XRP Turun di Bawah US$1, Analis Ingatkan Pola Panic Selling di Pasar Kripto
Poros Informasi – 17 Agustus 2026 | Harga XRP kembali menembus level psikologis penting di bawah US$1 pekan ini, diperdagangkan di kisaran US$0,99. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan jual yang lebih luas di pasar aset kripto secara global, memicu kembali perdebatan mengenai arah pasar dan potensi fase penurunan lebih dalam. Namun, tidak semua pelaku pasar melihat koreksi ini sebagai pertanda akhir tren. Sebagian analis justru mengingatkan akan pola panic selling yang kerap berulang, terutama jika melihat sejarah Bitcoin yang dikabarkan telah ‘mati’ lebih dari 470 kali sejak kemunculannya.
Level Psikologis US$1 Kembali Terkikis
Penurunan XRP di bawah US$1 menjadi sorotan utama karena level ini merupakan ambang batas psikologis yang krusial bagi para trader. Ketika harga aset menembus angka bulat seperti ini, sentimen pasar cenderung menjadi lebih rentan terhadap tekanan jual. XRP sempat menyentuh level sekitar US$0,99 seiring dengan pelemahan umum di pasar kripto, di mana beberapa aset besar lainnya juga mengalami koreksi. Situasi ini membuat investor lebih berhati-hati dalam membuka posisi baru.
Bagi sebagian trader, penurunan di bawah US$1 dapat membuka potensi koreksi lanjutan. Sebaliknya, bagi investor jangka panjang, area harga yang lebih rendah seringkali dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi secara bertahap. Perbedaan sudut pandang inilah yang membuat pasar XRP saat ini terbelah. Satu sisi melihat penurunan sebagai indikasi pelemahan struktur harga, sementara sisi lain menganggapnya sebagai bagian dari siklus volatilitas pasar kripto yang sudah lazim terjadi. Dalam konteks ini, XRP Turun di Bawah US$1, Analis Ingatkan Pola Panic Selling di Pasar Kripto menjadi narasi yang kembali mengemuka.
Narasi “Crypto Mati” dan Siklus Volatilitas
Coach JB, seorang analis pasar, menyoroti bahwa narasi ‘Bitcoin mati’ yang muncul setiap kali pasar mengalami koreksi besar telah berulang kali terjadi. Ia berpendapat bahwa investor yang terlalu cepat percaya pada narasi negatif tersebut berisiko kehilangan potensi pemulihan jangka panjang. Namun, Coach JB juga mengingatkan bahwa argumen ini memiliki kelemahan karena seringkali didasarkan pada pandangan hindsight atau melihat kejadian setelah hasil diketahui.
Fakta bahwa Bitcoin pernah pulih dari banyak koreksi di masa lalu tidak secara otomatis menjamin bahwa setiap aset kripto akan selalu mengalami hal serupa. Pasar kripto tetap memiliki risiko tinggi, terutama untuk aset dengan volatilitas besar seperti XRP. Meskipun demikian, pola komentar bearish saat harga turun memang bukan hal baru. Setiap kali pasar melemah, sentimen kepanikan cenderung meningkat, sementara pelaku pasar jangka panjang biasanya lebih fokus pada strategi akumulasi dan manajemen risiko.
Performa Historis XRP dan Bitcoin: Pelajaran Jangka Panjang
Berdasarkan data historis, Bitcoin tercatat mengalami kenaikan sekitar 796% sejak Januari 2020. Dalam periode yang sama, XRP menunjukkan pertumbuhan sekitar 445%. Sebagai perbandingan, aset tradisional seperti emas naik sekitar 179%, S&P 500 naik 137%, dan real estate AS naik 55% dalam rentang waktu tersebut. Data ini menunjukkan bahwa XRP dan Bitcoin masih mencatat performa historis yang kuat dalam jangka panjang.
Namun, angka-angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan seluruh risiko yang dihadapi sepanjang perjalanan. XRP sempat menghadapi tekanan besar akibat kasus hukum yang berkepanjangan dengan SEC, sementara Bitcoin juga mengalami beberapa kali penurunan tajam yang membuat banyak investor keluar dari pasar saat volatilitas meningkat. Oleh karena itu, data performa sejak 2020 perlu dibaca sebagai gambaran historis, bukan sebagai prediksi mutlak. Kenaikan besar di masa lalu tidak serta merta menghapus risiko koreksi tajam di masa depan.
Strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) di Tengah Koreksi
Alih-alih panik menjual saat XRP turun di bawah US$1, Coach JB mengungkapkan bahwa ia menerapkan strategi dollar-cost averaging (DCA). Strategi ini melibatkan pembelian secara bertahap ketika harga turun dan mengambil keuntungan saat harga kembali pulih. Pendekatan ini dinilai dapat membantu mengurangi tekanan psikologis karena tidak perlu menebak titik terendah pasar secara tepat, serta mendorong disiplin dalam akumulasi, terutama di pasar yang sangat volatil.
Coach JB sendiri menyatakan bahwa kepemilikan terbesarnya saat ini adalah XRP, diikuti oleh Bitcoin dan Solana. Ia telah mengakumulasi XRP sejak beberapa tahun lalu, bahkan sebelum aset tersebut menjadi lebih mainstream. Bitcoin mulai dikumpulkannya sekitar tahun 2023. Namun, penting untuk dicatat bahwa strategi DCA tetap memiliki risiko. Jika aset yang dibeli terus mengalami penurunan atau gagal pulih dalam jangka panjang, investor tetap dapat mengalami kerugian signifikan. Oleh karena itu, strategi ini perlu disertai dengan manajemen risiko yang matang dan pemahaman mendalam terhadap aset yang dipilih.
Proyeksi Jangka Pendek dan Pentingnya Konfirmasi Level Harga
Untuk jangka pendek, Coach JB memperkirakan XRP masih berpotensi bergerak di kisaran US$0,60 hingga US$0,90 sebelum peluang pemulihan muncul menjelang akhir tahun. Ia juga memperkirakan Bitcoin masih berisiko turun ke area US$40.000 hingga US$50.000. Perlu diingat bahwa proyeksi ini bersifat spekulatif dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti sentimen makro, likuiditas, regulasi, arus dana institusional, dan kondisi teknikal pasar.
Jika XRP gagal merebut kembali level US$1, tekanan jual dapat berlanjut dan pasar berpotensi menguji level support yang lebih rendah. Area US$0,90 menjadi level awal yang perlu dicermati, sementara penurunan lebih dalam dapat membawa harga ke kisaran US$0,60 hingga US$0,70. Sebaliknya, jika XRP mampu kembali naik di atas US$1 dan mempertahankan level tersebut, sentimen pasar dapat membaik. Reclaim level psikologis ini akan menjadi sinyal awal bahwa pembeli mulai kembali mengambil kendali. Fenomena XRP Turun di Bawah US$1, Analis Ingatkan Pola Panic Selling di Pasar Kripto ini menegaskan kembali tingginya volatilitas yang melekat pada pasar aset digital.
Secara keseluruhan, penurunan XRP di bawah US$1 kembali menyoroti volatilitas pasar kripto yang ekstrem. Narasi bearish dan panic selling kemungkinan akan terus muncul setiap kali harga melemah. Namun, seperti yang sering terjadi dalam siklus kripto, investor perlu membedakan antara kepanikan jangka pendek dan strategi jangka panjang yang solid. XRP masih memiliki risiko koreksi lebih lanjut, tetapi arah pergerakannya akan sangat bergantung pada kemampuan harga merebut kembali US$1, kekuatan pasar kripto secara umum, dan apakah pembeli besar kembali masuk saat harga berada di area bawah. Pengalaman menunjukkan bahwa XRP Turun di Bawah US$1, Analis Ingatkan Pola Panic Selling di Pasar Kripto adalah pengingat konstan akan sifat pasar yang dinamis.







