Poros Informasi – 21 Juli 2026 | Jakarta – Komunitas Dogecoin kembali diramaikan oleh dua isu krusial yang saling terkait: sinyal buy yang mulai muncul pada pergerakan harga aset digital berlogo anjing Shiba Inu ini, dan memanasnya kembali perdebatan mengenai sistem merge mining. Situasi ini menciptakan dinamika yang menarik, antara potensi keuntungan bagi investor dan pertanyaan mendasar mengenai keamanan serta keberlanjutan jaringan Dogecoin di masa depan. Dogecoin beri sinyal buy, debat merge mining DOGE kembali memanas menjadi tajuk utama diskusi di kalangan pelaku pasar dan pengembang.
Co-founder Dogecoin, Billy Markus, baru-baru ini menegaskan sikapnya yang menolak keras usulan untuk mengakhiri sistem merge mining yang selama ini menjadi tulang punggung operasional Dogecoin bersama Litecoin. Markus secara tegas menyebut ide tersebut sebagai sesuatu yang “dumb and pointless” atau bodoh dan tidak berarti, serta menyatakan bahwa Dogecoin sebaiknya tetap mempertahankan sistem yang sudah berjalan.
Komentar Markus ini muncul di tengah kembalinya perbincangan di komunitas mengenai apakah jaringan Dogecoin masih perlu berbagi infrastruktur mining dengan Litecoin. Meskipun Markus tidak lagi secara aktif terlibat dalam pengembangan Dogecoin, pandangannya tetap memiliki bobot signifikan mengingat perannya sebagai salah satu pendiri proyek ikonik ini.
Merge Mining: Perdebatan Sengit di Komunitas
Sejak tahun 2014, Dogecoin telah mengadopsi sistem merge mining. Mekanisme ini memungkinkan para penambang (miner) untuk menggunakan daya komputasi yang sama guna mengamankan lebih dari satu blockchain yang memiliki algoritma mining yang kompatibel. Dogecoin, yang menggunakan algoritma Scrypt, selama ini ditambang bersama Litecoin. Dengan sistem ini, para penambang Litecoin dapat turut membantu mengamankan jaringan Dogecoin tanpa perlu mengalokasikan daya komputasi tambahan.
Dokumentasi resmi Dogecoin menjelaskan bahwa perubahan yang dilakukan pada tahun 2014 membuka peluang bagi penambang Scrypt dari Litecoin dan jaringan lain untuk berkontribusi dalam pengamanan jaringan Dogecoin, sembari tetap mendapatkan imbalan dari beberapa blockchain. Pendukung model ini berargumen bahwa merge mining memberikan insentif ekonomi yang kuat bagi para penambang untuk terus menjaga keamanan jaringan Dogecoin. Namun, di sisi lain, para kritikus mempertanyakan tingkat ketergantungan Dogecoin pada aktivitas penambangan jaringan lain.
Menariknya, seperti yang diungkapkan oleh Timothy Stebbing, banyak aset kripto berbasis Scrypt lainnya sangat bergantung pada emisi Dogecoin untuk membuat penambangannya menjadi layak secara ekonomi. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan pada sistem merge mining Dogecoin bisa berdampak luas pada ekosistem kripto yang lebih besar.
Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari sisi tata kelola (governance) maupun proposal jaringan yang dikonfirmasi untuk menghapus sistem merge mining Dogecoin. Markus sendiri menegaskan bahwa pandangannya bersifat pribadi dan ia tidak memiliki kepentingan investasi pada altcoin berbasis Scrypt.
Sinyal Buy Muncul di Tengah Volatilitas Harga
Di tengah memanasnya perdebatan mengenai jaringan, pergerakan harga Dogecoin menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang terbatas. Berdasarkan data terbaru, Dogecoin diperdagangkan di kisaran US$0,0734 pada 21 Juli, mencatat kenaikan 2,14% dalam 24 jam terakhir dan 1,86% dalam sepekan. Meskipun demikian, secara bulanan, DOGE masih tercatat mengalami penurunan lebih dari 11%, yang mengindikasikan bahwa pemulihan terkini belum cukup untuk mengubah tren jangka panjang.
Analis kripto, Ali Martinez, menyoroti munculnya sinyal teknikal yang mulai membaik. Ia menyebutkan bahwa indikator TD Sequential mingguan Dogecoin telah menampilkan beberapa sinyal buy secara beruntun. Pola ini dianggap tidak biasa dan berpotensi menjadi pertanda awal dari sebuah reli yang lebih besar. Namun, sinyal ini belum menjadi jaminan pembalikan tren.
Tim Research Tokocrypto menambahkan bahwa DOGE perlu menembus level resistance terdekat agar pemulihan yang terjadi saat ini dapat berlanjut. Jika gagal, token ini berisiko tetap bergerak dalam range sempit meskipun sinyal buy mulai muncul. Sebelumnya, indikator TD Sequential juga sempat memberikan sinyal buy pada Juni lalu setelah DOGE mengalami koreksi signifikan. Saat itu, para pedagang memantau area US$0,096 hingga US$0,100 sebagai zona krusial yang perlu direbut kembali untuk melemahkan struktur bearish. Harga DOGE saat ini masih jauh dari level tersebut, sehingga sinyal terbaru lebih tepat diartikan sebagai peluang pemulihan jangka pendek.
Aktivitas Whale dan Tantangan Jangka Pendek
Di luar sinyal teknikal, aktivitas para pemegang besar atau whale juga mulai memberikan dukungan bagi upaya pemulihan Dogecoin. Data menunjukkan adanya akumulasi sekitar 200 juta DOGE oleh para whale, yang bernilai kurang lebih US$14 juta. Di pasar derivatif, futures open interest DOGE juga mengalami peningkatan sebesar 3,74% menjadi sekitar US$1,08 miliar, mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas dari para pedagang derivatif terhadap Dogecoin.
Dalam jangka pendek, level resistance Dogecoin berada di sekitar US$0,0754 dan US$0,0797. Jika mampu menembus area ini, struktur pemulihan DOGE berpotensi menjadi lebih kuat. Namun, data pasar juga menunjukkan adanya klaster likuidasi besar di dekat harga saat ini, yang dapat memicu volatilitas jangka pendek yang tinggi.
Di sisi lain, permintaan institusional terhadap DOGE masih terlihat belum pulih sepenuhnya. ETF Dogecoin di Amerika Serikat dilaporkan belum mencatat arus masuk (inflow) baru selama satu bulan hingga 17 Juli, periode di mana DOGE diperdagangkan di sekitar US$0,071 dengan level support di area yang sama. Dengan demikian, Dogecoin beri sinyal buy, debat merge mining DOGE kembali memanas mencerminkan gambaran yang kompleks.
Saat ini, Dogecoin menunjukkan sinyal yang beragam. Aktivitas whale dan indikator teknikal mulai menunjukkan tren positif, namun permintaan dari ETF dan tren jangka panjang masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Sementara itu, perdebatan mengenai merge mining tetap menjadi isu terpisah yang lebih berfokus pada aspek keamanan jaringan, dan dampaknya terhadap pergerakan harga jangka pendek masih perlu dicermati lebih lanjut.







