Ledakan Kripto: Bitcoin Meroket ke US$69.000, Likuidasi Short Rp 19 Triliun Picu Reli Besar!

Amalia Citra

Amalia Citra

Ledakan Kripto: Bitcoin Meroket ke US$69.000, Likuidasi Short Rp 19 Triliun Picu Reli Besar!
Ledakan Kripto: Bitcoin Meroket ke US$69.000, Likuidasi Short Rp 19 Triliun Picu Reli Besar!

Poros Informasi – 20 Agustus 2026 |

Pasar aset kripto global dikejutkan oleh reli tajam pada Rabu, 19 Agustus 2026, ditandai dengan Bitcoin (BTC) yang berhasil melonjak lebih dari 5,8% dan sempat menembus angka psikologis US$69.500. Kenaikan dramatis ini tidak hanya membuat para investor bersorak, tetapi juga memicu likuidasi besar-besaran pada posisi short, menghapus sekitar US$1,23 miliar taruhan bearish hanya dalam kurun waktu satu jam. Fenomena ini sontak membuat para pelaku pasar kembali bertanya-tanya: apakah ini pertanda kembalinya era bull market kripto, atau sekadar reli sementara yang dipicu oleh fenomena *short squeeze*? Tim Research Tokocrypto mengkonfirmasi bahwa lonjakan ini tidak hanya terbatas pada Bitcoin, melainkan juga meluas ke aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) mencatatkan kenaikan sekitar 9% ke level US$2.088, Solana (SOL) menguat 6,5%, dan XRP juga tidak ketinggalan dengan kenaikan 6,9%.

### Treasury Buyback Jadi Pemicu Utama

Katalis utama di balik pergerakan harga yang signifikan ini berasal dari keputusan mengejutkan Departemen Keuangan Amerika Serikat (US Treasury) yang mengumumkan akan menggandakan program pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjangnya menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi. Langkah strategis ini secara langsung memberikan tekanan pada imbal hasil obligasi AS dan secara signifikan mendorong minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Secara sederhana, keputusan ini berarti pemerintah AS sendiri akan bertindak sebagai pembeli utama utang jangka panjangnya. Keputusan ini diambil di tengah kondisi di mana *yield* obligasi AS tenor 30 tahun sempat menyentuh level 5,337%, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2007. Tak lama setelah pengumuman buyback, *yield* tersebut berhasil turun ke angka 5,192%.

Penurunan imbal hasil obligasi secara historis selalu berdampak positif bagi aset berisiko. Ketika imbal hasil dari instrumen investasi yang lebih aman seperti obligasi menurun, investor cenderung mencari peluang keuntungan yang lebih tinggi di aset lain. Hal ini mencakup saham-saham teknologi, komoditas, dan tentu saja, aset kripto. Pasar menafsirkan langkah Treasury sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah AS mulai menyadari dan berupaya mengatasi tekanan biaya pinjaman yang meningkat. Sentimen positif ini membantu meredakan kekhawatiran mengenai likuiditas pasar dan mendorong arus masuk modal ke Bitcoin.

### Likuidasi Short Memperbesar Kenaikan Harga Kripto

Reli Bitcoin semakin diperkuat oleh gelombang *short liquidation* dalam jumlah masif. Dalam satu jam saja, sekitar US$1,23 miliar posisi *short* terpaksa ditutup secara paksa karena kerugian yang tidak dapat dihindari. Dalam rentang waktu 24 jam, total likuidasi posisi *short* mencapai angka fantastis sekitar US$1,57 miliar, yang berdampak pada lebih dari 114.000 trader di seluruh dunia. Bahkan, di platform Hyperliquid, tiga *wallet* besar tercatat mengalami kerugian gabungan mencapai sekitar US$194 juta. Mekanisme *short liquidation* dapat secara dramatis mempercepat kenaikan harga aset. Ketika posisi *short* dilikuidasi, bursa atau platform trading terpaksa membeli kembali aset di pasar terbuka untuk menutup posisi yang merugi tersebut. Pembelian paksa ini secara efektif menambah tekanan beli, yang pada gilirannya dapat memicu likuidasi posisi *short* lainnya, menciptakan efek bola salju atau *chain reaction*. Semakin tinggi harga naik, semakin banyak posisi *short* yang tertekan, memicu lebih banyak pembelian paksa, dan selanjutnya mendorong harga lebih tinggi lagi. Namun, perlu dicatat bahwa reli yang didorong oleh *short squeeze* semacam ini juga menyimpan risiko. Jika kenaikan harga tidak didukung oleh permintaan *spot* yang fundamental dan kuat, harga berpotensi mengalami pelemahan tajam setelah tekanan likuidasi mereda.

### Bitcoin Masuk Zona *Fair Value Gap*

Secara teknikal, pergerakan harga Bitcoin saat ini telah memasuki area penting yang dikenal sebagai *Fair Value Gap* (FVG). Zona ini terbentuk ketika harga mengalami penurunan atau kenaikan yang sangat cepat sehingga meninggalkan area perdagangan yang belum terisi secara seimbang. Laporan dari BeInCrypto menunjukkan bahwa FVG untuk Bitcoin berada dalam kisaran US$67.516 hingga US$70.686. Dalam reli terbaru, BTC berhasil menyentuh area ini dengan *intraday high* di sekitar US$69.500 sebelum sedikit terkoreksi ke level US$67.996. Level paling krusial di dalam zona FVG ini adalah *midline* atau ambang batas rata-rata di sekitar US$69.110. Penutupan *candle* harian di atas level ini dapat menjadi indikator kuat bahwa reli masih memiliki potensi untuk berlanjut. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$69.110, target selanjutnya yang potensial diuji adalah kisaran US$72.000, asalkan momentum beli tetap terjaga. Sebaliknya, jika Bitcoin gagal bertahan dan ditutup di bawah *midline* FVG, pasar dapat menginterpretasikan reli ini hanya sebagai pengisian *gap* semata, yang berisiko memicu kembali tekanan jual dan mendorong harga ke area *support*.

### Bull Market atau Sekadar Reli Sementara?

Perdebatan utama yang menghiasi pasar kripto saat ini adalah apakah lonjakan harga terbaru ini merupakan sinyal kembalinya *bull market* yang dinanti-nantikan, atau hanya sekadar reli sementara yang bersifat teknikal. Sebagian analis melihat keputusan US Treasury sebagai pemicu besar yang berpotensi mengubah arah pasar secara fundamental. Michaël van de Poppe, misalnya, menilai pengumuman buyback obligasi sebagai katalis positif yang meningkatkan peluang Bitcoin untuk kembali memasuki fase *bull market*. Menurutnya, perbaikan kondisi likuiditas global akan sangat mendukung aset-aset berisiko. Namun, analis lain tetap mengambil sikap hati-hati. Rekt Capital memperingatkan bahwa Bitcoin kini mendekati area resistensi yang secara historis terbukti sulit ditembus dalam fase siklus pasar saat ini. Selain itu, Bitcoin masih diperdagangkan sekitar 46% di bawah rekor tertingginya pada Oktober 2025, yaitu US$126.080. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun reli terbaru terlihat kuat, struktur pasar jangka panjang belum sepenuhnya pulih. Kekhawatiran lain muncul dari *funding rate* Bitcoin yang sempat mencapai level tertinggi dalam 20 bulan terakhir. *Funding rate* yang terlalu tinggi seringkali menandakan banyaknya trader yang membuka posisi *long* dengan *leverage* tinggi, yang meningkatkan risiko koreksi tajam jika momentum pasar melemah.

### Permintaan Mulai Membaik, The Fed Jadi Ujian Berikutnya

Di sisi lain, data dari CryptoQuant menunjukkan adanya peningkatan permintaan Bitcoin dalam basis 30 hari, yang merupakan pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Sinyal ini memberikan harapan bahwa kenaikan harga tidak semata-mata ditopang oleh *short squeeze*, melainkan juga mulai didukung oleh pembelian *spot* yang riil. Jika permintaan riil terus meningkat, reli Bitcoin memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang. Namun, pasar perlu cermat mengamati apakah para pembeli mampu mempertahankan area *support* krusial setelah lonjakan harga ini. Zona US$65.000 hingga US$67.000 kini menjadi area pertahanan penting bagi para *bull*. Selama BTC mampu bertahan di atas zona tersebut, struktur pasar jangka pendek masih dapat dianggap konstruktif. Sebaliknya, jika Bitcoin kembali menembus ke bawah US$65.000, reli terbaru ini berisiko dianggap gagal dan pasar dapat kembali memasuki fase konsolidasi yang lebih panjang.

Fokus pasar kini beralih pada risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) bulan Juli mendatang. Dokumen tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, serta pandangan The Fed terhadap inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi. Jika risalah The Fed menunjukkan sikap yang lebih *dovish* (longgar), aset berisiko seperti kripto berpotensi mendapatkan dorongan tambahan. Dalam skenario ini, Bitcoin memiliki peluang untuk mempertahankan momentum reli dan mencoba menembus penutupan harian di atas US$69.110. Namun, jika risalah tersebut justru menyoroti kekhawatiran inflasi yang masih tinggi atau mempertahankan prospek kebijakan moneter yang ketat, pasar dapat kembali berhati-hati. Hal ini berpotensi menekan harga Bitcoin dan memicu koreksi pasca *short squeeze* besar yang baru saja terjadi. Secara keseluruhan, reli kripto terbaru ini memberikan sinyal positif, namun belum cukup untuk memastikan kembalinya *bull market* secara definitif. Lonjakan Harga Kripto Melonjak, Bitcoin Tembus US$69.000 usai likuidasi *short* masif merupakan kombinasi dari stimulus kebijakan Treasury, penurunan *yield* obligasi, likuidasi *short* besar, dan tanda-tanda awal pemulihan permintaan. Kunci utama pergerakan selanjutnya adalah kemampuan BTC untuk mempertahankan level US$65.000–US$67.000 dan mencapai penutupan harian di atas US$69.110. Jika berhasil, target US$72.000 menjadi lebih realistis. Namun, kegagalan mempertahankan level-level tersebut dapat mengindikasikan bahwa reli ini hanyalah koreksi sementara sebelum pasar kembali mencari arah yang lebih jelas.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tinggalkan komentar