius bernama Alpenglow. Peningkatan ini digadang-gadang sebagai upgrade jaringan terbesar Solana hingga saat ini. Jika implementasinya berjalan lancar tahun ini, finalitas transaksi Solana diproyeksikan meningkat drastis dari 12,8 detik menjadi hanya sekitar 150 milidetik. Peningkatan kecepatan settlement ini berpotensi memperkuat posisi Solana sebagai blockchain berkinerja tinggi yang ideal untuk aplikasi skala besar.
Namun, tantangan yang dihadapi Solana tidaklah kecil. Pendapatan harian jaringannya anjlok hampir 80%, dari sekitar US$1,5 juta menjadi US$314.000, seiring melambatnya aktivitas trading memecoin. Partisipasi investor ritel juga menunjukkan penurunan. Data on-chain dari analis Ali Martinez mengungkapkan bahwa jumlah wallet yang memegang minimal 0,1 SOL berkurang sekitar 5% dalam dua pekan terakhir, dari 11,84 juta menjadi 11,26 juta.
Chainlink: Jembatan Keuangan Tradisional yang Belum Terhargai
Chainlink (LINK) juga masuk dalam radar aset yang dinilai undervalued. Meski harga LINK masih terdiskon lebih dari 80% dari ATH-nya, infrastrukturnya terus berkembang pesat di sektor keuangan tradisional (TradFi). Chainlink berperan krusial dalam memungkinkan bank dan lembaga keuangan terhubung dengan jaringan blockchain tanpa harus merombak sistem yang sudah ada. Ini menempatkannya pada posisi strategis dalam membangun interoperabilitas antara sistem keuangan lawas dan aset digital.
Adopsi Institusional dan Jaringan Mitra Raksasa
Chainlink telah menjalin kemitraan dengan entitas besar seperti SWIFT, jaringan pembayaran global yang menghubungkan sekitar 11.000 institusi keuangan, serta perusahaan kaliber UBS dan Euroclear. Pada kuartal I tahun ini, Cross-Chain Interoperability Protocol (CCIP) milik Chainlink berhasil memproses nilai transaksi lintas blockchain lebih dari US$18 miliar, sebuah bukti nyata peningkatan penggunaan infrastruktur Chainlink untuk kebutuhan institusional.
Selain itu, akses investor terhadap LINK semakin mudah melalui produk investasi dari Grayscale dan Bitwise. Dengan sekitar 75% dari total suplai LINK sudah beredar, risiko dilusi token di masa depan relatif lebih rendah dibandingkan beberapa aset lainnya.
Kendati demikian, Chainlink menghadapi tantangan fundamental. Institusi keuangan dapat memanfaatkan infrastruktur Chainlink tanpa perlu membeli token LINK secara langsung. Artinya, pertumbuhan adopsi jaringan belum tentu secara otomatis memicu tekanan beli terhadap LINK. Chainlink juga harus bersaing ketat dengan jaringan interoperabilitas lain seperti LayerZero dan Wormhole.
XRP: Diuntungkan Kejelasan Regulasi, Tantangan Utilitas Baru
XRP menjadi altcoin berikutnya yang menarik perhatian dalam analisis ini. Meskipun harganya telah terkoreksi hampir 43% sepanjang tahun ini, aset ini terus menunjukkan kemajuan dalam adopsi dan produk investasi. Sagar Shah, Chief Business Officer Evernorth, meyakini nilai jangka panjang XRP terletak pada perannya dalam pembayaran lintas negara, penyediaan likuiditas, dan aset yang ditokenisasi. Menurutnya, adopsi adalah kunci penentu nilai jangka panjang XRP, bukan sekadar fluktuasi harga jangka pendek.
Seperti yang diungkapkan Sagar Shah melalui akun X (sebelumnya Twitter) Evernorthxrp pada 5 Agustus 2026, ia mempertanyakan mengapa XRP masih sering dibahas dari sisi harga, padahal esensinya dibangun untuk pergerakan. Menurutnya, XRP lebih tepat dipahami dari fungsi dan utilitasnya, bukan sekadar biaya.
Kejelasan Hukum Mendorong Produk Investasi
Setelah sengketa hukum dengan SEC sebagian besar terselesaikan, XRP kini memiliki tujuh produk investasi terdaftar di AS. Produk-produk ini telah menarik inflow kumulatif hampir US$1,5 miliar sejak diluncurkan, menandakan kepercayaan pasar terhadap aset ini pasca-kejelasan regulasi.
Ekosistem Membesar, Stablecoin RLUSD Menguat
Di sisi ekosistem, stablecoin Ripple USD (RLUSD) juga menunjukkan pertumbuhan signifikan, mencapai sekitar US$1,6 miliar dalam suplai. Menariknya, lebih banyak RLUSD kini diterbitkan di XRP Ledger dibandingkan Ethereum, terutama setelah ekspansi ke Jepang melalui SBI Holdings. Aktivitas jaringan XRP Ledger pun melonjak, dengan transaksi harian mencapai sekitar 3 juta, atau tiga kali lipat dari level pertengahan 2025.
Namun, pertumbuhan RLUSD juga memicu perdebatan di komunitas XRP. Stablecoin ini berpotensi menjalankan banyak fungsi pembayaran lintas negara yang sebelumnya menjadi narasi utama XRP. Hal ini bisa mengurangi sebagian permintaan terhadap XRP jika stablecoin lebih banyak digunakan untuk settlement. Meski demikian, XRP masih dapat berperan sebagai bridge asset untuk mata uang yang tidak memiliki pasangan trading langsung.
Untuk jangka panjang, prospek XRP akan sangat bergantung pada bagaimana Ripple menempatkan peran XRP berdampingan dengan RLUSD. Jika keduanya saling melengkapi, adopsi ekosistem dapat semakin kuat. Namun, jika fungsi RLUSD terlalu dominan, pasar bisa kembali mempertanyakan utilitas langsung XRP.
Prospek Jangka Panjang dan Konfirmasi Pasar
Secara keseluruhan, Solana, Chainlink, dan XRP memang masih menghadapi tekanan harga, namun narasi fundamental mereka tetap utuh. Solana didukung oleh minat institusional yang kuat dan upgrade jaringan yang ambisius. Chainlink terus memperkuat posisinya sebagai infrastruktur krusial di sektor keuangan tradisional. Sementara itu, XRP mendapatkan dorongan signifikan dari kejelasan hukum dan ekspansi ekosistem pembayarannya.
Namun, status "undervalued" ini bukan jaminan harga akan segera melesat. Ketiga aset ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari sisi aktivitas jaringan yang berkelanjutan, peningkatan permintaan investor, dan sentimen pasar kripto yang lebih luas agar potensi pemulihan mereka dapat terwujud sepenuhnya. Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam dan mempertimbangkan volatilitas pasar sebelum mengambil keputusan investasi.






