Poros Informasi – Gejolak yang melanda pasar saham Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, khususnya pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), disinyalir bukan sekadar fluktuasi pasar biasa. Menurut Benny Batara, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Bennix, pendiri Bennix Investor Group, ada kemungkinan kuat campur tangan aktor-aktor asing yang berperan dalam kondisi pasar yang kurang menguntungkan ini.
Berbicara dalam sebuah siniar (podcast) pada Senin (2/2/2026), pakar pasar modal ini mengungkapkan bahwa fenomena semacam ini bukanlah hal baru dalam dinamika ekonomi global. Ia merujuk pada pola yang kerap diterapkan oleh indeks global seperti Morgan Stanley Capital Index (MSCI) terhadap pasar-pasar negara berkembang (emerging market).

Pola Lama, Target Baru: Destabilisasi Ekonomi Global
Bennix menjelaskan bahwa skema destabilisasi ekonomi yang ia amati bukanlah kejadian pertama atau kedua kalinya. "Mereka sudah melakukan pola yang sama di Yunani dan Argentina," ungkap Bennix. Pola tersebut, menurutnya, dimulai dengan penghancuran nilai mata uang suatu negara, diikuti dengan kehancuran bursa saham. Akibatnya, harga-harga perusahaan domestik anjlok drastis dan menjadi sangat murah, membuka peluang akuisisi dengan harga diskon.
Kasus Yunani: Aset Strategis Dijual Murah
Sebagai contoh konkret, Bennix menyoroti kasus Yunani pasca-krisis. Setelah perekonomian negara tersebut terpuruk, berbagai aset strategis seperti pelabuhan, bandara, dan pabrik-pabrik vital akhirnya diakuisisi oleh pihak asing dengan harga yang sangat rendah. Pertanyaan besar pun muncul: apakah situasi yang dialami Indonesia saat ini memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi di Yunani?
Bennix menegaskan bahwa kemiripan situasi ini sangat mungkin terjadi dan erat kaitannya dengan persoalan geopolitik yang lebih luas. Ia tidak ragu menyebut adanya pihak-pihak tertentu yang bertindak sebagai kepanjangan tangan dari kepentingan asing, yang berupaya memanipulasi pasar demi keuntungan mereka.
Kepentingan Global dan Ancaman Kedaulatan Ekonomi
"Faktanya memang mereka yang membuat crash, jadi ini logis," ujar Bennix. Ia menambahkan bahwa ada banyak pihak yang tidak menyukai ketika Indonesia berupaya untuk menjadi negara yang lebih baik dan lebih mandiri secara ekonomi. Tekanan semacam ini, menurut Bennix, bukan semata-mata persoalan ekonomi murni, melainkan bagian dari dinamika kepentingan global yang lebih besar dan kompleks. Ini adalah pertarungan kedaulatan ekonomi di tengah pusaran geopolitik yang dinamis.






