Poros Informasi – 31 Juli 2026 | Perubahan fundamental dalam strategi investasi tengah terjadi. Perusahaan yang selama ini dikenal agresif menggalang modal untuk membeli Bitcoin, kini mengumumkan langkah mengejutkan: Strategy Akhiri Pola Buy Every Dip, Kini Bagi Modal. Keputusan ini menandakan pergeseran signifikan dari pendekatan “beli setiap penurunan harga” yang telah menjadi ciri khas mereka.
Dalam pengumuman yang disampaikan dalam earnings call kuartal II, tim Research Tokocrypto mengonfirmasi bahwa pendanaan baru yang masuk tidak lagi akan dialokasikan sepenuhnya untuk akumulasi Bitcoin. Sebaliknya, dana tersebut akan dibagi antara pembelian Bitcoin dan penguatan cadangan kas dalam dolar Amerika Serikat. Porsi pembagian ini akan bersifat dinamis, disesuaikan dengan kondisi pasar yang terus berubah.
Langkah ini sontak memicu perdebatan hangat di kalangan investor. Sebagian melihatnya sebagai tanda fleksibilitas yang lebih besar dalam pengelolaan treasury perusahaan. Namun, kubu lain menganggapnya sebagai indikasi bahwa strategi Bitcoin-first perusahaan mulai memasuki fase baru yang lebih matang.
Tiga Pekan Tanpa Pembelian Bitcoin
Pengumuman ini bukan tanpa sebab. Perusahaan tersebut tercatat tidak melakukan pembelian Bitcoin selama tiga pekan berturut-turut. Data pada periode 20–26 Juli menunjukkan kepemilikan Bitcoin perusahaan tetap stabil di angka 843.775 BTC. Posisi ini masih mengukuhkan mereka sebagai pemegang Bitcoin institusional terbesar di dunia. Total biaya akumulasi Bitcoin perusahaan mencapai US$63,69 miliar, dengan harga beli rata-rata US$75.476 per Bitcoin. Namun, dengan harga pasar saat ini, nilai treasury Bitcoin perusahaan diperkirakan berada di kisaran US$54,77 miliar, yang berarti kepemilikan mereka saat ini berada di bawah total biaya perolehannya.
Alih-alih menambah posisi Bitcoin, perusahaan justru mengambil langkah lain. Mereka dilaporkan menjual 5,42 juta saham Class A dan berhasil mengumpulkan dana sebesar US$544,5 juta. Dana segar ini kemudian digunakan untuk meningkatkan cadangan kas dalam dolar AS menjadi US$3,75 miliar. Cadangan ini dinilai cukup untuk menutupi pembayaran dividen saham preferen dan beban bunga selama lebih dari 2,1 tahun.
Seperti yang diungkapkan oleh seorang analis di platform X, “Strategy says it will continue selling Bitcoin and no longer allocate all new capital to $BTC purchases. Explain me this strategy? I don t get it. Why not buying at this low prices.” Pertanyaan ini mencerminkan kebingungan sebagian investor yang melihat harga Bitcoin sedang rendah, yang seharusnya menjadi momentum akumulasi.
Fokus Baru: Likuiditas dan Efisiensi Modal
Dilaporkan oleh Coinpedia, manajemen perusahaan mengindikasikan bahwa penjualan Bitcoin di masa depan juga dapat dilakukan jika diperlukan. Dana hasil penjualan tersebut dapat dialokasikan untuk mengisi kembali cadangan kas, membayar dividen saham preferen, menutup beban bunga, serta mendukung program pembelian kembali saham MSTR dan STRC. Perusahaan juga menegaskan bahwa mereka tidak sedang mempertimbangkan pinjaman berbasis Bitcoin, karena menilai model tersebut memiliki risiko counterparty dan margin yang tidak ingin mereka ambil.
Dalam kerangka strategi yang baru ini, perusahaan telah menjual Bitcoin senilai sekitar US$218,4 juta sepanjang tahun 2026 melalui program BTC Monetization. Penjualan ini sebagian besar difokuskan untuk memenuhi kewajiban dividen saham preferen. Langkah ini menunjukkan upaya perusahaan untuk menyeimbangkan strategi akumulasi Bitcoin dengan kebutuhan likuiditas dan stabilitas keuangan jangka panjang. Dengan kata lain, Strategy Akhiri Pola Buy Every Dip, Kini Bagi Modal demi keberlanjutan operasional.
Buyback STRC Jadi Prioritas
Selain menahan laju pembelian Bitcoin, perusahaan juga mulai memprioritaskan pembelian kembali saham preferen STRC. Belum lama ini, mereka menggunakan dana sebesar US$25 juta untuk membeli kembali 288.930 saham preferen STRC dengan harga rata-rata US$86,53 per saham. Harga ini berada sekitar 13% di bawah nilai par US$100.
CEO Strategy, Phong Le, menjelaskan bahwa pembelian STRC pada harga diskon merupakan penggunaan modal yang menarik karena dapat mengurangi kewajiban dividen preferen di masa depan. Saat ini, masih tersisa sekitar US$975 juta dari program buyback STRC senilai US$1 miliar. Dewan perusahaan juga berencana mempertahankan dividen STRC sebesar 12% hingga saham preferen tersebut secara konsisten diperdagangkan mendekati US$100.
Investor Terbelah Menanggapi Perubahan
Perubahan strategi ini disambut dengan reaksi yang beragam dari komunitas kripto dan investor saham MSTR. Analis kripto Ted Pillows secara terbuka mempertanyakan keputusan perusahaan untuk mengurangi pembelian Bitcoin di saat BTC diperdagangkan jauh di bawah harga tertingginya. Menurutnya, kondisi harga yang lebih rendah seharusnya menjadi peluang emas untuk menambah kepemilikan.
Di sisi lain, analis lain justru memperingatkan bahwa jeda dalam pembelian Bitcoin ini dapat diinterpretasikan sebagai adanya tekanan pada model treasury perusahaan. Jika investor melihat jeda ini sebagai sinyal melemahnya keyakinan perusahaan terhadap Bitcoin, saham MSTR berisiko mengalami tekanan lebih lanjut. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa Strategy masih mencatat pertumbuhan digital capital yang kuat sepanjang 2026. Perusahaan berhasil menggalang dana US$17,06 miliar melalui program ATM tahun ini, mencatat BTC Yield sebesar 4,5%, dan meningkatkan kepemilikan Bitcoin sebesar 25% secara year-to-date.
Dengan demikian, Bitcoin tetap menjadi elemen sentral dalam strategi perusahaan. Namun, pendekatan Strategy kini tidak lagi sepenuhnya berfokus pada akumulasi agresif. Perusahaan mulai mengintegrasikan pembelian BTC dengan manajemen likuiditas yang cermat, penguatan cadangan kas, pemenuhan kewajiban, dan buyback saham preferen. Pergeseran ini menandakan Strategy memasuki fase pengelolaan treasury yang lebih fleksibel dan berorientasi pada stabilitas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Keputusan Strategy Akhiri Pola Buy Every Dip, Kini Bagi Modal ini patut dicermati perkembangannya ke depan.







