Poros Informasi – Perusahaan investasi Strategy, yang selama ini identik dengan strategi akumulasi Bitcoin secara agresif, kini mengumumkan perubahan signifikan dalam alokasi modalnya. Pendekatan "buy every dip" yang menjadi ciri khas mereka tampaknya mulai bergeser, menandakan fase baru dalam manajemen treasury perusahaan di tengah volatilitas pasar kripto. Menurut laporan internal yang diakses porosinformasi.co.id, Strategy tidak lagi akan mengalokasikan setiap dana baru secara penuh untuk pembelian Bitcoin.
Tim riset porosinformasi.co.id mencatat bahwa dalam laporan keuangan kuartal II, Strategy mengonfirmasi pendanaan ke depan akan dibagi secara strategis antara pembelian Bitcoin dan penguatan cadangan kas dalam dolar AS. Porsi pembagian ini akan disesuaikan dengan kondisi pasar yang dinamis. Perubahan ini sontak memicu perdebatan sengit di kalangan investor. Sebagian melihatnya sebagai langkah fleksibel untuk mengelola aset, sementara yang lain menginterpretasikan sebagai sinyal bahwa narasi "Bitcoin-first" perusahaan mulai memasuki babak baru.
Pergeseran Paradigma Investasi Strategy
Dari Akumulasi Penuh ke Diversifikasi Modal
Selama bertahun-tahun, Strategy dikenal sebagai institusi yang tak kenal lelah dalam menggalang modal untuk terus mengakumulasi Bitcoin, bahkan di tengah koreksi pasar. Namun, kini, perusahaan tersebut mengadopsi pendekatan yang lebih berhati-hati. Alih-alih menguras setiap dana segar untuk BTC, Strategy akan menyeimbangkan portofolionya dengan memperkuat cadangan kas dolar AS. Langkah ini menunjukkan keinginan untuk meningkatkan likuiditas dan mitigasi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi makro.
Tiga Pekan Tanpa Aksi Beli, Sinyal Perubahan?
Pengumuman ini muncul setelah Strategy tercatat tidak melakukan pembelian Bitcoin selama tiga pekan berturut-turut. Pada periode 20–26 Juli, kepemilikan Bitcoin perusahaan tetap stabil di angka 843.775 BTC. Jumlah ini masih menempatkan Strategy sebagai pemegang Bitcoin institusional terbesar di dunia. Namun, total biaya akumulasi BTC perusahaan mencapai US$63,69 miliar, dengan harga beli rata-rata US$75.476 per Bitcoin.
Ironisnya, pada harga pasar saat ini, nilai treasury Bitcoin Strategy diperkirakan berada di sekitar US$54,77 miliar, yang berarti kepemilikan BTC perusahaan sedang berada di bawah total biaya perolehannya. Alih-alih menambah kepemilikan saat harga rendah, Strategy justru menjual 5,42 juta saham Class A, berhasil mengumpulkan dana US$544,5 juta. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan cadangan kas dolar AS menjadi US$3,75 miliar, yang dinilai cukup untuk menutup pembayaran dividen saham preferen dan beban bunga selama lebih dari 2,1 tahun.
Fokus Baru: Likuiditas, Efisiensi, dan Stabilitas Keuangan
Monetisasi Bitcoin dan Penolakan Pinjaman Berbasis BTC
Dilaporkan oleh Coinpedia, manajemen Strategy mengindikasikan bahwa penjualan Bitcoin di masa depan juga dapat dilakukan jika diperlukan melalui "BTC Monetization Program" mereka. Dana hasil penjualan ini berpotensi digunakan untuk mengisi kembali cadangan kas, membayar dividen saham preferen, menutup beban bunga, serta mendukung program pembelian kembali saham MSTR dan STRC.
Menariknya, perusahaan juga menegaskan tidak sedang mempertimbangkan pinjaman berbasis Bitcoin. Strategy menilai model tersebut memiliki risiko counterparty dan margin yang tidak ingin diambil perusahaan, menunjukkan kehati-hatian dalam manajemen risiko. Sepanjang tahun 2026, Strategy telah menjual Bitcoin senilai sekitar US$218,4 juta melalui program monetisasi ini, yang digunakan untuk membantu memenuhi sebagian kewajiban dividen saham preferen. Langkah ini menggarisbawahi prioritas baru Strategy terhadap likuiditas dan stabilitas keuangan.
Prioritas Baru: Buyback Saham Preferen STRC
Selain menahan pembelian Bitcoin, Strategy juga mulai memprioritaskan pembelian kembali saham preferen STRC. Perusahaan baru-baru ini menggunakan US$25 juta untuk membeli kembali 288.930 saham preferen STRC dengan harga rata-rata US$86,53. Harga tersebut sekitar 13% di bawah nilai par US$100. CEO Strategy, Phong Le, menjelaskan bahwa pembelian STRC di harga diskon dapat mengurangi kewajiban dividen preferen di masa depan, menjadikannya penggunaan modal yang sangat menarik dan efisien.
Saat ini, masih ada sekitar US$975 juta tersisa dari program buyback STRC senilai US$1 miliar. Dewan perusahaan juga berencana mempertahankan dividen STRC sebesar 12% hingga saham preferen tersebut secara konsisten diperdagangkan mendekati US$100. Bagi Strategy, langkah ini dapat membantu mengurangi beban pembayaran jangka panjang, sekaligus memperkuat struktur modal perusahaan.
Respons Pasar dan Prospek ke Depan
Investor Terbelah: Peluang atau Tanda Bahaya?
Perubahan strategi ini mendapat respons beragam dari komunitas kripto dan investor MSTR. Analis kripto Ted Pillows, melalui akun media sosialnya, mempertanyakan mengapa Strategy justru mengurangi pembelian Bitcoin saat BTC masih diperdagangkan jauh di bawah harga tertinggi sepanjang masa (ATH). Menurutnya, kondisi harga yang lebih rendah seharusnya menjadi kesempatan emas bagi perusahaan untuk menambah kepemilikan.
Di sisi lain, sebagian analis lain memperingatkan bahwa jeda pembelian Bitcoin dapat dibaca sebagai tekanan dalam model treasury Strategy. Jika investor menilai jeda ini sebagai tanda melemahnya keyakinan perusahaan terhadap BTC, saham MSTR berisiko kembali tertekan.
Bitcoin Tetap Inti, Namun dengan Pendekatan Berbeda
Meski begitu, Strategy masih mencatat pertumbuhan kapital digital yang kuat sepanjang tahun 2026. Perusahaan telah menggalang US$17,06 miliar melalui program ATM tahun ini, mencatat BTC Yield sebesar 4,5%, dan meningkatkan kepemilikan Bitcoin sebesar 25% secara year-to-date.
Dengan demikian, Bitcoin tetap menjadi pusat strategi perusahaan. Namun, pendekatan Strategy kini tidak lagi sepenuhnya berfokus pada akumulasi agresif tanpa henti. Perusahaan mulai menggabungkan pembelian BTC dengan manajemen likuiditas yang cermat, penguatan cadangan kas, pembayaran kewajiban, dan program buyback saham preferen. Pergeseran ini menandakan Strategy memasuki fase manajemen treasury yang lebih fleksibel, matang, dan holistik dibanding tahun-tahun sebelumnya, menyeimbangkan ambisi Bitcoin dengan stabilitas finansial korporat.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli. porosinformasi.co.id berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.






