Poros Informasi – Kabar kurang mengenakkan datang dari sektor energi nasional. PT Pertamina Patra Niaga secara resmi telah melakukan penyesuaian harga untuk sejumlah jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi. Kenaikan ini berlaku efektif sejak awal September 2026, memicu pertanyaan di kalangan masyarakat dan pelaku usaha mengenai dampaknya terhadap perekonomian. Perubahan harga ini, yang diumumkan pada 1 dan 2 September, kini menjadi sorotan utama pada Minggu, 13 September 2026, seiring dengan analisis mendalam dari para ekonom.
Rincian Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi

Penyesuaian harga ini menyasar beberapa produk unggulan Pertamina yang umumnya digunakan oleh kendaraan dengan spesifikasi mesin lebih tinggi atau untuk keperluan industri. PT Pertamina Patra Niaga mengonfirmasi bahwa langkah ini merupakan bagian dari evaluasi berkala yang mempertimbangkan fluktuasi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.
Berikut adalah daftar kenaikan harga BBM non-subsidi per 1 dan 2 September 2026:
- Pertamax Turbo: Harga naik dari Rp18.300 per liter menjadi Rp19.600 per liter. Ini menandai kenaikan sebesar Rp1.300 per liter.
- Dexlite: Mengalami kenaikan signifikan dari Rp19.700 per liter menjadi Rp23.700 per liter, melonjak Rp4.000 per liter.
- Pertamina Dex: Harga melambung dari Rp21.150 per liter menjadi Rp25.200 per liter, dengan kenaikan sebesar Rp4.050 per liter.
- Pertamax Green 95: Produk ini juga tidak luput dari penyesuaian, naik Rp2.550 dari Rp16.600 per liter menjadi Rp19.150 per liter.
Dampak Langsung bagi Konsumen dan Sektor Usaha
Kenaikan harga BBM non-subsidi ini tentu berpotensi memberikan tekanan pada anggaran rumah tangga, khususnya bagi mereka yang memiliki kendaraan pribadi dengan konsumsi bahan bakar premium. Lebih jauh, sektor logistik dan transportasi yang banyak bergantung pada BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex kemungkinan akan menghadapi peningkatan biaya operasional. Hal ini bisa saja berimbas pada kenaikan harga barang dan jasa secara keseluruhan, memicu potensi inflasi yang perlu diwaspadai oleh otoritas moneter.
Harga BBM Subsidi dan Pertamax Tetap Stabil
Di tengah gejolak harga BBM non-subsidi, ada kabar baik bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Pertamina menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi, yaitu Pertalite dan Biosolar, tidak mengalami perubahan. Kebijakan ini merupakan upaya pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat luas dan menstabilkan perekonomian di tingkat akar rumput.
- Pertalite: Tetap di angka Rp10.000 per liter.
- Biosolar: Stabil di Rp6.800 per liter.
- Pertamax: Meskipun bukan BBM bersubsidi, harga Pertamax juga tetap bertahan di Rp15.950 per liter, memberikan sedikit kelegaan bagi pengguna setia jenis bahan bakar ini.
Strategi Pertamina dalam Menjaga Keseimbangan Pasar
Stabilitas harga pada jenis BBM bersubsidi dan Pertamax diharapkan dapat meredam dampak kenaikan harga pada produk premium. Keputusan Pertamina untuk menaikkan harga BBM non-subsidi seringkali dipengaruhi oleh dinamika pasar global, seperti fluktuasi harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan biaya operasional. Sebagai badan usaha milik negara, Pertamina memiliki peran ganda: memastikan ketersediaan energi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis. Penyesuaian harga pada produk non-subsidi adalah salah satu strategi untuk menyeimbangkan kedua peran tersebut, sekaligus memastikan pasokan energi tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global.
Situasi terkini menunjukkan adanya diferensiasi kebijakan harga BBM di Indonesia, di mana pemerintah melalui Pertamina berupaya melindungi segmen masyarakat yang paling rentan melalui subsidi, sembari menyesuaikan harga produk premium dengan kondisi pasar global. Ini adalah langkah strategis untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan energi di masa depan.






