Dari Dapur ke Langit: Minyak Jelantah Kini Jadi Bahan Bakar Pesawat!

Renita

Dari Dapur ke Langit: Minyak Jelantah Kini Jadi Bahan Bakar Pesawat!

Poros Informasi – Langkah revolusioner dalam sektor energi hijau mulai menunjukkan taringnya di Indonesia. Siapa sangka, limbah dapur berupa minyak goreng bekas atau minyak jelantah kini tidak lagi sekadar menjadi limbah yang mencemari lingkungan, melainkan bertransformasi menjadi bahan bakar pesawat terbang yang canggih.

Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, melakukan peninjauan langsung ke Kilang Cilacap milik PT Pertamina Patra Niaga untuk melihat proses konversi limbah tersebut menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau yang lebih dikenal dengan istilah bioavtur.

Dari Dapur ke Langit: Minyak Jelantah Kini Jadi Bahan Bakar Pesawat!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Inovasi Energi Hijau dari Skala Rumah Tangga

Dalam kunjungannya, Wapres Gibran menekankan bahwa keberhasilan transisi energi ini tidak lepas dari peran aktif masyarakat di tingkat akar rumput. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada para ibu rumah tangga dan komunitas lokal yang secara konsisten mengumpulkan minyak jelantah untuk disalurkan kembali ke industri.

Menurut Gibran, sinergi antara kebiasaan sederhana di rumah tangga dengan teknologi industri skala besar merupakan kunci dalam menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

"Saya sangat mengapresiasi kontribusi ibu-ibu dan komunitas di Cilacap. Ini adalah bukti nyata bahwa tindakan sederhana dari rumah dapat terintegrasi dengan inovasi energi nasional dan memberikan dampak ekonomi serta lingkungan yang sangat luas," ujar Gibran saat meninjau proses produksi, Selasa (27/10/2026).

Dampak Ganda: Lingkungan Bersih, Dompet Terisi

Transformasi minyak jelantah menjadi bioavtur menciptakan efek domino yang positif. Dari sisi ekologi, praktik pengumpulan limbah ini mencegah pencemaran air dan tanah akibat pembuangan minyak bekas secara sembarangan. Sementara dari sisi ekonomi, limbah yang dulunya tidak bernilai kini memiliki nilai jual yang mampu meningkatkan pendapatan kelompok masyarakat.

Rumdani Prapti Sumiwi, Ketua Bank Sampah Cahaya Asri, menceritakan bagaimana perubahan paradigma ini terjadi di lingkungannya. Ia mengungkapkan bahwa awalnya warga hanya fokus pada kebersihan lingkungan tanpa menyadari potensi ekonomi di balik limbah tersebut.

"Awalnya kami tidak tahu minyak jelantah bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Namun, setelah mendapat edukasi dari Pertamina Patra Niaga mengenai nilai jualnya, semangat warga meningkat pesat. Sekarang, lingkungan kami lebih bersih, limbah tidak lagi berserakan, dan ekonomi kelompok kami tumbuh seiring bertambahnya jumlah nasabah," ungkap Rumdani.

Langkah strategis ini diharapkan dapat terus diperluas ke berbagai wilayah di Indonesia, guna memperkuat ketahanan energi nasional berbasis energi terbarukan sekaligus memberdayakan ekonomi kerakyatan melalui pengelolaan limbah yang cerdas.

Baca Juga

Ikuti Kami

[addtoany]

Tags

Tinggalkan komentar