Poros Informasi – 26 Agustus 2026 | JAKARTA – Pasar keuangan global menyaksikan pergerakan luar biasa pada Selasa, 25 Agustus 2026, ketika Bitcoin Tembus US$81.000, Reli Emas Terbaik sejak 1999. Lonjakan simultan kedua aset safe haven ini mengindikasikan adanya kesamaan narasi risiko makro yang sedang dicerna investor di seluruh dunia. Tim Research Tokocrypto menilai fenomena ini didorong oleh kombinasi pelemahan dolar Amerika Serikat, kekhawatiran mendalam terhadap pasar obligasi, serta spekulasi bahwa rencana buyback obligasi pemerintah AS dapat menahan kenaikan yield jangka panjang.
Dalam pergerakan yang dinamis, Bitcoin sempat menyentuh level US$81.165 sebelum sedikit terkoreksi ke kisaran US$80.792. Kenaikan 4,5% dalam 24 jam terakhir ini memperpanjang tren positif BTC, yang sebelumnya telah berhasil menembus kembali angka US$80.000 untuk pertama kalinya sejak Mei. Di sisi lain, emas spot juga mencatatkan performa impresif, melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan di sekitar US$4.677 per ons. Analis dari UOB memprediksi kenaikan emas bulan ini berpotensi menjadi performa bulanan terbaik sejak tahun 1999, seiring dengan meningkatnya pencarian investor terhadap lindung nilai di tengah pelemahan dolar dan risiko fiskal AS.
Bitcoin dan Emas Bergerak Seirama: Sinyal Risiko Makro
Korelasi pergerakan Bitcoin dan emas kali ini menunjukkan bahwa pasar sedang menginterpretasikan risiko makro dengan cara yang serupa. Kedua aset ini sama-sama mendapatkan dorongan signifikan dari pelemahan mata uang dolar AS, tekanan yang terasa di pasar obligasi Amerika Serikat, dan tumbuhnya minat pada aset yang dianggap sebagai benteng pertahanan terhadap penurunan daya beli mata uang fiat.
Laporan dari MarketWatch mengonfirmasi bahwa Bitcoin berhasil melampaui US$80.000 pada Selasa, melanjutkan reli yang dipicu oleh pengumuman Treasury AS mengenai rencana untuk menggandakan operasi buyback obligasi jangka panjang. Peristiwa ini semakin memperkuat narasi debasement trade, sebuah strategi investasi di mana para pelaku pasar cenderung mengakumulasi aset seperti emas dan Bitcoin ketika kepercayaan terhadap dolar AS atau utang pemerintah mengalami pelemahan.
Meskipun Bitcoin sempat mengalami fase pelemahan dalam beberapa bulan terakhir, sentimen pasar mengalami perubahan drastis ketika investor mulai memperkirakan bahwa intervensi dari Treasury dapat efektif menahan lonjakan yield jangka panjang dan memberikan tekanan pada dolar. Bagi Bitcoin, kombinasi dolar yang melemah dan yield yang lebih rendah secara historis menjadi katalisator positif. Kondisi ini membuat aset yang tidak menghasilkan yield seperti Bitcoin dan emas menjadi lebih menarik dibandingkan dengan memegang kas atau obligasi.
Emas Menuju Bulan Terbaik Sejak 1999, Bitcoin Ikut Mendulang
Emas, sebagai aset safe haven tradisional, menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari pergeseran sentimen makro ini. Emas spot tercatat naik 0,6% menjadi US$4.677,19 per ons pada Selasa, sementara kontrak berjangka emas sempat menyentuh area US$4.720. Kenaikan emas selama bulan ini diperkirakan mencapai 13% hingga 15%, tergantung pada basis data yang digunakan. Laporan BeInCrypto, mengutip analis UOB, menyebut reli emas kali ini sebagai yang terbaik sejak 1999.
The Guardian juga melaporkan bahwa emas mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir seiring para pedagang mencermati risiko inflasi AS dan gejolak di pasar obligasi. Fenomena uniknya adalah kenaikan emas ini terjadi bersamaan dengan reli Bitcoin yang berhasil menembus US$80.000. Jika reli emas biasanya mencerminkan permintaan terhadap aset aman, kali ini Bitcoin turut bergerak searah. Hal ini menandakan bahwa Bitcoin mulai diperlakukan oleh sebagian investor sebagai aset lindung nilai terhadap pelemahan dolar dan risiko fiskal yang membayangi ekonomi AS.
Buyback Obligasi Treasury Jadi Katalis Utama
Faktor pendorong utama di balik reli terbaru ini adalah keputusan pasar obligasi AS. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan rencana ambisius untuk menggandakan skala operasi buyback obligasi jangka panjang, dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi. Laporan Financial Times merinci bahwa buyback ini akan difokuskan pada tenor 10 hingga 30 tahun dan dijadwalkan berlangsung mulai 9 September hingga awal November. Langkah ini diambil setelah yield obligasi 30 tahun AS sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun terakhir.
Keputusan ini diinterpretasikan oleh pasar sebagai sinyal kuat dari pemerintah AS untuk meredam tekanan kenaikan yield jangka panjang. Jika yield obligasi berhasil ditekan turun, biaya peluang untuk memegang aset seperti emas dan Bitcoin akan ikut menurun, sehingga membuat kedua aset tersebut menjadi lebih menarik. Namun, efektivitas program ini masih menjadi perdebatan. Laporan AP menyebutkan bahwa yield Treasury sempat menunjukkan tren kenaikan kembali setelah pengumuman buyback, mengindikasikan pasar belum sepenuhnya yakin bahwa langkah tersebut cukup untuk mengatasi tekanan yang ada.
Dolar Melemah, Yield Jadi Titik Fokus
Pelemahan Dolar AS juga memainkan peran krusial dalam reli kali ini. Indeks dolar DXY dilaporkan menyentuh level terendah dalam tiga bulan setelah Treasury mengumumkan peningkatan program buyback obligasi. Melemahnya dolar membuat emas, yang dihargakan dalam dolar, menjadi lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Secara bersamaan, pelemahan dolar seringkali menjadi katalis positif bagi Bitcoin, karena meningkatkan daya tarik aset alternatif bagi investor global.
World Gold Council turut menilai bahwa pengumuman buyback Treasury memicu reaksi berantai pada yield, dolar, dan emas. Lembaga tersebut berpendapat bahwa tekanan terhadap dolar dapat meningkat jika pasar melihat kebijakan buyback sebagai indikasi kekhawatiran pemerintah AS terhadap kondisi fiskalnya. Bagi para investor aset kripto, arah pergerakan yield dan dolar kini menjadi penentu utama momentum. Jika yield jangka panjang terus menurun dan dolar tetap melemah, Bitcoin berpotensi mempertahankan momentum kenaikannya. Sebaliknya, jika yield kembali merangkak naik, tekanan jual dapat kembali menghantui pasar.
Jackson Hole: Ujian Berikutnya untuk Bitcoin dan Emas
Saat ini, seluruh perhatian pasar tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, menjelang Jackson Hole Economic Policy Symposium. Simposium ini sangat krusial karena para pejabat bank sentral biasanya memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter, pandangan terhadap inflasi, dan prospek suku bunga di masa depan. Jika Warsh memberikan sinyal dovish atau membuka ruang untuk kebijakan moneter yang lebih longgar, Bitcoin dan emas berpotensi melanjutkan tren kenaikannya. Investor kemungkinan akan kembali memburu aset-aset yang diuntungkan oleh dolar lemah dan yield rendah.
Sebaliknya, nada hawkish dari The Fed dapat menahan laju reli kedua aset tersebut. Jika The Fed menegaskan bahwa inflasi masih menjadi risiko utama dan suku bunga perlu dipertahankan pada level tinggi untuk sementara waktu, dolar AS bisa kembali menguat dan yield Treasury berpotensi naik. Kondisi ini tentu saja dapat memberikan tekanan pada harga emas dan Bitcoin. Beberapa analis bahkan berpendapat bahwa upaya Treasury untuk menahan kenaikan yield dapat diartikan sebagai bentuk financial repression, di mana pemerintah mencoba mengarahkan pasar obligasi agar biaya pendanaannya tetap terkendali.
Bitcoin Tetap Volatil Meski Narasi Mendukung
Meskipun narasi makro saat ini sangat mendukung, penting untuk diingat bahwa Bitcoin tetap merupakan aset yang sangat volatil. Meskipun berhasil menembus US$81.000, pergerakan harganya dapat berubah secara drastis jika data ekonomi atau komentar dari The Fed tidak sesuai dengan ekspektasi pasar. Dalam jangka pendek, level US$80.000 menjadi level psikologis penting. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level ini, momentum bullish diperkirakan masih terjaga, membuka peluang untuk mencapai level harga yang lebih tinggi.
Namun, jika Bitcoin kembali tergelincir di bawah US$80.000, reli terbaru ini bisa dianggap sebagai pergerakan yang overextended atau berlebihan. Level support berikutnya yang perlu dipantau berada di kisaran US$78.000, yang sebelumnya sempat menjadi zona penting setelah terjadi breakout. Investor juga perlu memantau volume perdagangan dan arus dana masuk ke ETF Bitcoin. Jika reli harga didukung oleh aliran dana yang nyata, struktur kenaikan harga akan terlihat lebih kuat. Sebaliknya, jika reli hanya digerakkan oleh short squeeze atau euforia makro sementara, koreksi tajam berpotensi terjadi dengan cepat.
Secara keseluruhan, reli Bitcoin Tembus US$81.000, Reli Emas Terbaik sejak 1999 ini menandakan pasar kembali memainkan narasi debasement trade. Pelemahan dolar, tekanan di pasar obligasi, dan kekhawatiran terhadap utang AS mendorong investor untuk mencari aset alternatif. Emas mendapatkan dorongan sebagai aset safe haven tradisional, sementara Bitcoin kembali diposisikan sebagai lindung nilai digital terhadap penurunan nilai mata uang. Keduanya bergerak searah karena didukung oleh faktor makro yang sama. Namun, reli ini masih menghadapi ujian penting dari Jackson Hole dan arah kebijakan yield Treasury. Jika sinyal dari The Fed mendukung pelonggaran kebijakan atau setidaknya tidak terlalu hawkish, Bitcoin dan emas berpeluang melanjutkan kenaikannya. Sebaliknya, jika The Fed memberikan sinyal bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, momentum penguatan ini bisa tertahan. Untuk saat ini, Bitcoin masih menunjukkan sentimen bullish selama bertahan di atas US$80.000, namun potensi volatilitas meningkat menjelang pengumuman kebijakan moneter pekan ini.






