Poros Informasi – Industri aset kripto di tanah air tengah memasuki fase baru yang jauh lebih kompetitif. Jika selama ini para pemain besar saling beradu melalui promo bonus dan cashback, kini arah persaingan mulai bergeser ke arah yang lebih fundamental, yakni efisiensi biaya transaksi.
Langkah strategis diambil oleh PT Central Finansial X (CFX) sebagai penyelenggara bursa kripto lokal. Mulai 1 Oktober 2026, CFX resmi memangkas biaya transaksi bursa sebesar 50%, dari semula 0,02% menjadi hanya 0,01% per transaksi. Kebijakan ini dirancang untuk memicu lonjakan aktivitas perdagangan serta memperkuat likuiditas pasar kripto di Indonesia.

Efisiensi Biaya: Senjata Baru di Pasar Kripto Indonesia
Penurunan tarif oleh CFX ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat bahwa industri sedang menuju kedewasaan. Dengan tarif yang lebih rendah, beban operasional bagi pedagang aset kripto menjadi lebih ringan, yang diharapkan dapat berdampak langsung pada harga yang lebih kompetitif bagi pengguna akhir.
Sebagai gambaran sederhana, jika Anda melakukan transaksi senilai Rp100 juta:
- Tarif lama (0,02%): Anda membayar Rp20.000.
- Tarif baru (0,01%): Anda hanya membayar Rp10.000.
Namun, perlu dipahami oleh para trader bahwa penurunan biaya bursa ini tidak secara otomatis memotong seluruh biaya yang Anda bayarkan di aplikasi. Biaya lain seperti maker/taker fee, pajak, serta spread harga tetap berlaku sesuai kebijakan masing-masing platform.
Momentum Pemulihan Pasar di Kuartal III
Keputusan pemangkasan biaya ini diambil saat pasar kripto domestik menunjukkan tren positif. Data menunjukkan adanya pertumbuhan nilai transaksi yang signifikan sepanjang kuartal III 2026. Nilai transaksi di bursa CFX melonjak dari Rp15,2 triliun pada Juli, menjadi Rp17,6 triliun pada Agustus, dan mencapai Rp22,1 triliun pada September 2026.
Bukan hanya pasar spot, pasar derivatif pun ikut bergairah. Volume transaksi derivatif merangkak naik dari Rp3,75 triliun di bulan Juli menjadi Rp7,32 triliun pada September. Subani, Direktur Utama CFX, menyatakan bahwa pemulihan ini adalah sinyal positif bagi ekosistem kripto setelah melewati semester pertama yang penuh tantangan.
Strategi Trader: Jangan Terjebak Satu Angka Saja
Bagi para pemain aktif, efisiensi biaya adalah kunci. Tim Research porosinformasi.co.id mencatat bahwa pola industri tahun 2026 mulai meninggalkan era "perang promo" dan beralih ke "perang efisiensi". Bagi trader dengan frekuensi tinggi, selisih biaya sekecil apa pun akan sangat berpengaruh pada profitabilitas jangka panjang.
Namun, trader harus tetap cerdas dalam membandingkan platform. Jangan hanya terpaku pada satu angka tarif bursa. Berikut adalah komponen yang wajib Anda perhatikan sebelum berpindah platform:
- Maker vs Taker Fee: Perhatikan perbedaan biaya antara Anda yang menambah likuiditas (maker) dan yang mengambil likuiditas (taker).
- Spread Harga: Selisih harga beli dan jual yang terlalu lebar bisa lebih merugikan daripada biaya transaksi yang rendah.
- Biaya Penarikan (Withdrawal): Periksa biaya saat Anda ingin mencairkan dana ke rekening bank atau memindahkan aset ke cold wallet.
- Pajak dan Komponen Lain: Pastikan Anda menghitung total biaya riil yang dikeluarkan per transaksi.
Menanti Efisiensi Pajak dari OJK
Selain efisiensi dari sisi bursa, ada angin segar lainnya yang sedang dinanti. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dilaporkan sedang mendorong pemerintah untuk menurunkan tarif PPh Pasal 22 final atas penjualan aset kripto dari 0,21% menjadi 0,1%.
Jika usulan ini disetujui dan berjalan beriringan dengan penurunan biaya bursa, maka trader Indonesia akan mendapatkan keuntungan ganda. Efisiensi biaya dari sisi penyelenggara dan efisiensi dari sisi regulasi pajak akan menciptakan ekosistem perdagangan yang jauh lebih murah dan menarik bagi investor ritel maupun institusi.
Pada akhirnya, meskipun biaya transaksi menjadi faktor penting, faktor keamanan platform, kualitas layanan, dan manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama dalam menjaga keberlangsungan investasi Anda di dunia kripto.






