Poros Informasi – Pasar kripto dikejutkan oleh manuver tak terduga Bitcoin (BTC) pekan lalu. Alih-alih tertekan oleh kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed), aset digital terbesar ini justru melesat, menembus level psikologis penting dan memicu spekulasi hangat: apakah BTC akhirnya mulai "decoupling" atau melepaskan diri dari bayang-bayang kebijakan moneter AS?
Fenomena Tak Terduga: Bitcoin Melawan Gravitasi Suku Bunga

Selama periode 14 hingga 21 September 2026, pergerakan Bitcoin menjadi sorotan utama. Pada 16 September, Federal Reserve mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, menempatkannya di rentang 3,75% hingga 4,00%. Secara historis, langkah ini seringkali menjadi sinyal negatif bagi aset berisiko seperti kripto. Namun, BTC menunjukkan respons yang kontras.
Sehari sebelum pengumuman, tepatnya 15 September, Bitcoin sempat tergelincir hingga menyentuh US$74.944. Namun, pasca-keputusan The Fed, tekanan jual mereda dan harga berbalik arah. Pada 18 September, BTC berhasil menembus kembali US$80.000, dan puncaknya, pada 21 September, aset ini bahkan menyentuh area US$87.000 sebelum ditutup di atas US$85.000. Lonjakan ini secara fundamental menantang narasi konvensional bahwa kenaikan suku bunga selalu menjadi beban bagi Bitcoin, memicu perdebatan tentang kemandiriannya dari kebijakan moneter makro.
Mengurai Teka-Teki Kenaikan Bitcoin
Reli impresif Bitcoin di tengah kenaikan suku bunga The Fed bukanlah kebetulan semata. Beberapa faktor krusial diyakini menjadi pendorong utama di balik fenomena ini, menunjukkan kompleksitas pasar kripto yang seringkali melampaui ekspektasi sederhana.
Ekspektasi Pasar Telah "Priced In"
Analisis pasar menunjukkan bahwa keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga bukanlah kejutan besar. Data dari CME FedWatch Tool sebelum rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mengindikasikan probabilitas kenaikan 25 basis poin sudah mencapai 92-93%. Ini berarti mayoritas pelaku pasar telah mengantisipasi dan "memasukkan" skenario tersebut ke dalam harga aset, termasuk Bitcoin. Tekanan jual signifikan justru terlihat sebelum pengumuman, di mana BTC merosot dari sekitar US$78.000 pada 14 September ke US$74.944 pada 15 September. Ketika keputusan yang diharapkan akhirnya tiba, ketidakpastian justru berkurang, membuka jalan bagi investor untuk kembali mengakumulasi aset berisiko. Bitcoin menutup hari pengumuman di sekitar US$76.150, stabil, sebelum memulai fase pemulihan.
Arus Dana ETF Bitcoin Kembali Deras
Pemulihan Bitcoin juga didorong oleh pergeseran signifikan dalam arus dana ke spot Bitcoin Exchange-Traded Funds (ETF) di Amerika Serikat. Menjelang keputusan The Fed, ETF-ETF ini mencatat net outflow substansial sekitar US$746,3 juta pada 15-16 September, menandakan kehati-hatian investor. Namun, setelah pengumuman suku bunga, sentimen berbalik drastis. Pada 17 September, tercatat net inflow sekitar US$159,5 juta, yang kemudian melonjak menjadi US$433 juta pada 18 September. Puncaknya, pada 21 September, arus masuk ETF bahkan menembus angka US$1 miliar dalam sehari. Data ini, seperti yang diulas oleh altcoinbuzz.io, secara langsung berkorelasi dengan lonjakan harga Bitcoin dari US$76.000 hingga menembus US$80.000, menegaskan kembalinya minat institusional terhadap aset digital ini.
Angin Segar Regulasi Kripto AS
Perkembangan regulasi di Amerika Serikat turut menyumbang sentimen positif. Pada 17 September 2026, sehari setelah keputusan The Fed, Securities and Exchange Commission (SEC) menerbitkan Innovation Exemption. Kebijakan ini memberikan kelonggaran sementara bagi Tokenized Securities Venues (TSV) tertentu untuk memperdagangkan saham NMS yang ditokenisasi secara






