Poros Informasi – Dua entitas investasi raksasa dari Abu Dhabi, Mubadala Investment Company dan Abu Dhabi Investment Council, mencatat kerugian nilai sekitar US$118 juta dari kepemilikan mereka di iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock sepanjang kuartal kedua 2026. Menariknya, meskipun menghadapi penurunan signifikan ini, pengajuan terbaru ke SEC menunjukkan bahwa kedua dana tersebut tidak menjual satu pun saham IBIT mereka, sebuah sinyal kuat akan strategi jangka panjang di tengah gejolak pasar kripto.
Pengajuan ke SEC mengungkapkan bahwa Mubadala Investment Company dan Abu Dhabi Investment Council, melalui entitas Al Warda Investments, secara kolektif memegang 22,94 juta saham IBIT per 30 Juni 2026. Nilai posisi gabungan ini merosot menjadi sekitar US$764 juta, dari sebelumnya US$881 juta tiga bulan sebelumnya. Laporan Mubadala diajukan pada 14 Agustus 2026, sementara Abu Dhabi Investment Council pada 13 Agustus 2026, keduanya sebagai bagian dari Formulir 13F-HR, laporan kuartalan yang wajib bagi manajer investasi institusional di AS.

Strategi Jangka Panjang di Tengah Badai Volatilitas
Data terbaru mengonfirmasi bahwa Mubadala tetap mempertahankan 14,72 juta saham IBIT, sementara Abu Dhabi Investment Council melalui Al Warda Investments tidak mengubah kepemilikan 8,22 juta sahamnya. Ini berarti, penurunan nilai posisi Abu Dhabi bukan disebabkan oleh aksi jual, melainkan murni oleh pergerakan harga IBIT yang sejalan dengan koreksi Bitcoin (BTC). IBIT sendiri adalah ETF spot Bitcoin BlackRock yang dirancang untuk memberikan eksposur langsung terhadap fluktuasi harga BTC.
Tim Riset porosinformasi.co.id menyoroti kondisi ini sebagai indikator penting. Mereka menjelaskan bahwa sovereign wealth fund (SWF) seperti Mubadala dan ADIC cenderung memiliki horizon investasi yang jauh lebih panjang dibandingkan trader jangka pendek. "Tidak adanya pengurangan saham menunjukkan Abu Dhabi belum mengubah posisi strategisnya meski volatilitas Bitcoin cukup besar," ungkap tim riset tersebut, menggarisbawahi pendekatan yang sabar dan terukur. Sebelumnya, Mubadala bahkan dilaporkan menambah kepemilikan IBIT pada kuartal pertama 2026, mencapai 14,72 juta saham dengan nilai sekitar US$565,6 juta per 31 Maret 2026.
Ayunan Nilai Fantastis dan Ketahanan Portofolio
Periode kuartal kedua 2026 bukanlah perjalanan yang mulus bagi Bitcoin. Pada April, BTC membuka perdagangan di sekitar US$68.000, sempat melonjak di atas US$82.000 pada Mei. Ketika IBIT menyentuh area US$46,47 di bulan Mei, nilai gabungan posisi Mubadala dan Abu Dhabi Investment Council diperkirakan mencapai sekitar US$1,07 miliar. Namun, koreksi tajam Bitcoin pada Juni, yang anjlok sekitar 17,9% dan menutup bulan di sekitar US$58.559, menghapus sebagian besar kenaikan tersebut.
Akibatnya, nilai posisi IBIT Abu Dhabi berakhir sekitar US$302 juta lebih rendah dari puncak Mei. Ini menunjukkan bahwa kedua dana tersebut tidak hanya menahan penurunan kuartalan sebesar US$118 juta, tetapi juga melewati ayunan nilai ratusan juta dolar dari puncak sementara tanpa memangkas posisi. Sebuah demonstrasi ketahanan investasi yang patut dicermati oleh para pelaku pasar kripto.
Dampak Berbeda pada Dua Raksasa Investasi
Meskipun keduanya menunjukkan ketahanan, bobot IBIT dalam portofolio masing-masing entitas memiliki perbedaan signifikan. Bagi Mubadala, posisi IBIT hanya mencakup sekitar 1,4% dari portofolio saham AS mereka yang jauh lebih besar, senilai US$34,77 miliar. Posisi terbesar Mubadala masih didominasi oleh GlobalFoundries, perusahaan semikonduktor yang menjadi pilar utama portofolio mereka.
Namun, bagi Abu Dhabi Investment Council, kepemilikan IBIT memiliki bobot yang jauh lebih besar. Nilai sekitar US$274 juta setara dengan sekitar 38% dari portofolio AS yang diungkapkan senilai US$714 juta. Hal ini menjadikan fluktuasi Bitcoin dan IBIT jauh lebih berpengaruh terhadap portofolio ADIC dibandingkan Mubadala. Bahkan, IBIT menjadi posisi saham AS terbesar yang diungkapkan oleh Investment Council dalam laporan tersebut.
Kontras dengan Tren Institusi Lain
Sikap teguh Abu Dhabi ini kontras dengan beberapa institusi global lainnya yang mulai mengurangi eksposur mereka terhadap Bitcoin. Intesa Sanpaolo, salah satu grup perbankan terbesar di Italia, dilaporkan memangkas kepemilikan IBIT secara signifikan dan mengalihkan sebagian perhatian ke produk berbasis Ethereum.
Data arus dana juga mencerminkan tekanan terhadap ETF Bitcoin spot. Pada akhir Juli, produk Bitcoin spot mencatat outflow (arus keluar dana), sementara ETF Ethereum terus menarik inflow (arus masuk dana) dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini menyoroti adanya perbedaan strategi antar institusi: sebagian memilih mengurangi risiko setelah koreksi Bitcoin, sementara Abu Dhabi tetap mempertahankan posisi di IBIT. Sikap tersebut dapat dibaca sebagai pendekatan jangka panjang yang mengutamakan diversifikasi aset dan tidak terpengaruh oleh volatilitas jangka pendek.
Menanti Sinyal Berikutnya: Akankah Abu Dhabi Berubah Pikiran?
Formulir 13F-HR yang diajukan ke SEC hanya memberikan gambaran statis pada tanggal pelaporan tertentu, bukan aktivitas harian. Oleh karena itu, pasar baru akan mengetahui apakah Mubadala atau Abu Dhabi Investment Council tetap bertahan atau mulai memangkas posisi melalui laporan berikutnya.
Jika Bitcoin kembali melemah dan tekanan terhadap ETF spot berlanjut, risiko penyesuaian portofolio tetap ada. Namun, jika BTC mampu stabil di atas level penting dan arus dana ETF membaik, Abu Dhabi kemungkinan memiliki alasan kuat untuk terus menahan posisi. Untuk saat ini, keputusan tidak menjual di tengah penurunan nilai yang substansial menunjukkan kesabaran institusional. Abu Dhabi tampaknya melihat IBIT sebagai eksposur jangka panjang terhadap Bitcoin, bukan sekadar perdagangan kuartalan.
Laporan berikutnya pada November 2026 akan menjadi penentu. Jika jumlah saham yang dipegang tetap tidak berubah, pasar dapat menginterpretasikan bahwa keyakinan Abu Dhabi terhadap Bitcoin masih bertahan melewati tekanan musim panas. Namun, jika terjadi pengurangan posisi, hal itu dapat menjadi sinyal bahwa bahkan investor jangka panjang pun mulai menyesuaikan risiko di tengah volatilitas BTC yang tak terduga.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli. porosinformasi.co.id berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.






