Poros Informasi – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) melontarkan proyeksi yang cukup mengkhawatirkan terkait kinerja perekonomian nasional. Menurut kajian terbaru mereka, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun 2026 diprediksi akan tertahan di bawah ambang 5 persen, sebuah indikator krusial yang menandakan adanya bayangan perlambatan. Kondisi ini, menurut para ekonom, merupakan akumulasi dari serangkaian guncangan, baik dari eksternal maupun internal, yang secara signifikan membebani postur fiskal dan sentimen pasar.
Proyeksi Pertumbuhan di Bawah Ekspektasi

Ekonom LPEM UI, Teuku Riefky, menjelaskan bahwa perlambatan yang diproyeksikan ini bukan tanpa alasan. Angka 4,80% (yoy) dengan rentang estimasi antara 4,78% hingga 4,82% menjadi sorotan utama. Riefky mengidentifikasi dua faktor utama yang berkontribusi pada penurunan momentum ini. Pertama, adanya efek basis tinggi dari periode sebelumnya yang menciptakan perbandingan yang lebih menantang. Kedua, hilangnya dorongan musiman seperti perayaan Idul Fitri yang pada tahun ini jatuh lebih awal di kuartal pertama, sehingga dampak konsumsi puncaknya sudah terealisasi di periode sebelumnya.
"Secara keseluruhan, kami memperkirakan PDB Indonesia di triwulan-II 2026 akan tumbuh sebesar 4,80% (yoy) dengan rentang estimasi antara 4,78% hingga 4,82%," ujar Riefky dalam kajian ekonomi terbaru yang diterima porosinformasi.co.id, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Badai Guncangan: Dari Eksternal Hingga Tekanan Fiskal Domestik
Perekonomian Indonesia saat ini memang tengah dihadapkan pada serangkaian tantangan yang kompleks, menguji ketahanan fundamentalnya.
Depresiasi Rupiah dan Inflasi Impor yang Menghimpit
Salah satu pemicu utama perlambatan adalah tekanan dari eksternal. Pelemahan nilai tukar Rupiah yang signifikan terhadap mata uang asing, ditambah dengan meroketnya harga komoditas energi di pasar global, telah menciptakan efek domino. Kondisi ini memicu inflasi impor yang tak terhindarkan, menekan margin keuntungan dan daya saing industri domestik karena biaya produksi yang melonjak.
Tantangan Tata Kelola Fiskal dan Beban Anggaran
Di sisi internal, Indonesia juga menghadapi persoalan serius. Perekonomian nasional terbebani oleh sanksi rebalancing dari indeks MSCI serta penurunan prospek ekonomi oleh sejumlah lembaga pemeringkat internasional, sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran terhadap tata kelola fiskal. APBN kian tertekan dengan membengkaknya alokasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) serta tingginya biaya implementasi program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Program-program ini, meskipun bertujuan baik, menambah beban signifikan pada anggaran negara.
Urgensi Koreksi Kebijakan dan Pemulihan Kepercayaan Investor
Riefky juga menyoroti aspek non-ekonomi yang tak kalah penting, yaitu komunikasi publik dari para pejabat yang dinilai kurang kredibel, ditambah dengan kebijakan-kebijakan yang kerap dipertanyakan. Hal ini, menurutnya, telah memperburuk sentimen investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, memicu kekhawatiran dan berujung pada arus modal keluar (capital outflow) yang tak kunjung reda.
Untuk meredam gejolak ini, Riefky menekankan pentingnya bagi pemerintah untuk segera melakukan koreksi kebijakan. Ia menggarisbawahi perlunya Indonesia menata ulang prioritas fokusnya guna mengembalikan kepercayaan investor dan masyarakat. Langkah konkret yang disarankan meliputi perbaikan fundamental dalam proses pembuatan kebijakan, pengurangan belanja yang tidak produktif, serta perlindungan terhadap independensi bank sentral sebagai jangkar stabilitas moneter. Tanpa langkah-langkah strategis dan terukur, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 mungkin akan terus dihantui ketidakpastian.






